SIAPBELAJAR.COM -
Ada yang menarik di hari jadi SMP Al Madinah, Warung Cikopi,
Desa Salebu, Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Di usianya yang ke- 10, tepatnya tanggal 31 Agustus, sekolah yang berada di pinggir Jalan Warung
Cikopi 7,5 KM dari pusat Ibu Kota Kabupaten Tasikmalaya ini diberi ucapan
selamat oleh Yusuf Surya aktor sinetron
pemeran Jinny Oh Jinny yang pernah populer di sekitaran tahun 2000 an
serta Atien Kisam Budayawan Betawi.
Mereka berdua datang secara langsung ke SMP Al Madinah
dan menyempatkan diri berdiskusi dengan para guru serta siswa di SMP tersebut.
Selain mengucapkan selamat secara khusus
mereka juga memberikan motivasi kepada 450 siswa di sana.
“Saya Yusuf Surya alias Jaka pemain yang paling apes di sinetron Jinny Oh Jinny, saya datang ke
SMP Al Madinah mengucapkan selamat ulang tahun semoga SMP Al Madinah
tetap eksis dalam mencetak generasi berkualitas” kata Bang Jaka nama perannya
di Sinetron Jinny Oh Jinny.
“ Selamat ulang tahun yang ke 10 buat SMP Al Madinah semoga siswa-siswi SMP Al Madinah kelak menjadi generasi insani yang berbakti kepada agama, nusa dan bangsa” ujar Atien Kisam.
Disampaikan Hidayat S.Pd, Kepala SMP Al-Madinah, kedatangan para pelaku seni ini di hari jadi lembaga yang dipimpinnya itu menjadi momen langka yang tidak terpikirkan sebelumnya. Dari mula bertemu dan berdiskusi di acara kegiatan budaya yang sama-sama dihadirinya hingga mereka tertarik dengan pola pendidikan yang diterapkan di SMP Al Madinah. Lalu keduanya berkunjung ke sekolahnya.
Tak ingin menyia-nyiakan momen menarik itu, dikatakan Pak
Ahi (panggilan akrabnya). Saat Yusuf Surya dan Atien Kisam berada di SMP Al Madinah ia memberikan
kesempatan langsung kepada para siswa dan guru untuk berkenalan, saling sapa
serta menyimak kisah perjalanan inspiratif dari keduanya.
“Mereka berdua orang
luar biasa dan pernah top di masanya. Kehadiran mereka saat itu menjadi motivasi
khusus bagi kami” ujarnya.
Kegembiraan para siswa dan guru di sekolah tersebut terus
berlanjut salah satunya ada perlombaan ungkapan kalimat ulang
tahun. Meriah kala itu, diungkapkan Pak Ahi, dengan berbagai karakter yang
dibawakan para peserta. Acara peringatan
hari jadi SMP Al Madinah kali ini lebih menjiwai karena semuanya terlibat.
Di awal fase acara, semua komponen yang ada di sekolah
tersebut baik pengurus, guru juga siswa, terlebih dahulu melaksanakan salat
duha bersama, dilanjutkan istigosah lalu ziarah kepada para pendiri lembaga
yang sudah tiada, salah satunya ke makam KH. Dana Farid (Alm) Pimpinan Pondok
Pesantren Hidayatul Mubtadiin sekaligus pendiri SMP Al Madinah.
Proses
Dari cerita yang disampaikan Pak Ahi, SMP Al Madinah kini eksis dengan hampir 450 siswanya yang terbagi ke dalam 15 rombel . Kelas tujuh ada 5 rombel, kelas delapan 6 rombel dan kelas sembilan ada 4 rombel . Berbeda terbalik di 10 tahun lalu, siswa pertama SMP Al Madinah itu hanya ada 45 orang. Dan bukan tanpa kebetulan di hari jadi berdirinya yang ke 10 siswa SMP Al Madinah saat ini hanya dibedakan dengan digit nol di belakang.
Bukan hal mudah sekolahnya bisa bertahan dan diminati
seperti saat ini, sama seperti lembaga lainnya, dikatakan Hidayat, dibutuhkan
sebuah perjuangan ekstra, komitmen, tanggung jawab, kerjasama dan pengabdian
yang ikhlas.
Berdirinya SMP Al Madinah sendiri tidak lepas dari
keprihatinan para pendiri atas kondisi masyarakat di sekitaran Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Hampir mayoritas masyarakat
kala itu kurang empati pada nasib pendidikan anak-anaknya. Bagi mereka SD sudah
cukup.
Bukan tanpa alasan. Kata Hidayat, sebetulnya masyarakat di
daerahnya waktu itu pingin anak-anaknya melanjutkan ke sekolah formal, namun
keadaan ekonomilah akhirnya mereka lebih memilih anak-anaknya itu bekerja untuk
membantu mencari uang buat tambah-tambah keperluan makan keluarganya. Dan
seiring waktu hal tersebut menjadi kultur di daerahnya.
“Hampir mayoritas penduduk di daerah ini kala itu adalah
buruh bangunan” kata Hidayat
Atas nama kepedulian akan masa
depan generasi di daerahnya, akhirnya ungkap Hidayat, pada 2009 pendidikan
kesetaraan (Paket B) berdiri di lembaga yang selama ini menaungi SMP Al Madinah dengan fasilitas seadanya
dan tanpa sepeser pun para siswanya dipungut biaya.
“Meskipun gratis tetap saja saat itu antusias masyarakat sangat kurang, sampai-sampai para pendahulu kami harus terjun langsung mengunjungi keluarga yang mempunyai anak lulus SD dan mengedukasi mereka dengan tanpa lelah” ujarnya.
Setelah berupaya sekian lama akhirnya masyarakat di daerah
itu mulai memahami, siswa pun mulai bertambah hingga pada akhirnya
tercetuslah untuk mendirikan sekolah formal tingkat SMP.
“Di awal berdiri itu siswanya cukup banyak ada sekitar 45
orang dan mayoritas yang masuk usia siswa disekitaran 17 tahunan yang
seharusnya mereka sudah duduk di kelas delapan” kenang hidayat.
Ikatan Alamiah
Diutarakan Dudi Rohdinulhak M.Pd, pengawas SMP Al
Madinah saat ini, sekolah binaannya itu
merupakan salah satu SMP swasta yang sukses mengubah gaya pikir masyarakat sekitar
dari tidak peduli menjadi empati terhadap nasib masa depan pendidikan
keturunannya.
Ia pun menyebutkan,
bukti masyarakat di sekitar SMP Al Madinah lebih memilih sekolah tersebut untuk pendidikan putra-putrinya karena selain kualitas di situ ada hubungan batin
yang sudah terbangun diantara kedua
belah pihak.
“Mereka bisa saja menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah
lainnya, di sekitaran sini SMP hampir berdekatan. Saya melihat kenapa mereka
memilih sekolah ini karena ada keterikatan alami yang terbangun antara SMP Al Madinah dan masyarakat sekitar” jelas pengawas yang aktif di gerakan literasi tersebut.
SMP Al Madinah sendiri diapit oleh beberapa SMP Negeri yang jaraknya tidak terlalu jauh. Sebelah timur di rentang jarak 3, 7 KM ada SMP Negeri 1 Mangunreja, di Timur laut ada SMP Negeri 2 Manunreja jarak 3,5 KM, 1, 3 KM arah selatan ada SMP Negeri Satap 1 Mangunreja dan di barat ada SMP Negeri 1 Salawu dengan jarak 1, 9 KM.
Trending
Trending
Saintek
Saintek
Trending