Fudail bin Iyadh : Perampok yang Bertaubat dan Menjadi Seorang Sufi

A. Fateeh

Penulis : A. Fateeh
Editor : A. Fateeh

0

0

Religi
1687529690554_1687529769

Sufi Fudail bin Iyadh

Mediana.id - Fudail bin Iyadh adalah seorang sufi dan ulama yang terkenal dengan ketaqwaan, kezuhudan, dan kecintaannya kepada Allah SWT. Namun, sebelum ia menjadi seorang sufi dan ulama, ia adalah seorang perampok yang ganas dan ditakuti oleh banyak orang. Bagaimana kisah hidupnya yang penuh dengan liku-liku dan perubahan yang luar biasa? Berikut adalah kisah seorang sufi yang bernama Fudail bin Iyadh.

Latar Belakang

Fudail bin Iyadh lahir di Samarqand pada abad ke-2 Hijriah. Ia memiliki nama lengkap Al-Fudail ibn 'Iyad ibn Bishr ibn Mas’ud Abu 'Ali at-Tamimi al-Yarbu’i al-Khurasani. Ia berasal dari suku Banu Tamim dan tinggal di Khurasan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia juga pernah tinggal di Merv, Mosul, dan Balkh.

Sejak muda, Fudail bin Iyadh memiliki sifat yang berani, cerdas, dan berwibawa. Namun, ia juga memiliki sifat yang kasar, keras, dan suka berkelahi. Ia tidak tertarik dengan ilmu agama atau dunia, tetapi lebih senang dengan kehidupan yang bebas dan liar.

Ia pun menjadi seorang perampok yang sering menghadang para pedagang dan saudagar yang lewat di jalan antara Abiwarda dan Sarkhas. Ia bersama dengan kelompoknya tidak segan-segan untuk membunuh, merampas, dan merusak harta benda orang lain. Ia juga tidak takut dengan hukum atau penguasa.

Meskipun demikian, ia masih memiliki sisa-sisa keimanan di hatinya. Ia masih menjalankan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan tidak menzalimi wanita. Ia juga masih menghormati orang-orang tua dan ulama.

Kisah Taubat Fudail bin Iyadh

Suatu hari, Fudail bin Iyadh jatuh cinta dengan seorang wanita cantik yang tinggal di dekat tempatnya. Ia sering mengirimkan hadiah-hadiah dari barang-barang rampokannya kepada wanita tersebut. Ia juga sering memanjat tembok rumah wanita tersebut untuk menemuinya.

Pada suatu malam, ketika ia sedang memanjat tembok rumah wanita pujaannya, ia mendengar suara orang yang sedang membaca Al-Qur’an dengan suara merdu. Ayat yang dibacanya adalah:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid: 16)

Ketika mendengar ayat tersebut, hati Fudail bin Iyadh terguncang. Ia merasa bahwa ayat tersebut ditujukan khusus untuknya. Ia pun berkata dalam hati: “Ya Allah, sungguh telah datang waktunya bagiku untuk bertaubat kepada-Mu.”

Ia pun meninggalkan niatnya untuk menemui wanita tersebut dan kembali ke tempatnya. Di tengah jalan, ia melihat sebuah rumah yang kosong dan memutuskan untuk bermalam di sana.

Di rumah tersebut, ia mendengar percakapan antara dua orang saudagar yang sedang beristirahat. Salah seorang dari mereka berkata: “Mari kita berangkat sekarang.” Yang lainnya berkata: “Tidak, mari kita tunggu sampai pagi. Karena di jalan ada Fudail bin Iyadh yang suka merampok orang.”

Ketika mendengar nama dirinya disebut-sebut dengan nada takut dan benci, Fudail bin Iyadh merasa malu dan sedih. Ia pun berkata dalam hati: “Aku berusaha keras di malam hari untuk melakukan dosa-dosa, sedangkan orang-orang ini takut kepadaku dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tidak mungkin Allah mengirimku ke sini kecuali untuk memberiku peringatan. Ya Allah, aku bertaubat kepada-Mu dan aku berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan burukku lagi.”

Perubahan Hidup

Setelah bertaubat, Fudail bin Iyadh mengubah hidupnya secara total. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai perampok dan memilih untuk hidup sederhana dan zuhud. Ia juga memutuskan untuk hijrah ke tanah suci Mekah dan Madinah untuk menuntut ilmu agama dan beribadah.

