Berhati Hatilah dengan Janji

Ayu Muhafilah

Penulis : Ayu Muhafilah

1

0

Religi
1662362023093_1662438570

ilustrasi

SIAPBELAJAR.COM - Kakek penjual jeruk yang sering mangkal di pasar Cicaheum, Bandung Jawa Barat menawarkan dagangannya kepada saya.

"Jeruk A?. Aramis iyeumah A (A mau beli jeruknya,manis manis jeruknya)" kata si Kake dengan bahasa sunda.

"Saya belanja dulu ya Kek, tunggu sebentar, nanti saya balik lagi kesini" ujar saya

"Iya A, kakek tungguin yaa!" sahut si kake

Aku mengunci motor, lalu berjalan dengan sedikit jinjit karena semalam hujan, jadi pasar agak becek.

Setelah belanja, aku langsung pulang. Dalam perjalanan menuju rumah macetnya minta ampun.

Saat di depan pom bensin, aku melihat banyak buah jeruk yang di jajakkan di atas mobil, tiba-tiba aku ingat janjiku pada si kakek penjual buah jeruk tadi.

"Astaghfirullah Aku lupa, mau putar balik, tapi macet"

Pikiranku bercabang, jika tidak balik, bagaimana kalau kakek terus menunggu.

Tapi kalau nunggu pasti lama, si kakek pasti bosan, dan pasti pulang. Gak mungkin tunggu sampai pasar bubar, batinku kemana-mana.

Macet belum juga usai, rasa lapar juga menyerang. Bayangan tua, dengan Topi ,baju yang usang terus menari dipikiranku,

"A, jangan melamun dong, jalaaan, nambahin macet ajaaa!"

Aku terkejut tiba-tiba ada yang menegurku dari belakang, ku tarik gas, ikuti antrian panjang kendaraan. Hatiku belum juga tenang.

Sampai di rumah, istriku menurunkan belanjaan, tiba-tiba Nayla anak ku yang memanggilku " Abi" berlari keluar rumah menghampiriku ia memeriksa belanjaan yang aku bawa.

"Abi gak beli jeruk ya?" kata anak ku

Aku diam, wajah kakek tua yang terbayang, mungkin dia masih menungguku.

"Kakak mau jeruk" aku bilang pada anak ku.

Dia mengangguk, matanya penuh harap. Ya Allah, jika Nayla saja menyiratkan harapan, yang setiap hari bisa makan jeruk, bagaimana dengan kakek, yang jualan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, pasti sangat berharap.

Aku meneguk segelas air, lalu ke kamar mengambil jaket dan masker, dan kacamata hitam.

Motor kupacu, tidak ada lagi macet. Terik matahari mampu menembus tebalnya jaketku. Tapi tidak ku hiraukan. Dipikiranku hanya ada kakek dengan kayu di pundaknya.

Tiba di pasar, hatiku pilu, bagaimana kalau aku tidak kembali, kakek masih duduk menunggu beberapa kilo jeruk yg masih ada di keranjangnya.

"Kek, jeruknya aku borong semua ya"

Aku berjongkok, kurentangkan kantong plastik putih, tangan meraih beberapa jeruk.

"Jangan A, jangan di borong semua, tadi sudah janji sama Aa yang pake motor hitam, dia janji mau balik lagi takutnya dia kesini, nanti dia kecewa! Tadi banyak yang mau beli, sama juga gk di jual" ungkap si kake

Air mataku menetes dibalik kaca mata hitam. Kulepas masker, helm dan kaca mata.

"Kek, maafkan saya, sudah membuat kakek menunggu lama"

kakek terdiam, lalu melihatku dengan seksama, dari kaki hingga kepala.

"Ini Aa yang tadi ya?" Kok Aa berubah" kata kakek penjual jeruk

"Iya, kek maafkan aku tadi aku pulang dulu,kek!"

 Setelah membayar harga buah jeruk, kuselipkan satu lembaran merah di saku bajunya.

"Gak usah, jangan A , kan jeruk sudah diborong semunya" katanya

Tangannya berusaha menahan tangan saya. Tapi tetap kutinggalkan lembaran merah disakunya.

Aku teringat Inilah kenapa salah satu ciri orang munafik menurut Rasulullah saw, adalah jika ia berjanji  ia mengingkarnya. Karena bisa jadi, orang yang di janjkan, benar-benar berharap. Dari sini saja kita bisa menyimpulkan bahwa mengingkari janji termasuk perbuatan dosa dan menunaikannya merupakan perbuatan mulia.

Tag :
ahlak
Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1662362023093_1662438570

Religi

Berhati Hatilah dengan Janji

SIAPBELAJAR.COM - Kakek penjual jeruk yang sering mangkal di pasar Cicaheum, Bandung Jawa Barat menawarkan dagangannya kepada saya."Jeruk A?. Aramis iyeumah A (A mau beli jeruknya,manis manis jeruknya