Beli Rumah Makin Sulit Gen Z Mustahil Punya Rumah Sendiri?

Ayu Muhafilah

Penulis : Ayu Muhafilah

0

0

Trending
16;9 (25)_1657948941

Ilustrasi: Rumah Idaman

SIAPBELAJAR.COM - Menteri keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa orang Indonesia akan kesulitan menemukan rumah karena lahan dan bunga naik setiap tahun.

Suku bunga acuan di beberapa negara mulai mengalami kenaikan, sejalan dengan meningkatnya inflasi yang berpotensi mengerek suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

"Untuk membeli rumah 15 tahun mencicil di awal berat, suku bunga dulu, principal-nya di belakang. Itu karena dengan harga rumah tersebut dan interest rate sekarang harus diwaspadai, karena cenderung naik dengan inflasi tinggi," jelas Menkeu dalam pembukaan 'Securitization Summit 2022', Rabu (6/7).

Sebelumnya, Sri Mulyani mengatakan kondisi ini terpengaruh situasi ekonomi dunia. Ia mengungkapkan pemerintah berupaya membantu Masyarakat Berpenghasilan Rendah bisa memiliki rumah.

Sorotan Kesempatn Punya Rumah terhadap Generasi Milenial

Persoalan kesempatan memperoleh kepemilikan rumah bagi kalangan generasi milenial pun menjadi sorotan Anggota Komisi VI DPR RI dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat dengan para Direktur Utama Himpunan Bank Milik Negara yang berlangsung di Gedung DPR RI, Jakarta.

"Generasi milenial kesulitan untuk mendapatkan atau memiliki rumah. Saya mendorong program atau terobosan strategis dari Bank Tabungan Negara  dalam membantu masyarakat kita terutama generasi muda yang baru berkeluarga agar mendapatkan hunian. Buka akses seluas-luasnya dalam kepemilikan rumah generasi milenial,” papar Anggota Komisi VI DPR RI, Siti Mukaromah.

Ketakutan Gen Z & Milenial 

Vicky merasa apa yang disampaikan bendahara negara itu sudah menjadi sebuah ketakutan bagi kalangan milenial dan generasi Z saat ini. Pemuda yang kini tengah bekerja sebagai peneliti di Yogyakarta ini, mengakui dirinya sudah mulai merasakan masuk ke dalam kelompok yang takut tak bisa membeli rumah.

Terlebih sebagai seorang pekerja dengan upah minimum di Yogyakarta, Vicky cukup khawatir saat dirinya berkali-kali memikirkan bagaimana caranya untuk membeli rumah.

“Harga tanah properti di Yogya hampir seperti di Jakarta, hopeless lah kita," kata Vicky, Senin (11/7).

Baca juga:  RUU KUHP dengan Kemungkinan Perubahannya

"Upah tidak layak, harga properti naik, sementara boomers ini nabung properti dan akumulasi kekayaan terus. Sementara kita yang milenial enggak bisa ngejar harga yang terakumulasi itu,” sambungnya.

Saat ini Vicky bersama pasangannya memiliki tabungan bersama dengan menyisihkan 10-20 persen penghasilan mereka untuk membeli rumah. Menurutnya ini adalah bentuk kesadaran, setidaknya ini disebut Vicky sebagai harapan.

“Aku sama pasanganku punya kesadaran ya, jadi ini bertahap gak mesti harus beli rumah dulu, mungkin mulai dari ngontrak dulu setidaknya ada goal untuk ke sana,” terangnya.

Baca juga: Kominfo Siapkan Super Apps untuk Layanan Pemerintah

Ada juga Zahra, seorang pekerja Startup di Jakarta. Ia turut mengungkapkan keluh kesahnya sebagai pekerja yang sulit membayangkan agar dirinya dapat membeli rumah. Bahkan dengan harga yang terlampau tinggi, dia menegaskan bahwa rumah tidak lagi menjadi prioritasnya.

“Stres tau, makanya aku enggak kepikiran beli rumah, pertama aku enggak bisa beli rumah di pusat kota, kecuali ada keajaiban," ujarnya.

"Kedua, aku enggak mau habiskan banyak waktu di jalan karena rumah yang jauh dari kantor. Sudah stres cicilan dan waktunya terbuang,” keluhnya.

Widya yang baru saja menikah, juga mengalami ketakutan yang sama. Menurutnya memiliki rumah dengan penghasilan uang sendiri membutuhkan usaha yang besar dan juga waktu yang cukup lama.

“Kalau nabung itu sepertinya sulit, soalnya harga rumah sudah mahal banget, kapan punya rumahnya,” tuturnya.

Begitu pula Azis, pemuda 23 tahun yang baru saja menikah ini mengungkapkan bahwa saat ini dirinya belum bisa untuk membeli rumah. Upaya yang dilakukan oleh Azis dan pasangannya adalah dengan mencoba menerimanya serta menjalankan perannya masing-masing sebagai suami dan istri.

“Takut itu pasti, tapi mau enggak mau ya harus menjalaninya, jalanin aja apa yang ada dulu untuk sekarang,” tutur Azis

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

Krem Merah Minimalis Spanduk Pameran Budaya Indonesia (3)_1686449338

Saintek

Aplikasi Hijrah: Solusi Core Banking Syariah untuk Koperasi BMT dan BPRS

Mediana.id - Aplikasi Hijrah adalah aplikasi core banking syariah yang diperuntukkan untuk mengelola keuangan koperasi, BMT, dan BPRS. Aplikasi ini dikembangkan oleh PT Benkel Aplikasi Nusantara, sebu
1666581168457_1666581174

Ekonomi

Suku Bunga Pinjaman Mahasiswa Kontingen Meningkat

SIAPBELAJAR.COM - Departemen Pendidikan Inggris (DfE) telah mengumumkan kenaikan tingkat bunga saat ini untuk pinjaman mahasiswa kontingen pendapatan (ICR) pra-2012 menjadi 3,25%.Langkah tersebut te
1665281230612_1665281241

Ekonomi

Penurunan Laba Perusahaan Samsung

SIAPBELAJAR.COM - Raksasa teknologi Samsung telah memperingatkan penurunan laba sebesar 32% karena permintaan untuk perangkat elektronik dan chip memori yang mendukungnya menyusut akibat perlambata
1663990236280_1663990258

Ekonomi

Tips Siasati Cicilan KPR di Tengah Kenaikan Suku Bunga BI

SIAPBELAJAR.COM - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan pada September 2022. Besarannya pun membuat banyak pihak kaget yakni sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen.Artinya, s
1663914169379_1663914306

Ekonomi

Usaha BI Kerek Suku Bunga Bank yang Jeblok

SIAPBELAJAR.COM - Harga saham emiten perbankan jeblok lebih dari 1 persen usai Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan 50 basis poin (bps) menjadi 4,25 persen.Mengutip CNN Indonesia, Jumat (23/9