SIAPBELAJAR.COM -
Sesuatu yang dipaksakan memang mempunyai kesan tidak baik begitupun dan proses
pendidikan. Dalam Pendidikan dikenal istilah Baca, Tulis, Hitung, atau dikenal
dengan istilah Calistung, dampak anak dipaksakan mahir calistung, menurut Dosen
dan content writer Paudpedia Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan
Pendidikan Masyarakat (Ditjen PAUD Dikdasmen) Kemendikbud Ristek Ifina
Trimuliana, beberapa dampak yang terjadi jika anak usia dini terus dipaksakan
agar mahir calistung.
Pertama,
anak bisa mogok belajar. Dia menegaskan, sesuatu yang dipaksakan pasti tidak
baik bagi anak.
Pasalnya, mereka akan merasa tertekan dan stres dengan tuntutan-tuntutan agar bisa masuk SD. Tekanan dan rasa stres tersebut, lanjut Ifina, akan mereka bawa hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan sehingga bisa saja mengganggu mental emosional anak.
Baca juga: Benarkan Calistung Jadi Syarat Masuk SD
“Inilah
salah satu penyebab anak 'mogok belajar' di jenjang pendidikan berikutnya
karena masa bermainnya sudah diambil untuk belajar sehingga masa belajarnya
akan mereka ambil untuk bermain,” terangnya.
Kedua,
memaksa anak mahir calistung bisa menghambat kreativitas. Ifina menyebutkan,
setiap anak terlahir unik dengan minat, bakat, gaya belajar, dan potensi yang
berbeda-beda.
Ketika waktu
anak dihabiskan untuk belajar calistung, di saat yang bersamaan mereka
kehilangan kesempatan untuk mengasah potensi yang sebenarnya mereka miliki.
“Mungkin
jika kita membiarkan mereka tumbuh sesuai potensinya, bisa saja kelak ia
menjadi pelukis yang profesional, pemain bola, penyanyi, dan lainnya,”
tuturnya. Minimnya pengetahuan orangtua pun mengorbankan waktu anak-anak untuk
belajar sesuatu yang bukan bakatnya dan tidak sesuai dengan tahapan
perkembangannya.
Pola Asuh
Ifina
menilai, dalam kondisi ini anak benar-benar sangat dirugikan. Orangtua maupun
guru memerlukan pemahaman untuk tidak mengutamakan ambisi agar anak mencapai
tujuan tertentu yang justru memperburuk tumbuh kembang anak.
“Memaksakan
berarti telah merampas hak bermain anak usia dini. Tindakan ini juga sama
halnya dengan kekerasan intelektual kepada anak,” tegasnya.
Dia
mengatakan, saat ini sudah banyak pihak yang semakin menyadari permasalahan
tersebut, termasuk para mitra Kemendikbud Ristek yang bergerak di bidang
pendidikan anak usia dini.
Ifina
menyebutkan, stakeholder pendidikan pun berupaya mendorong orangtua dan
pendidik PAUD lebih mengedepankan pengasuhan dan pendidikan anak sesuai tahapan
usianya, contohnya seperti yang dilakukan Tanoto Foundation melalui program
Siapkan Generasi Anak Berprestasi (Sigap).
“Jadi ayah
dan bunda tidak perlu terlalu khawatir. Anak akan mempunya kemampuan calistung
pada waktunya selama ia mendapatkan stimulasi yang sesuai dengan tahapan
usianya,”
Katanya. Di
sisi lain, kata Ifina, kondisi mental emosional anak yang terganggu akibat
pemaksaan justru lebih sulit untuk dipulihkan.
Saintek
Trending
Trending
Trending
Trending
12 April 2026 - 20:13 wib
05 April 2026 - 21:05 wib
05 April 2026 - 16:34 wib
05 April 2026 - 16:33 wib
05 April 2026 - 16:32 wib