Anies Baswedan Resmikan Perpustakaan Jakarta dan PDS

Ayu Muhafilah

Penulis : Ayu Muhafilah

0

0

Trending
1657513679013_1657513694

Resmikan Perpustakaan Jakarta dan PDS

SIAPBELAJAR.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru saja meresmikan Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra (PDS) Hans Bague (HB) Jassin di kawasan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM).

Anies menginstruksikan kepada jajaran Pemprov DKI agar nantinya Perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin menjadi refleksi perpustakaan di masa depan yang menarik minat para generasi baru untuk datang dan berkegiatan di perpustakaan.

Perpustakaan tersebut terletak di kompleks TIM, yang sekarang baru saja menjelang selesai direvitalisasi. Bagi masyarakat Jakarta, dan bahkan Indonesia, TIM adalah pusat kegiatan kesenian dan kebudayaan, harapannya keberadaan Perpustakaan yang super-keren tersebut melengkapi kekerenan TIM pasca revitalisasi. Proses revitalisasi TIM sendiri sudah berlangsung sejak tahun 2018 lalu. 

Baca juga: Kolaborasi Mural dengan Disney Indonesia di Terowongan Kendal

Perpustakaan Jakarta memiliki 138.000 Koleksi dan 4.395 koleksi di PDS HB Jassin. Perpustakaan Jakarta berisi buku-buku umum, buku-buku anak, hingga koleksi kejakartaan yang relevan dan sesuai kebutuhan masyarakat. Sementara itu, koleksi PDS HB Jassin berfokus pada pendokumentasian karya sastra, termasuk dokumen tulisan tangan sastrawan besar, seperti Chairil Anwar, WS Rendra, dll.

Diresmikan

Desain Perpustakaan bukan hanya berisi rak-rak untuk menaruh koleksi buku, melainkan menyediakan ruang-ruang dapat dikelola menjadi pusat berkegiatan bagi komunitas, bahkan anak-anak. Jadi, perpustakaan ini bukan sekadar tempat dikumpulkannya buku-buku dan literasi, tetapi juga tempat yang menghidupkan kebudayaan di Jakarta.

Momen peresmian kemarin menjadi tonggak bagi menciptakan kebaruan yang mendukung bertumbuhnya minat baca, kecintaan terhadap perpustakaan dan turut mendukung pertumbuhan seni budaya khususnya di Jakarta.

Bacajuga: Tips Menyimpan Daging Kurban

Untuk menggenapkan harapan itu, dibutuhkan kerja keras, konsisten, cerdas, kreatif, inovatif serta semangat kolaborasi dalam mengelola serta menafaskan perpustakaan masa depan. Tentu kerja-kerja tersebut bukanlah kerja yang enteng, tak semudah membalikkan telapak tangan. Mengingat budaya menonton, nongkrong atawa kongkow, bergunjing, main game yang sudah menjadi kebiasaan serta lebih diminati anak muda.

Dalam hal ini, kolaborasi menjadi salah satu kata kunci. Kerja keras, kerja cerdas, kreatif, inovatif dan berkelanjutan menjadi inti dari pesan yang disampaikan gubernur. 

Faktor- Faktor

1. Menggeliatnya aktivitas komunitas serta masyarakat seniman dan budayawan. Aktivitas tersebut rupanya bermacam, mulai dari aktivitas berdiskusi, workshop, bedah buku dan aktivitas-aktivitas lainnya.

2. Bertumbuhnya minat baca masyarakat, baik pelajar, mahasiswa, pekerja, dan masyarakat pada umumnya yang paralel dengan jumlah kunjungan serta kartu keanggotaan perpustakaan.

Mereka-mereka ini tidak hanya menjadikan sebagai ruang untuk membaca, tapi juga sebagai ruang bersilahturahmi, bertukar gagasan, riset atawa penelitian, eksperimen bahkan sebagai ruang untuk bersantai yang bisa melepas penat, jenuh dan lelah.

3. Faktor kebutuhan serta gaya hidup. Sama seperti manusia yang membutuhkan makan, minum, gizi juga istrahat agar tetap hidup dan sehat. Atau seperti ada yang kurang jika dalam sehari tidak mengopi.

Sama halnya, jika tidak membaca buku atawa tidak mengunjungi perpustakaan dalam sehari. Hidup menjadi gelisah dan seperti ada yang kurang. Dalam hal ini, membaca buku dan mengunjungi perpustakaan menjadi kebutuhan hidup masyarakat urban.

Sedangkan menjadi gaya hidup, maksudnya adalah tak keren jika tak membaca buku. Bukan orang kota kalau tak punya kartu perpustakaan. Bukan orang gaul kalau tidak nongkrong di perpustakaan, dan seterusnya.

Ketiga faktor itu harus terus dinafasi dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, senimanpekerja seni, budayawan dan seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Artinya, pertumbuhan minat baca serta kecintaan terhadap buku dan perpustakaan bukanlah menjadi keniscayaan di DKI Jakarta pada khususnya, dan di negeri ini pada umumnya.

Jika sudah demikian, secara langsung maupun tidak langsung kualitas dari masyarakat Indonesia semakin bertumbuh kearah yang lebih baik dan paralel dengan daya saing bangsa serta negara Indonesia di dunia internasional.

Sebab buku bukanlah sekadar himpunan ilmu pengetahuan tapi juga mengandung nilai-nilai kehidupan. Sedangkan perpustakaan bukanlah sekadar tempat tapi sudah menjadi rumah ketiga.

Rumah pertama adalah keluarga, rumah kedua sekolah atawa kampus atawa tempat bekerja atawa kantor. Sedang rumah ketiganya atawa rumah yang selalu mengajak setiap orang untuk datang, datang dan datang lagi ke perpustakaan.

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1669008024013_1669008041

Trending

Anies Baswedan Takziah ke Rumah (Alm) K.H. Abun Bunyamin Ruhiat Cipasung

SIAPBELAJAR.COM - Mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan, bertakziah dan  silaturahmi mengunjungi rumah duka  almarhum Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung K.H. Abun Bunyamin Ruhiat di Kabupat
1663080414900_1663080448

Trending

Anies Baswedan Ubah Nama Kota Tua Jadi Batavia

SIAPBELAJAR.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengubah nama kawasan wisata Kota Tua kembali menjadi Batavia. Ia menyatakan bahwa nama Batavia dipilih karena mencerminkan masa lalu, tapi diranc
1661350819013_1661350988

Trending

Anies ajak Generasi Melenial jadi PNS Pemprov DKI

SIAPBELAJAR.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajak generasi milenial menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemprov DKI. Ia menyebut gaji per bulan yang akan diterima kisaran 12-
1659616349025_1659616387

Trending

RSUD Jakarta Punya Nama Baru

SIAPBELAJAR.COM - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan telah meresmikan perubahan nama rumah sakit umum daerah (RSUD) menjadi "Rumah Sehat untuk Jakarta" perubahan ini akan diiringi dengan penyeragama
1658379076138_1658379245

Trending

Ridwan Kamil & Anies Baswedan hingga Duta Besar Uni Eropa Adu Gaya di Citayam Fashion Week

SIAPBELAJAR.COM - Zebra cross di Dukuh Atas, Sudirman, Jakarta Pusat semakin hits setelah menjadi media untuk catwalk  bagi sebuah istilah viral yang disebut Citayam Fashion Week (CFW). Cit