Di tanah suci, ia berguru kepada ulama-ulama besar seperti Ibrahim bin Adham, Sufyan bin Uyainah, Malik bin Dinar, dan lain-lain. Ia juga banyak belajar dari Al-Qur’an, Hadits, dan kisah-kisah para salaf. Ia menjadi seorang ahli fiqih, ahli tafsir, ahli hadits, dan ahli tasawuf.

Ia juga menjadi seorang ahli ibadah yang tekun dan khusyuk. Ia banyak menghabiskan waktunya dengan shalat, puasa, dzikir, tilawah, dan doa. Ia juga banyak bersedekah, membantu orang miskin, dan menasehati orang lain.

Ia juga menjadi seorang yang rendah hati, sabar, tawakkal, dan ikhlas. Ia tidak peduli dengan pujian atau celaan orang lain. Ia juga tidak takut dengan ancaman atau godaan dunia. Ia hanya mengharapkan ridha Allah SWT.

Kematian

Fudail bin Iyadh meninggal dunia pada tahun 187 H (803 M) di Mekah. Ia dimakamkan di Ma’la, dekat dengan makam Khadijah binti Khuwailid. Ia meninggalkan banyak karya tulis dan ucapan-ucapan hikmah yang bermanfaat.

Di antara karya tulisnya adalah kitab “Al-Irshad ila Qawati’il al-Adab fi al-Siyar wa al-Mu’amalah ma’a al-Khalq”. Kitab ini berisi tentang adab-adab dalam berperilaku dan bermuamalah dengan sesama manusia.

Di antara ucapan-ucapan hikmahnya adalah:

  • “Barangsiapa yang mencintai Allah, maka ia akan mencintai Al-Qur’an. Barangsiapa yang mencintai Al-Qur’an, maka ia akan mencintai Rasulullah SAW. Barangsiapa yang mencintai Rasulullah SAW, maka ia akan mencintai sunnahnya.”
  • “Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi hati seorang munafik daripada mendengar Al-Qur’an. Tidak ada sesuatu yang lebih ringan bagi hati seorang mukmin daripada mendengar Al-Qur’an.”
  • “Tidak ada sesuatu yang lebih dekat kepada Allah daripada hati seorang mukmin. Tidak ada sesuatu yang lebih jauh dari Allah daripada hati seorang munafik.”
  • “Tidak ada sesuatu yang lebih indah daripada wajah seorang mukmin yang tersenyum karena Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih jelek daripada wajah seorang munafik yang cemberut karena Allah.”
  • “Tidak ada sesuatu yang lebih manis daripada lisan seorang mukmin yang berdzikir kepada Allah. Tidak ada sesuatu yang lebih pahit daripada lisan seorang munafik yang berdusta kepada Allah.”

Demikianlah kisah seorang sufi yang bernama Fudail bin Iyadh. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisahnya dan meneladani akhlaknya. Mediana.id

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1689297670975_1689297686

Religi

Imam Al-Ghazali Sejarah Hidup Karya dan Nasihat-Nasihatnya

Mediana.id - Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, filsuf, dan sufi muslim Persia yang lahir pada tahun 1058 M atau 450 H di Thus, Iran. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka dan berpengaruh d
1688127557308_1688127568

Religi

Jalaludin Rumi Sang Sufi Sekaligus Penyair Besar yang Melegenda

Mediana.id - Jalaludin Ar Rumi adalah seorang penyair sufi Persia yang lahir pada 30 September 1207 di Balkh (sekarang Samarkand), Persia Raya. Ia adalah seorang teolog Maturidi, ulama, dan guru yang
1687529690554_1687529769

Religi

Fudail bin Iyadh : Perampok yang Bertaubat dan Menjadi Seorang Sufi

Mediana.id - Fudail bin Iyadh adalah seorang sufi dan ulama yang terkenal dengan ketaqwaan, kezuhudan, dan kecintaannya kepada Allah SWT. Namun, sebelum ia menjadi seorang sufi dan ulama, ia adalah se
1680576933887_1680576950

Religi

Burung Pipit, Pengampunan, dan Jaminan Istana di Surga untuk Umar RA

SIAPBELAJAR.COM - Di antara sahabat Nabi Muhammad yang akrab dengan julukan Amirul Mukminin adalah Umar bin Al-Khattab bin Nufail bin Adi bin ‘Abdul Uzza bin Riyah bin ‘Abdullah bin Qurth bin Raza
1671683651269_1671683666

Saintek

Pantang Menyerah Gapai Prestasi Tertinggi  

SIAPBELAJAR.COM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) dan Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI) menyelenggar