Setelah menjadi sekolah penggerak, capaian hasil belajar dari penilaian akhir semester siswa meningkat signifikan
SIAPBELAJAR.COM - Andi Fahri, guru di SMA Plus Budi Utomo Makassar, punya pengalaman
tersendiri pada program Guru Penggerak yang dibesut Kemendikbudristek. Guru mata
pelajaran kimia itu semula tak antusias, bahkan sempat skeptis dan memandang
remeh program Guru Penggerak. Apalagi harus mengikuti pendidikan selama sembilan
bulan.
Kendati begitu, pria yang akrab disapa Fahri itu mengaku penasaran dengan program tersebut, sehingga ia memutuskan untuk mencoba ikut. Salah satu alasannya, ia ingin memastikan bahwa di dalam guru penggerak, metode yang ditonjolkan adalah keberpihakan pada murid.
Ia akhirnya mengikuti rangkaian tes guru penggerak. Selama tes, banyak kendala yang ditemui dan hampir memutuskan motivasinya untuk terus melanjutkan program.
“Saat tes bakat skolastik, misalnya, saya sedang di daerah, karena ada teman
menikah. Saya menghadapi kendala jaringan. Akhirnya saya perlu waktu lama untuk
menyelesaikan tes, tapi akhirnya berhasil,” tutur Fahri saat bercerita di SMA
Plus Budi Utomo, Makassar, Sulawesi Tengah, Rabu (22/6).
Motivasinya muncul lagi saat tes wawancara. Setiap informasi yang ia terima mulai mengubah cara pandangnya sebagai seorang guru, bahwa seharusnya guru itu menuntun bukan menuntut siswa untuk bisa. Akhirnya Fahri lulus sebagai guru penggerak angkatan pertama, menjadi satu dari 21 guru penggerak dari Sulawesi Selatan.
Provokasi Kepala Sekolah
Berhasil jadi guru penggerak, Fahri memprovokatori Kepala SMA Plus Budi Utomo, Dede Nurohim, untuk menjadi guru sekaligus kepala sekolah penggerak. Sama seperti Fahri, awalnya Dede pun tak antusias. Apalagi saat menghubungi rekan-rekannya sesama kepala sekolah lain, responsnya kurang positif.
Dede tetap melanjutkan proses seleksi satu demi satu. Pada tes pertama, ia diminta menuliskan esai yang terkait dengan pekerjaan sehari-hari yang bertema manajerial.
“Saya tidak merasa pertanyaan itu sulit, karena memang sudah dilakukan setiap hari,” katanya.
Lulus di tahap pertama, Dede pun lanjut ke tes berikutnya yaitu praktik mengajar, yang juga bisa dilaluinya dengan baik. Baru saat tes ketiga, yaitu wawancara, Dede menemukan bahwa esai yang ditulisnya di tes awal ditanyakan kembali dan ia harus menjelaskannya dengan baik. “Karena esainya saya tulis sendiri, saya bisa dengan mudah menyelesaikan tes wawancara,” terang Dede.
Ketertarikan Dede pada program guru penggerak dan semakin ingin agar sekolahnya menjadi sekolah penggerak dikarenakan program tersebut sesuai dengan visi misi SMA Plus Budi Utomo.
Sekolah semi pesantren berasrama ini telah menerapkan pendidikan karakter seperti kemandirian, gotong royong, dan lain sebagainya, sebelum adanya program guru penggerak.
Capaian Pembelajaran yang Positif
Selaku kepala sekolah, Dede merasakan manfaat sekolah penggerak dari meningkatnya motivasi dan capaian pembelajaran siswa. Apalagi setelah adanya kurikulum merdeka, pelaksanaan sekolah penggerak semakin selaras.
Ia menyebut telah melakukan asesmen baik kognitif maupun nonkognitif kepada siswa yang menggunakan kurikulum merdeka.
“Kita berorientasi pada kebutuhan siswa, jadinya anak-anak lebih enjoy dalam belajar. Kita asesmen kognitif terlebih dahulu, jadi guru sudah tau pemetaan kompetensi siswanya. Lalu asesmen nonkognitif juga kita lakukan, jadi tau latar belakang sosial dan budaya. Dari hasil asesmen, kita lakukan pemetaan,” terang Dede.
Hasil pemetaan, kata Dede, memberi gambaran di fase mana kompetensi siswa saat itu, jadi guru yang menyesuaikan siswa. Dan dari hasil asesmen pun terlihat bahwa kemampuan anak untuk menyerap pembelajaran berbeda-beda, tergantung media yang digunakan.
“Ada anak yang visual, ada yang audio, dan ada yang kinestetik.
Setelah tahu, guru bisa menggunakan beragam alat bantu supaya siswa bisa maksimal
belajarnya. Jadi kita itu fasilitator,” urai Dede.
Setelah menjadi sekolah penggerak dan menggunakan kurikulum merdeka, Dede mengaku capaian hasil belajar dari penilaian akhir semester siswa meningkat signifikan. Begitu juga motivasi siswa untuk belajar terlihat semakin tinggi.
“Dulu siswa sering tidak hadir di kelas, sekarang 95 persen hadir
setiap hari kecuali kalau sedang sakit. Kurikulum merdeka ini sangat efektif,
itu pendapat saya,” pungkasnya. ***
Saintek
Saintek
Saintek
Saintek
Saintek
12 April 2026 - 20:13 wib
05 April 2026 - 21:05 wib
05 April 2026 - 16:34 wib
05 April 2026 - 16:33 wib
05 April 2026 - 16:32 wib