Dalam kurikulum merdeka, 25 persen waktu pembelajaran dilakukan dengan kegiatan di luar kelas atau proyek
SIAPBELAJAR.COM – Para guru yang
telah menjalani pendidikan sembilan bulan dalam program guru penggerak mengaku
tersadarkan atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan selama mengajar. Mereka mengaku
mendapat paragidma baru dalam mendidik.
Selama ini guru mengajari murid,
padahal semestinya menghamba murid, artinya memenuhi keinginan murid dalam
belajar. Bukan memaksa murid untuk paham dan dapat nilai tinggi, tapi seharusnya
menuntun murid untuk menemukan minat, bakat, dan kompetensinya.
Guru penggerak dari SMP Negeri 7 Makassar, Nasmur, mengatakan, pendidikan guru penggerak menjadikan ia dan rekannya menghamba para murid. Kalimat menghamba pada murid yang ia kutip dari Ki Hadjar Dewantara, artinya guru bukan mengajari murid, tapi lebih kepada memenuhi keinginan murid dalam belajar.
Nasmur mengatakan, pendidikan
guru penggerak dan penerapan kurikulum merdeka di sekolah menjadi dua kebijakan
yang selaras dan sejalan. Menjadi guru penggerak dan menggunakan kurikulum
merdeka dirasakan Nasmur memberi sudut pandang baru pada anak. Jika biasanya
kelas sunyi, sekarang, kata dia, anak-anak berlomba untuk menyampaikan
pendapatnya.
“Saya tidak pernah menyangka,
anak-anak yang biasanya diam, mengamati, sekarang dengan memerdekakan mereka
untuk mencari jawaban atas permasalahan dengan berbagai media, dan menyampaikan
dengan media yang sesuai, bisa berbicara dengan sangat baik menyampaikan
pemikirannya,” jelas Nasmur dalam satu kesempatan.
Guru Penggerak Ubah Pola Pikir
Syahriani Jarimollah, guru penggerak lain di SMP N 7 Makassar, mengatakan hal yang sama. Menurutnya, program guru penggerak telah mengubah pola pikirnya.
Sembilan bulan pendidikan guru
penggerak, membentuknya memahami bagaimana cara memperlakukan murid, teknik
membuat anak kembali ke ruang belajar, dan bagaimana membuat orang bergerak
bersama tanpa disuruh atau dipaksa.
Program guru penggerak yang
diterapkan Ani dan Nasmur di SMP N 7 Makassar salah satunya adalah dengan
membawa siswa ke luar ruang kelas. Kegiatan yang disebut outing ini,
kata Ani, terbukti mempercepat peningkatan semangat anak untuk kembali belajar
setelah dua tahun belajar dari rumah. Anak-anak dibawa untuk mencari ilmu baru
di tempat-tempat yang berada di luar sekolah.
Dalam kurikulum merdeka, 25
persen waktu pembelajaran dilakukan dengan kegiatan di luar kelas atau proyek.
Anak-anak dapat mengerjakan tugas atau proyek dari gurunya dengan mencari tahu
langsung di lapangan. Kegiatan seperti ini, kata Ani, adalah bentuk layanan
guru kepada siswa yang diibaratkannya sebagai pelanggan.
Menurut Ani, kebutuhan alat dan
sarana dalam pembelajaran selama ini begitu membelenggu guru untuk
berkreativitas. Setelah menjadi guru penggerak, pola pikirnya berubah menjadi
berbasis aset. Pembelajaran tidak berhenti karena alat dan sarana tidak
tersedia, namun setiap aset yang ada di sekitar bisa jadi alat atau sarana
pembelajaran. ***
Saintek
Saintek
Saintek
Saintek
Saintek
12 April 2026 - 20:13 wib
05 April 2026 - 21:05 wib
05 April 2026 - 16:34 wib
05 April 2026 - 16:33 wib
05 April 2026 - 16:32 wib