SIAPBELAJAR.COM - Tidak mampu berkomunikasi dengan sempurna merupakan ciri khas yang membuat penyandang tunarungu berbeda dengan kebanyakan orang, mereka harus berusaha lebih keras untuk bisa mengerti bahasa yang diucapkan oleh orang lain akibat kurang berfungsinya pendengaran.
Anak tunarungu mengalihkan pengamatannya kepada mata,dari mata mereka menjalin komunikasi dan berinteraksi satu sama lain dalam senyap.
Melalui pandangan mata penyandang tunarungu memahami bahasa lisan orang lain dan mereka meresponnya melalui bahasa isyarat. Tetapi, di luar bahasa isyarat yang mereka cetuskan dan gunakan sendiri, ada bahasa bahasa isyarat yang harus dipelajari.
Namun, tidak semua penyandang tunarungu bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang difahami oleh banyak orang, karena jumlah orang yang mengerti bahasa isyarat diantara kita jumlahnya sedikit.
“Awalnya kami kesulitan menyikapinya, ketika kami tahu bahwa anak kami ternyata berbeda dengan yang lain. Tapi, lambat laun kami mulai terbiasa mengamati gerak-geriknya, sehingga satu sama lain kita bisa mengerti. Yang saya khawatirkan adalah pendidikan agamanya, karena jarang ada sekolah yang sedetail ini mengajari penyandang tunarungu dalam masalah agama,” ungkap Suparman kepada siapbelajar.com, orang tua siswi Madrasah Tunarungu, Assabikunal Awwalun Panglayungan Kota Tasikmalaya Jawa Barat,Minggu (21/8)
Adalah Yadi Mulyadi, warga Kota Tasikmalaya yang kini berjibaku dengan puluhan siswa Tunarungu, sejak beberapa tahun terakhir ia mengenalkan bahasa isyarat dan mengajarkan Alphabet, huruf Hijaiyyah, hafalan ayat-ayat Alquran, tata cara sholat dan ilmu fiqih lainnya, serta segala hal yang berhubungan dengan ilmu agama.
Tak hanya itu, ia pun bersama istrinya mencoba mengajarkan berbagai keterampilan, bahkan mengajarkan jiwa kewirausahaan.
“Suatu hari saya tergerak untuk melakukan sesuatu agar anak-anak tunarungu ini mengenal Tuhannya, mereka tahu siapa yang mereka sembah. Sekolah tunarungu ini lahir dari kerisauan dan kegelisahan saya. Bagaimana bisa mereka tahu ilmu agama, bacaan sholat jika tak ada yang mengajarinya secara khusus,” kata Yadi, Ihwal latar belakang yayasan yang dikelolanya.
Agustusan dalam Sunyi, Hambatan Bukan Masalah
Penyandang tunarungu, seperti juga warga negara lainnya, punya hak yang sama untuk ikut berpatisipasi di bidang apa pun. Indonesia memiliki teman tuli atau tunarungu dari berbagai bidang yang menyuarakan kesetaraan hak difabel pendengaran melalui cara yang berbeda, dari olah raga, seni hingga sinematografi.
Sebut saja Panji Surya Putra Sahetapy. Ia adalah seorang aktivis, aktor, dan pembuat film Indonesia yang telah memiliki berbagai prestasi. Surya membuat film pendek bertajuk Silent in Sound, film pendek ini pernah diputar di Festival Film Tuli Internasional Shanghai (SHIDFF) pada 2018 silam.
Selintas tentang Panji Surya, ia mengalami gangguan pendengaran sejak kecil, mengalami tekanan menjadi tunarungu atau tuli karena dididik untuk seperti orang normal.
Namun, ia terus belajar hingga perguruan tinggi. Ia pernah berkuliah di Universitas Sampoerna, Jakarta Selatan. Kemudian, ia sekolah di Rochester Institute of Technology (RIT), National Technical Institute for the Deaf di Amerika Serikat. Ia lulus dari RIT dengan predikat cum laude.
