Sejak muda, Fudail bin Iyadh memiliki sifat yang berani, cerdas, dan berwibawa. Namun, ia juga memiliki sifat yang kasar, keras, dan suka berkelahi. Ia tidak tertarik dengan ilmu agama atau dunia, tetapi lebih senang dengan kehidupan yang bebas dan liar.
Ia pun menjadi seorang perampok yang sering menghadang para pedagang dan saudagar yang lewat di jalan antara Abiwarda dan Sarkhas. Ia bersama dengan kelompoknya tidak segan-segan untuk membunuh, merampas, dan merusak harta benda orang lain. Ia juga tidak takut dengan hukum atau penguasa.
Meskipun demikian, ia masih memiliki sisa-sisa keimanan di hatinya. Ia masih menjalankan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan tidak menzalimi wanita. Ia juga masih menghormati orang-orang tua dan ulama.
Pada suatu malam, ketika ia sedang memanjat tembok rumah wanita pujaannya, ia mendengar suara orang yang sedang membaca Al-Qur’an dengan suara merdu. Ayat yang dibacanya adalah:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid: 16)
Ketika mendengar ayat tersebut, hati Fudail bin Iyadh terguncang. Ia merasa bahwa ayat tersebut ditujukan khusus untuknya. Ia pun berkata dalam hati: “Ya Allah, sungguh telah datang waktunya bagiku untuk bertaubat kepada-Mu.”
Ia pun meninggalkan niatnya untuk menemui wanita tersebut dan kembali ke tempatnya. Di tengah jalan, ia melihat sebuah rumah yang kosong dan memutuskan untuk bermalam di sana.
Di rumah tersebut, ia mendengar percakapan antara dua orang saudagar yang sedang beristirahat. Salah seorang dari mereka berkata: “Mari kita berangkat sekarang.” Yang lainnya berkata: “Tidak, mari kita tunggu sampai pagi. Karena di jalan ada Fudail bin Iyadh yang suka merampok orang.”
Ketika mendengar nama dirinya disebut-sebut dengan nada takut dan benci, Fudail bin Iyadh merasa malu dan sedih. Ia pun berkata dalam hati: “Aku berusaha keras di malam hari untuk melakukan dosa-dosa, sedangkan orang-orang ini takut kepadaku dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tidak mungkin Allah mengirimku ke sini kecuali untuk memberiku peringatan. Ya Allah, aku bertaubat kepada-Mu dan aku berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan burukku lagi.”
Di tanah suci, ia berguru kepada ulama-ulama besar seperti Ibrahim bin Adham, Sufyan bin Uyainah, Malik bin Dinar, dan lain-lain. Ia juga banyak belajar dari Al-Qur’an, Hadits, dan kisah-kisah para salaf. Ia menjadi seorang ahli fiqih, ahli tafsir, ahli hadits, dan ahli tasawuf.
Ia juga menjadi seorang ahli ibadah yang tekun dan khusyuk. Ia banyak menghabiskan waktunya dengan shalat, puasa, dzikir, tilawah, dan doa. Ia juga banyak bersedekah, membantu orang miskin, dan menasehati orang lain.
Ia juga menjadi seorang yang rendah hati, sabar, tawakkal, dan ikhlas. Ia tidak peduli dengan pujian atau celaan orang lain. Ia juga tidak takut dengan ancaman atau godaan dunia. Ia hanya mengharapkan ridha Allah SWT.
Di antara karya tulisnya adalah kitab “Al-Irshad ila Qawati’il al-Adab fi al-Siyar wa al-Mu’amalah ma’a al-Khalq”. Kitab ini berisi tentang adab-adab dalam berperilaku dan bermuamalah dengan sesama manusia.
Di antara ucapan-ucapan hikmahnya adalah:
Demikianlah kisah seorang sufi yang bernama Fudail bin Iyadh. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisahnya dan meneladani akhlaknya. Mediana.id
Religi
Religi
Religi
Religi
Saintek
08 February 2024 - 11:35 wib
07 February 2024 - 01:53 wib
06 December 2023 - 07:35 wib
06 November 2023 - 15:27 wib
06 November 2023 - 12:05 wib