SIAPBELAJAR.COM- Menggunakan setelan sarung dan kopiah hitam khas pesantren, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Irfan, kabupaten Ciamis, Jawa Barat yang satu ini tampak telaten menjelaskan manfaat pengolahan limbah serabut aren untuk media jamur merang,Volvariella volvacea.
Limbah serabut aren yang biasanya hanya dibuang semata hingga menggunung dan paling banter membusuk lalu jadi kompos, melalui tangan kreatifnya mampu menghasilkan jamur merang dengan harga yang potensial. Hal ini menjadi salah satu solusi dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.
"Istilahnya, selain paham ilmu fikihnya sekarang waktunya kita memahami sugihnya," ujar Irfan Soleh, sambil berkelekar merujuk besarnya potensi serabut aren yang bisa menjadi salah satu media media pangan alternatif tersebut, dalam obrolan hangatnya dengan media, Selasa (5/7/2022).
Baca juga: Santri Digitalpreneur Indonesia 2022 Digelar di Pesantren Idrisiyyah Tasikmalaya
Kyai Muda Visioner
Kyai muda yang satu ini memang pengecualian. Selain paham urusan agama dengan mengelola sekitar 200 santri di pesantren, Irfan yang lulusan doktor itu juga pintar berbisnis, seperti membuat jamur merang kemasan kaleng untuk menghidupi santri dan lingkungan masyarakat sekitar.
"Ketika nanti jamur kalengan ini tersebar ke seluruh pasar, pasar modern, supermarket, otomotis membutuhkan banyak hubungan," kata dia.
Ide awal pengolahan jamur merang kemasan kaleng ini, dimulai sejak 2015 lalu saat melihat besarnya potensi limbah serabut yang dibuang semata, tanpa menghasilkan nilai tambah.
"Ini jelas sebuah tantangan kenapa tidak kita coba menjadi sesuatu," kata dia.
Berbekal Literasi dan Autodidak
Gayung bersambut, berangkat dari kebiasaannya sebagai kutu buku dalam mempelajari agama, akhirnya beberapa literasi yang ia pelajari mengenai jamur, membawanya memahami budaya jamur merang dengan seksama dengan media serabut aren.
"Kami belajar secara autodidak soal jamur hingga ke Yogyakarta meskipun itu medianya jerami," kata dia.
Alhasil, potensi limbah serabut aren di Kampung Kubang, Kampung Bojong Renged dan Kampung Cilengkrang, Desa Kertaharja, Kecamatan Cijeungjing, yang sejak lama dikenal sebagai daerah pengolahan tepung aren, akhirnya diolah menjadi media tanam jamur merang.
"Kami hanya menggunakan bahan baku serabut aren, kapur dan dedak plus bibit jamur merang," kata dia.
Dalam praktiknya, limbah serabut aren yang telah dipilah, kemudian dicampur dengan dedak dan kapur, yang akan digunakan sebagai media tanam bibit jamur merang untuk berkembang.
"Total dari awal pembuatan hingga panen jamur sekitar 40 hari," ujar dia.
Saat ini, produksi harian jamur merang pesantren berkisar di angka 80-100 kilogram (kg) per hari, sementara harga jual dibanderol Rp 35-40 ribu per kg.
"Kurang lebih pendapatan kami sekitar 80 juta per bulan atau sekitar Rp 300 jutaan per tahun," kata dia.
Ekonomi
16 April 2026 - 14:13 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
13 April 2026 - 20:43 wib
13 April 2026 - 20:31 wib