Mereka dikenal sebagai pelaut tangguh. Bisa lama menyelam di laut dalam tanpa bantuan alat.
SIAPBELAJAR.COM – Suku Bajo. Mereka dikenal sebagai pelaut tangguh. Bisa lama menyelam di laut dalam tanpa bantuan alat. Mereka di antaranya tinggal di Desa Bajo Bahari, Buton, Sulawesi Tenggara.
Keberadaan mereka tidak bisa dilepaskan dengan budaya bahari di Nusantara. Dari dulu hingga sekarang masih bertahan dengan cara hidupnya. Mereka hidup terapung di atas laut. Suku Bajo bertahan dengan mengembangkan budaya bahari dan maritim yang terus berkesinambungan. Mereka lahir dan besar di laut. Sejak bayi sudah akrab dengan laut.
Tokoh Adat Desa Bajo Bahari, Si Muswar
mengatakan bahwa Suku Bajo sejak dulu terkenal sebagai pengembara laut.
"Nenek moyang Suku Bajo menggantungkan hidupnya di laut, bahkan dulu
ketika belum punya rumah, mereka tinggal di atas perahu sope," ujarnya,
dalam satu kesempatan.
Seiring perkembangan zaman, mereka mulai membangun rumah-rumah panggung sebagai tempat tinggal di atas permukaan laut dan menetap di kawasan ini. Meski kini arsitektur rumah sudah lebih modern, tetapi masih ada beberapa rumah asli dari Suku Bajo yang bisa dilihat di desa ini.
Baca juga: Kementerian ESDM: Penyesuaian Tarif Listrik Bukanlah Sesuatu yang Haram
Sebagian rumah di Desa Bajo Bahari Buton menggunakan kayu bakau yang menancap ke dalam dasar laut sebagai material tiang penopang rumah.
Si Muswar mengatakan, Suku Bajo bermata pencaharian sebagai nelayan dengan perahu yang dibuat sendiri oleh mereka. Berbekal ilmu melaut yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang Suku Bajo, mereka bisa melaut menyeberangi pulau-pulau besar dengan hasil pencaharian utama, yakni ikan laut.
Meski begitu, mereka melaut tidak menentu sebab menyesuaikan dengan cuaca. Selain ikan laut, agar-agar rumput laut menjadi alternatif untuk menambah penghasilan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Diombang Ambing Negara
Cerita tentang Suku Bajo tidak melulu tentang kehidupannya di laut, tapi ada hal lain yang jadi perhatian banyak mata. Bukan hanya di Indonesia, Suku Bajo juga ada di perairan Sabah, Malaysia, dan Mindanao Filipina.
Pada 2014 lalu, lebih dari 500 orang Suko Bajo ditangkap Polda Kalimantan Timur. Mereka dianggap warga asing dan melalukan penangkapan ikan secara ilegal. Di Indonesia tidak diakui, pun demikian di Malaysia dan Filipina.
Mereka bisa menjadi warga negara asal tinggal di daratan. Untuk mengajak mereka tinggal di daratan, beragam cara dilakukan. Dipaksa atau diintimidasi. Apapun ditempuh agar mereka punya legalitas identitas, seperti KTP.
Trending
Seniraga
05 April 2026 - 21:19 wib
05 April 2026 - 18:33 wib
05 April 2026 - 16:22 wib
05 April 2026 - 09:13 wib
05 April 2026 - 09:11 wib