Tumbuhan Paku

Ayu Muhafilah

Penulis : Ayu Muhafilah

0

0

Saintek
1657194756997_1657194921

Taksonomi

SIAPBELAJAR.COM - Klasifikasi ilmiah, Kerajaan: Plantae, Divisi: Tracheophyta, Subdivisi: Polypodiophytina, Kelas: Psilotopsida, Equisetopsida, Marattiopsida, Polypodiopsida.

Klad-klad fosil: †Cladoxylopsida, †Zygopteridales, †Stauropteridales (incertae sedis) dan †Rhacophytales (incertae sedis), Sinonim: Monilophyta, Polypodiophyta, Filicophyta, Filices.

Tumbuhan paku, paku-pakuan, atau pakis-pakisan adalah sekelompok tumbuhan dengan sistem pembuluh sejati (Tracheophyta) tetapi tidak pernah menghasilkan biji untuk reproduksi seksualnya.

Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini melepaskan spora sebagai alat penyebarluasan dan perbanyakannya, menyerupai kelompok organisme seperti lumut dan fungi.

Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan lautan, dengan kecenderungan ditemukan tumbuh di tempat-tempat yang tidak subur untuk pertanian.

Baca juga: Mendag Resmi Luncurkan Minyakita

Morfologi

Tumbuhan paku dan lumut merupakan salah satu dari sekian tanaman paling tua di dunia. Untuk lumut juga disebut sebagai organisme perintis. Tanaman paku hanya terdiri dari tiga bagian, yaitu akar, batang, dan juga daun.

1. Akar

Paku-pakuan memiliki jenis akar serabut yang dilengkapi dengan kaliptra di bagian ujungnya. Jaringan akar tumbuhan paku terdiri atas epidermis, korteks, serta silinder pusat.

Pada bagian ini juga terdapat berkas pengangkut xylem dan floem. Fungsi akar pada tanaman paku adalah sebagai alat penopang agar dapat tumbuh tegak.

2. Batang

Batang tumbuhan paku mempunyai struktur yang sama dengan akarnya, yaitu terdiri dari lapisan epidermis, korteks, dan silinder pusat.

Para peneliti menganggap akar dan batang tanaman ini sebagai satu bagian yang sama dimana separuh batang tumbuhan paku hidup di dalam tanah.

Tinggi batang tanaman paku sangat bervariasi, mulai yang paling pendek setinggi 2 cm dan paling tinggi dapat mencapai 5 meter.

Ketinggian batang tersebut dipengaruhi oleh lingkungan hidup atau habitatnya. Jenis yang hidup di air umumnya lebih pendek, sedang jenis yang hidup di darat cenderung berukuran besar dan tinggi.

Salah satu jenis tumbuhan paku yang hidup di darat dan mampu mencapai ketinggian 5 meter adalah Sphaeropteris atau paku tiang.

Adapun bentuk fisik tumbuhan paku juga bervariasi, mulai dari berbentuk lembaran, mirip pohon dan perdu, hingga menyerupai bentuk tanduk rusa.

3. Daun

Daun paku adalah bagian paling atas dari tumbuhan ini. Daunnya terdiri atas lapisan epidermis, pembuluh pengangkut berupa xylem dan floem, serta mesofil. Ukuran daun tumbuhan paku dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu daun makrofil yang berukuran besar dan daun mikrofil yang berukuran kecil.

Daun makrofil mempunyai ukuran besar dan memiliki tangkai, sistem pertulangan daun, bunga karang, jaringan tiang, dan terdapat stomata pada berkas mesofilnya.

Sedangkan daun mikrofil berukuran lebih kecil dan belum mempunyai tangkai dan pertulangan, serta berbentuk seperti sisik atau rambut.

Jenis daun tumbuhan paku juga dapat dibagi menjadi dua berdasarkan spora yang dihasilkan.

-Jenis pertama adalah tumbuhan paku yang bisa menghasilkan spora atau disebut sporofil.

-Jenis kedua adalah daun yang tidak menghasilkan spora atau disebut sebagai tropofil.

Selain sporofil, daun yang menghasilkan spora juga disebut daun fertil karena spora yang dihasilkan nantinya akan bermanfaat untuk peroses reproduksi.

Sementara daun yang tidak menghasilkan tropofil juga dikenal sebagai daun steril sebab daun ini memiliki peran penting dalam proses fotosintesis yang nantinya membentuk glukosa.

Habitat dan Sebaran

Habitat tumbuhan paku adalah lingkungan yang memiliki tingkat kelembaban tinggi. Wilayah dengan kondisi lingkungan seperti itu banyak ditemukan di hutan dataran rendah, lereng gunung, serta tepi pantai pada ketinggian kurang lebih 350 meter di atas permukaan laut.

