Yadi Mulyadi, pegiat lingkungan dalam sebuah kegiatan tadabur alam di loikasi perkebunan kopi Karaha Bodas
SIAPBELAJAR.COM - Menjelang hari lingkungan hidup yang jatuh pada Minggu, 5 Juni mendatang, sudah sepantasnya kita sebagai mahluk penghuni bumi ini memperhatikan lingkungan hidup kita agar senantiasa menjadi lingkungan hidup yang harus selalu baik untuk ditinggali.
Lingkungan Hidup sebagai hal yang vital bagi manusia memang patut mendapat perhatian lebih dibanding aspek lainnya, dikarenakan lingkungan memiliki dampak yang besar terhadap keberlangsungan hidup manusia. Lingkungan yang baik dan sehat tentu akan memberi dampak yang positif untuk manusia, begitu juga sebaliknya.
Oleh sebab itulah wajar jika ada banyak gerakan yang mendorong perbaikan terhadap lingkungan, diantaranya gerakan kurangi sampah plastik, gerakan menaman pohon, gerakan bersih sungai dan lainlain.
“Jangan buang sampah sembarangan! Itu mengesalkan!” kata Deadpool dalam sebuah scene film basic marvel yang berjudul sama di tahun 2016.
Kata-kata tersebut sengaja disisipkan oleh penulis ceritanya berdasarkan riset di beberapa kebudayaan ternyata masih saja banyak yang tidak menyadari pentingnya lingkungan yang bersih melalui realisasi yang sangat sederhana, yakni membuang sampah pada tempatnya.
Baca Juga : Astra Tanam Ribuan Pohon Jelang Hari Lingkungan Hidup 5 Juni
“Jangankan memilah mana sampah organik dan non organik. Disiplin membuang sampah di tempatnya pun belum bisa,” ucap Yadi Mulyadi, warga kampung Sunia, Cikunir, Singaparna Tasikmalaya (1/6) kepada siapbelajar.com.
“Apa susahnya memisahkan antara plastik dan sampah-sampah yang bisa membusuk dengan sendirinya, yang masih bisa didaur ulang ya kumpulin, jual ke rongsok kan masih ada nilainya.” Imbuh pemuda yang menjabat ketua rukun tetangga di kampungnya.
Permasalahan lingkungan menjadi perhatian dan kekhawatiran masyarakat yang menyadari pentingnya lingkungan hidup tertata dengan baik, terlebih ketika populasi manusia semakin banyak dan menghasilkan sampah rumah tangga dalam jumlah besar setiap harinya, bahkan berdasarkan data pada tahun 2017 saja Indonesia menghasilkan 175.000 ton sampah rumah tangga setiap harinya.
“Aksi peduli lingkungan itu harus terus digaungkan, terutama untuk mengurangi penggunaan sampah plastik dan sejenisnya, dalam berberapa tahun terakhir terlihat juga aksinya di media sosial, tetapi jangan berhenti di sana, ada tindak lanjutnya,” kata Yadi.
Tujuannya, untuk menyebarkan kesadaran bahwa masyarakat punya peran yang sangat penting dalam menangani masalah lingkungan.
Latar Belakang
Permasalahan lingkungan pun menjadi perhatian internasional pada saat kalangan Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadakan peninjauan terhadap hasil-hasil gerakan Dasawarsa Pembangunan Dunia ke-1 (1960-1970), guna merumuskan strategi Dasawarsa Pembangunan Dunia ke-2 (1970-1980) seperti dilansir dari laman Pusat Pengendalian Ekoregion Jawa KLHK.
Di laman tersebut tertulis bahwa dalam pengantar laporan yang disampaikan oleh U Thant (Sekretaris Jenderal PBB), dinyatakan: “…untuk pertama kali dalam sejarah umat manusia telah terjadi krisis dengan jangkauan seluruh dunia, termasuk baik negara maju dan negara berkembang, mengenai hubungan antara manusia dan lingkungannya.
Tanda-tanda ancaman telah dapat dilihat sejak waktu yang lama: ledakan penduduk, integrasi yang tidak memadai antara teknologi yang amat kuat dengan keperluan lingkungan, kerusakan lahan budidaya, pembangunan tidak berencana dari kawasan perkotaan, menghilangnya ruang terbuka dan bahaya kepunahan yang terus bertambah mengenai banyak bentuk kehidupan satwa dan tumbuhan.
Tidak ada kesangsian bahwa apabila proses ini berlangsung terus maka kehidupan yang akan datang di bumi ini akan terancam (Hardjasoemantri, 1999).”
Bisa dikatakan kondisi lingkungan pada masa 1960an hingga 1970an sangat memprihatinkan dan menimbulkan kekhawatiran masyarakat dunia. Tidak lagi berpusat pada daerah yang meiliki masalah lingkungan, melainkan nyaris seluruh dunia merasakannya.
Salah satu masalah lingkungan yang merebak kala itu adalah wabah penyakit Minamata yang menyerang negara Jepang. Minamata sendiri merupakan sindrom yang merusak fungsi saraf.
Di wilayah Eropa sendiri terjadi kabut asap yang berdampak buruk terhadap kesehatan. Asap tersebut diperkirakan merupakan dampak yang ditimbulkan pembakaran hutan di berbagai wilayah untuk pembangunan pada kisaran tahun 1960.
Meski dampaknya tidak serta merta, tetapi akibat yang ditimbulkan benar-benar sangat mempengaruhi kondisi kesahatan masyarakat.
Dan dari sanalah latar belakang Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu dicanangkan. Mari jaga dan rawat lingkungan hidup kita menjadi lebih baik dengan melakukan hal-hal sederhana yang mampu menyingkirkan madharatnya.
Setuju Sahabat siapbelajar.com?
Saintek
Share and Care
Share and Care
Saintek
Share and Care
05 April 2026 - 21:06 wib
10 August 2023 - 12:55 wib
10 August 2023 - 10:17 wib
10 August 2023 - 10:13 wib
10 August 2023 - 10:10 wib