SIAPBELAJAR.COM- Pemimpin Oposisi Utama Sri Lanka, Sajith Premadasa mengatakan bahwa dirinya berniat mencalonkan diri sebagai presiden begitu Gotabaya Rajapaksa mundur.
Hal tersebut terjadi setelah partainya Samagi Jana Balawegaya (SJB) mengadakan pembicaraan dengan sekutu untuk mendapatkan dukungan untuk langkah tersebut.
Krisis Ekonomi
Seperti yang kita ketahui, Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang telah membawa ribuan orang turun ke jalan sejak Maret.
Negara ini kehabisan uang tunai dan sedang berjuang untuk mengimpor barang-barang kebutuhan pokok seperti makanan, bahan bakar dan obat-obatan. Tingkat inflasi negara mencapai 55% pada bulan Juni, dan jutaan orang berjuang untuk mencari nafkah.
Mengundurkan Diri
Presiden Rajapaksa mengumumkan bahwa ia berencana untuk mengundurkan diri minggu ini, dan ketua parlemen mengatakan bahwa anggota parlemen akan memilih presiden berikutnya pada 20 Juli.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sri Lanka Mahinda Yapa Abeywardena mengatakan hal itu melalui video bahwa Rajapaksa sudah memberi tahunya bahwa sang presiden akan mengundurkan diri pada Rabu (13/7).
"Keputusan untuk mundur pada 13 Juli diambil untuk memastikan penyerahan kekuasaan secara damai," kata Abeywardena, karena itu ia meminta masyarakat Sri Lanka untuk menghormati hukum serta menjaga perdamaian di negaranya.
Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe juga mengatakan dirinya bersedia mengundurkan diri, memberi jalan bagi pembentukan pemerintahan yang melibatkan semua partai.
Pencalonan Posisi Kepresidenan
Sajith Premadasa mengatakan bahwa
partai dan sekutunya setuju bahwa dia harus menempatkan pencalonan untuk
posisi kepresidenan jika terjadi kekosongan.
Premadasa kalah dalam
pemilihan presiden pada tahun 2019. Saat ini dia akan membutuhkan dukungan dari
anggota parlemen aliansi yang memerintah untuk menang.
Dia bertaruh untuk mendapatkan posisi presiden karena ketidakpuasan rakyat terhadap Rajapaksa dan keluarganya yang telah mendominasi politik Sri Lanka selama lebih dari dua dekade.
Situasi Sri Lanka Saat Ini
Premadasa menggambarkan situasi di Sri Lanka saat ini sebagai kebingungan, ketidakpastian dan anarki total. Ia mengatakan bahwa negara tersebut membutuhkan konsensus, konsultasi, kompromi dan kebersamaan.
Premadasa mengatakan untuk mengembalikan ekonomi ke level 2019 akan memakan waktu sekitar empat hingga lima tahun. Ia pun menambahkan bahwa pihaknya memiliki rencana ekonomi untuk mengatasi krisis.
"Kami tidak akan
menipu rakyat. Kami akan jujur dan menyampaikan rencana untuk menyingkirkan
penyakit ekonomi Sri Lanka" kata Premadasa.
Trending
Trending
Trending
Trending
Trending
05 April 2026 - 21:19 wib
05 April 2026 - 18:33 wib
05 April 2026 - 16:22 wib
05 April 2026 - 09:13 wib
05 April 2026 - 09:11 wib