Mengenal Metode Amtsilati

Ayu Muhafilah

Penulis : Ayu Muhafilah

0

0

Religi
1653906094936_1653906118

Mengenal Metode Amtsilati, Gambar Ilustrasi

Tidak sembarang orang mampu membaca Kitab Kuning, diperlukan ilmu khusus untuk dapat membacanya. Ilmu itu disebut dengan ilmu alat, yakni ilmu Nahwu dan Sharaf. Untuk mempelajarinya memerlukan waktu panjang

Seiring perkembangan zaman dengan meningkatnya kualitas pendidikan di negeri ini. Para pegiat pendidikan terus berinovasi salah satunya ditemukannya belajar kitab kuning cepat yang tadinya belajar bisa bertahun-tahun dengan metode ini santri hanya perlu belajar beberapa bulan tanpa mempengaruhi kualitas belajar itu sendiri

KH. Taufiqul Hakim dari Jepara Jawa Tengah, salah satu kiai di Indonesia yang telah berhasil menemukan metode cara cepat membaca kitab kuning yaitu metode Amtsilati.

Dari informasi yang didapat siapbelajar.com tentang KH. Taufiqul Hakim, ia merupakan santri KH. Sahal Mahfudz dan KH. Salman Dahlawi di Mathali’ul Falah, Pati atau dikenal dengan pondok Kajen. Setelah lulus dari Kajen, beliau mengajak teman-teman seangkatan di Mathali’ kurang lebih empat orang untuk berjuang mensyiarkan agama Islam di kediaman beliau; Bangsri, Jepara.

Bersama empat orang kawannya tadi, KH. Taufiqul Hakim mendirikan majelis taklim anak-anak kecil hingga mencapai 100 anak yang bertempat di rumah tetangga yang dipinjamkan untuk didiami para santri.

Baca juga : Lansia Tunggal di Indonesia Terbanyak Ada di Tasikmalaya

Tercipta Nama Amtsilati

Seiring dengan berjalannya waktu, berdirilah gubuk-gubuk yang sangat sederhana yang berada di sekitar kediaman beliau. Sampai akhirnya beliau mendengar ada metode pembelajaran cara cepat membaca Al-Qur’an, yaitu Qiraati.

Terdorong dari metode Qiraati tersebut, yang mengupas tuntas cara cepat membaca yang berharakat, beliau berinisiatif menciptakan metode cara cepat (membaca tulisan Arab) yang tidak berharakat. Maka terciptalah nama “Amtsilati” yang berarti “beberapa contoh dari saya.”

Pada tanggal 27 Rajab tahun 2001 beliau mulai merenung dan muncul pemikiran untuk bermujahadah hingga akhirnya beliau bermujahadah setiap hari secara terus menerus sampai tanggal 17 Ramadan.

Terkadang beliau ke makam Syekh Mutamakkin Pati, di situ beliau seakan-akan berjumpa dengan Syekh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi, Syekh Ahmad Mutamakkin, dan Imam Ibnu Malik (pengarang Nadzam Alfiyah Ibnu Malik 1002 bait) dalam keadaan setengah tidur dan setengah sadar hingga terdapat dorongan yang sangat kuat untuk menulis.

Setiap hari beliau terus mengikuti dorongan tersebut sampai akhirnya pada tanggal 27 Ramadan 2001 yang bertepatan dengan Nuzulul Qur’an terselesaikanlah Amtsilati dalam bentuk tulisan tangan yang tertulis hanya dalam waktu sepuluh hari.

Sehingga, pada tanggal 27 Ramadan tahun 2001, metode Amtsilati; cara cepat membaca kitab kuning ditemukan oleh beliau yang materi utamanya adalah dari nazam Alfiyah Ibnu Malik yang ada 1002 bait itu. Di mana sejak semasa KH. Taufiqul Hakim belajar Alfiyah, beliau memang sudah mengumpulkan sekitar 150 bait nazam Alfiyah yang menjadi intisari dari belajar ilmu nahwu itu sendiri beserta dengan contoh-contohnya.

Metode Amtsilati yang Diakui dan Dipakai Oleh Ratusan Lembaga

Pada tanggal 16 Juni 2002 sebagai follow up terciptanya metode Amtsilati, KH. Taufiqul Hakim pun menggelar bedah buku Amtsilati di gedung NU Jepara, tetapi tanggapan dari peserta masih ada yang pro dan kontra.

Namun, pada saat itu ada salah satu dari peserta bedah buku mempunyai kakak di Mojokerto Jawa Timur yang menjadi pengasuh di pondok pesantren di Manba’ul Qur’an Bancang Wates yang berinisiatif menyelenggarakan pengenalan sistem cara cepat membaca kitab kuning metode Amtsilati.

Pada acara di Mojokerto, metode Amtsilati mendapat sambutan yang luar biasa terlihat dari banyaknya buku yang terjual. Sementara pada acara bedah buku yang pertama di Jepara (kota beliau sendiri) tidak laku. Dari Mojokerto-lah dukungan mengalir sampai ke beberapa daerah Jawa Timur.

Hingga pada tahun 2004 melalui forum yang digelar oleh Universitas Darul Ulum Jombang metode Amtsilati tersebar ke seluruh pelosok Jawa bahkan sampai luar Jawa dan pada tanggal 21 Agustus 2004, Amtsilati sudah tercetak lebih dari 3 juta eksemplar.

Dengan Amstilati Belajar jadi Cepat

Proses belajar Amtsilati melalui bimbingan ustaz/ustazah yang telah khatam metode Amtsilati kepada masing-masing anak didik. Dengan kurun waktu 3-6 bulan para santri diberi semangat untuk mempercepat mengkhatamkan metode Amtsilati dengan target yang cukup singkat. Dengan metode cara cepat membaca kitab kuning ini, diharapkan lahirlah kader-kader yang berzikir dan berfikir.

Kini, diperkirakan sudah ratusan lembaga yang menggunakan metode Amtsilati untuk memudahkan para santrinya dalam memahami kitab kuning. Terlebih dengan adanya ide satu miliyar Amtsilati yang dicetuskan KH. Taufiqul Hakim.

Beliau mewajibkan santri yang telah diwisuda Amtsilati untuk mengajarkan metode Amtsilati kepada sepuluh orang kemudian masing-masing dari sepuluh orang tersebut wajib mengajarkan kepada sepuluh orang lagi dan terus seperti itu sampai mencapai satu miliyar santri yang mempelajari Amtsilati.***

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1653906094936_1653906118

Religi

Mengenal Metode Amtsilati

Tidak sembarang orang mampu membaca Kitab Kuning, diperlukan ilmu khusus untuk dapat membacanya. Ilmu itu disebut dengan ilmu alat, yakni ilmu Nahwu dan Sharaf. Untuk mempelajarinya memerlukan waktu p