Tumbuhan yang juga disebut Pteridophyta ini umumnya hidup secara sporofit, tetapi juga ada yang hidup secara epifit atau menempel pada bagian tubuh tumbuhan lain. Selain itu, meski menyukai lingkungan lembab tetapi kebanyakan tumbuhan paku bersifat terestrial atau mampu hidup di darat selama lingkungannya memadai.

Bahkan ada beberapa spesies yang hidup di permukaan batu dan menempel di kulit batang pohon yang tidak begitu lembab. Tidak hanya itu, tanaman fotoautotrof ini juga ada yang memiliki kemampuan hidup terapung di permukaan air seperti spesies Marsilea crenata dan Azolla pinnata.

Menariknya, beberapa spesies paku juga sanggup bertahan hidup di lingkungan ekstrem dengan kondisi cuaca panas dan kering seperti di kawasan gurun pasir. Kemampuan ini bergantung pada tingkat ketahanan gametofit alami yang dimiliki oleh tumbuhan paku itu sendiri.

Persebaran tumbuhan paku sangatlah luas dan hampir dapat dijumpai di seluruh belahan dunia, kecuali wilayah yang memiliki salju abadi dan juga di laut lepas. Jadi meski dikenal sebagai tanaman sub-tropik dan tropik,

pada dasarnya tumbuhan paku mempunyai kemampuan adaptasi yang sangat baik sehingga dapat hidup di berbagai kondisi.

Reproduksi Tumbuhan Paku

Proses reproduksi tumbuhan paku dapat dilakukan secara seksual dan aseksual. Cara perkembangbiakan ini disebut sebagai daur yang terjadi secara berselang-seling.

Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai kedua jenis reproduksi pada tanaman paku, yaitu:

1. Generasi Seksual (Generatif)

Proses reproduksi secara seksual juga disebut sebagai reproduksi generatif. Reproduksi ini terjadi melalui pembentukan sel kelamin jantan dan sel kelamin betina oleh gametogonium atau alat kelamin yang dimiliki oleh tumbuhan paku. Gametogonium tersebut terdiri atas gametogonium jantan dan gametogonium betina.

Gametogonium jantan juga disebut anteredium yang akan menghasilkan spermatozoid, sedangkan gametogonium betina menghasilkan sel telur atau ovum. Generasi seksual yang dialami oleh tumbuhan paku ini sama seperti yang terjadi pada lumut yang dikenal dengan pergiliran keturunan atau metagenesis.

2. Generasi Aseksual (Vegetatif)

Paku-pakuan juga mengalami fase reproduksi yang disebut generasi aseksual atau vegetatif. Pada proses perkembangbiakan ini, stolon akan menghasilkan tunas atau gemma. Gemma merupakan anak dari tulang daun atau bisa juga dari kaku daun tumbuhan paku yang mengandung spora.

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1659251487178_1659251618

Saintek

Taksonomi & Morfologi Daun Pandan

SIAPBELAJAR.COM - Pandan adalah jenis tumbuhan monokotil dari famili Pandanaceae yang memiliki daun beraroma wangi yang khas. Daunnya merupakan komponen penting dalam tradisi masakan Indonesia dan neg
1659186741695_1659187019

Keluarga

Mengenal Burung Cendrawasih

SIAPBELAJAR.COM - Pesona dan eksotisme wilayah Indonesia bagian timur meliputi panorama alam, adat budaya, serta flora dan fauna sungguh sangat memukau. Bahkan kawasan ini dijuluki sebagai potongan su
1658493421962_1658493762

Saintek

Bunga Kamboja

SIAPBELAJAR.COM - Kemboja atau semboja (Plumeria) adalah sekelompok tumbuhan dalam genus Plumeria. Bentuknya berupa pohon kecil dengan daun jarang namun tebal. Bunganya yang harumnya sangat khas, deng
1658209531876_1658209605

Trending

4 Siswa Indonesia Raih Prestasi Pada Olimpiade Biologi Internasional 2022

SIAPBELAJAR.COM - Empat siswa terbaik Indonesia dalam bidang biologi raih empat mendali di ajang Olimpiade Biologi Internasional atau International Biology Olympiad (IBO) ke-33 tahun 2022.IBO ke-33
1657889159160_1657889506

Saintek

Bunga Melati

SIAPBELAJAR.COM - Melati putih atau Jasminum sambac adalah spesies melati yang berasal dari Asia selatan; India, Myanmar dan Sri Lanka. Penyebaranya dimulai dari Hindustan ke Indocina, lalu Kepulauan