Buku tersebut merupakan catatan reflektif dari perjalanan akademik terutama saat di ibu kota Australia
SIAPBELAJAR.COM - Wildani Hefni, dosen Universitas Islam
Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, dan Rizqa Ahmadi, dosen
Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, berbagi
cerita seputar pengalaman mereka kuliah doktor di Australia.
Cerita dua dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI)
alumni program Partnership in Islamic Education Scholarship (PIES) itu
dituangkan dalam buku “Dari Carbella ke Canberra: Geliat Akademik, Jaringan
Intelektual dan Wacana Keagamaan di Panggung Internasional”.
PIES yang merupakan program kerja sama antara kampus Australian National University (ANU) Canberra dan Kementerian Agama. PIES juga didukung oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Pemerintah Australia sebagai pemberi beasiswa.
Baca Juga: Uni Eropa Akan Meluncurkan Program Beasiswa untuk Peneliti Ukraina
Perjalanan Akademik Bukan semata Soal Kecerdasan
Wildani mengungkapkan, buku tersebut merupakan catatan
reflektif dari perjalanan akademik, terutama saat di ibu kota Australia,
Canberra. Menurutnya, perjalanan akademik itu penting untuk dikenang, karena
telah mengantarkannya belajar di luar negeri pada tingkat doktoral.
“Belajar di luar negeri pada tingkat doktoral menjadi impian kami. Tak pernah terbayangkan, impian itu menjadi kenyataan. Kami bahagia dapat menyampaikan gagasan dan argumen-argumen ilmiah di depan khalayak internasional. Kisah perjuangan itulah yang kami tuangkan dalam buku ini,” ungkap Wildani Hefni saat peluncuran buku, Kamis (21/7) di Jember.
Buku itu berisi ulasan tentang pengalaman menjadi anggota
kelompok minoritas, pengalaman berjejaring dengan akademisi luar negeri, serta
wacana keagamaan di panggung internasional. “Kami menyuguhkan buku ini berdasar
pengalaman empirik. Semoga bermanfaat dan menjadi guidline bagi siapapun,
terutama mereka yang akan melanjutkan studi di luar negeri,” paparnya.
Sementara Rizqa Ahmadi menceritakan, buku ini ditulis
sebagai penanda bahwa perjalanan akademik itu tidak semata-mata persoalan
kecerdasan dan kerja keras, namun juga kerja cerdas. Menurutnya, jika studi
doktoral dijalani di negeri sendiri, mungkin biasa sebagaimana umumnya.
“Studi di luar negeri memiliki tantangan tersendiri. Ada banyak tantangan, kecemasan, godaan, problem sosial, budaya, dan lainnya. Karena itu, buku ini hadir mengisahkan pergulatan menjalani tirakat akademik hingga akhirnya menemukan surga akademik,” terangnya.
Share and Care
Share and Care
Seniraga
Saintek
Saintek
12 April 2026 - 20:13 wib
05 April 2026 - 21:05 wib
05 April 2026 - 16:34 wib
05 April 2026 - 16:33 wib
05 April 2026 - 16:32 wib