Nyatanya, hambatan pendengaran bukanlah alasan yang membatasi keikutsertaannya melalui proses sosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berinteraksi antara keluarga dengan tunarungu dan sebaliknya juga tunarungu dengan masyarakat sekitar.
Cara-cara berinteraksi tunarungu terlihat menggunakan sentuhan dan berlangsung secara tatap muka saat berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Suasana Agustusan tahun 2022 bagi penyandang tunarungu di Madrasah Tunarungu Assabikunal Awwalun, Kota Tasikmalaya nampak meriah dan ada keseruan seperti halnya lomba-lomba Agustusan pada umumnya.
“Ya, biarpun seru dan ramai. Bagi mereka tetap sunyi, Kang,” kata Wahyu, warga Kota Tasikmalaya yang turut hadir menyaksikan perlombaan sederhana yang telah dimodifikasi sedemikian rupa agar para penyandang tunarungu ini turut merasakan bagaimana keseruan perlombaan pada peringatan HUT RI ke 77 ini.
Berpindah tempat
Karena satu dan lain hal, Madrasah Assabikunal Awwalun harus berpindah tempat, yang awalnya berlokasi di Bungursari, kini menempati sebuah rumah yang disewa dengan harga 2juta perbulannya di Jalan Bougenville, kawasan Pondok Karisma Residence, Kota Tasikmalaya.
“Sekarang kami ada di sini, rumah ini kami fungsikan sebagai Madrasah untuk belajar dan berbagai kegiatan, bahkan nantinya juga ada yang mondok di sini jika ada kajian agama yang dilakukan malam hari,” ungkap Yadi.
Ketika ditanya dari mana pendanaan untuk kegiatan madrasah tersebut Yadi mengungkap bahwa delapan puluh persen berasal dari dana pribadinya, selebihnya merupakan partisipasi para donatur dan orang tua siswa-siswi madrasah.
“Iya, saya juga bingung! Bagaimana pak Ustadz Yadi ini membiayai semuanya? makanya saya juga sedang berpikir bagaimana saya bisa membantu mereka meski tidak dengan uang,” kata Suparman, orang tua dari Salsabilla, difabel tuna rungu.
Pria asal Tasikmalaya yang bertugas sebagai tentara di Angkatan Udara ini rupanya ikut gundah memikirkan biaya operasional yayasan. Sementara, menurut Suparman sosok seperti Yadi memerlukan dukungan dari berbagai kalangan, karena para difabel tuli jarang mendapat perhatian khusus.
“Di
Tasikmalaya ini, menurut data dari Dinas Sosial tunarungu itu sekitar lima ratusan.”
Ujar Yadi.
Berbagai program pembelajaran yang dilaksanakan setiap harinya secara berkala di Madrasah Tunarungu Assabikunal Awwalun antara lain:
1. Madrasah Diniyah Khusus Tunarungu; dengan materi Alquran Isyarat, Adab-adab Sunnah, Tauhid, Hadits Fadillah, Fikih dan Kisah-kisah Sahabat Nabi SAW.
2. Majlis Taklim Khusus Tunarungu; Setiap Minggu jam 9.00 Pagi hingga menjelang Dzuhur.
3.Majelis Malam Khusus Tunarungu
4.Balai Pelatihan; Karya Rumah Sunyi, Pelatihan Pembekalan Pranikah & Pelatihan Kerja.
Alamat: Jalan Bougenville, Pondok Karisma Residence, Kota Tasikmalaya (Belakang TransMart, Kota Tasikmalaya).
Contact: Ust. Yadi Mulyadi WA: wa.me/6852-9418-9087
Share and Care
Trending
Trending
Seniraga
Seniraga
05 April 2026 - 21:06 wib
10 August 2023 - 12:55 wib
10 August 2023 - 10:17 wib
10 August 2023 - 10:13 wib
10 August 2023 - 10:10 wib