Pesantren Sukamanah di Desa Sukarapih, Kecamatan Sukarame, merupakan salah satu pesantren yang cukup terkenal di Kabupaten Tasik
SIAPBELAJAR.COM - Tasikmalaya dikenal sebagai kota seribu pesantren atau kota santri. Hal ini dilihat dari banyaknya pondok pesantren mulai dari salafi hingga modern.
Pondok pesantren bahkan ada di setiap kecamatan. Dari sekian banyak pesantren, berikut 5 pesantren di Tasikmalaya yang cukup populer dan tersohor hingga ke berbagai wilayah.
1. Pesantren Sukamanah
Pesantren Sukamanah di Desa Sukarapih, Kecamatan Sukarame, merupakan salah satu pesantren yang cukup terkenal di Kabupaten Tasikmalaya. Pesantren Sukamanah didikan oleh K.H. Zainal Musthafa pada 1927.
K.H. Zainal Musthafa lahir Kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna, pada 1899 dari pasangan Nawapi dan Ratmah yang merupakan petani dengan ketaatan beribadah yang cukup tinggi dan kecintaan terhadap agama.
Saat ini, kampung tempat kelahirannya tersebut masuk ke wilayah Kecamatan Sukarame setelah adanya pemekaran. Nama kecil K.H. Zainal Musthafa, yakni Hudaeni.
Namun, setelah menunaikan ibadah haji pada 1927, nama Hudaeni berganti menjadi Zainal Musthafa. Sejak remaja, dia kenyang dengan pendidikan keagamaan.
Setelah menamatkan di sekolah rakyat (SR), dia melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Gunung Pari di bawah asuhan kakak sepupunya, K.H. Zainal Muhsin.
Pada 1927, K.H. Zainal Musthafa mendirikan Pondok Persantren di Kampung Cikembang dengan nama Pondok Pesantren Sukamanah di atas tanah wakaf untuk rumah dan masjid dari seorang janda dermawan bernama Hj. Siti Juariah.
Dengan berbekal Ijazah Sekolah Rakyat dan ilmu-ilmu yang diraihnya dari beberapa pesantren selama 17 tahun, beliau memimpin pesantren ini selama kurang lebih 17 tahun.
Dalam kurun waktu itu K.H. Zainal Musthafa mampu mencetak ratusan santri menjadi ‘alim yang sanggup dan cakap memberikan pelajaran agama di tempat/kampung halamannya masing-masing.
2. Pesantren Cipasung
Salah satu pesantren di Tasikmalaya yang besar dan dihuni oleh ribuan santri yakni Pesantren Cipasung di Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya.
Di pesantren ini, para santri tidak hanya mendapatkan pembelajaran agama melalui kitab kuning, tetapi juga keilmuan umum dengan adanya beberapa lembaga pendidikan mulai dari madrasah ibtidaiyah hingga universitas.
Santri yang menimba ilmu, bukan hanya datang dari wilayah sekitar pondok pesantren, tetapi juga dari kota-kota lain di Indonesia. Pesantren Cipasung didirikan oleh KH. Ruhiat pada 1931.
Saat pendiriannya, santri hanya berjumlah 40 orang. Kebanyakan, santrinya merupakan warga sekitar pondok pesantren atau disebut juga santri kalong.
3. Pesantren Sukahideung
Pondok Pesantren Perguruan K.H.Z. Musthafa Sukahideng didirikan pada masa penjajahan Belanda. Sepulangnya dari menuntut ilmu, pada 1922 K.H. M. Zainal Muhsin mendirikan Pesantren di Kampung Bageur yang bernama Pesantren Sukahideng.
Tanah yang ditempati pesantren merupakan wakaf untuk dijadikan masjid dan sarana berdakwah. Selain aktif menjadi pengasuh pesantren di tempatnya, ia juga rajin memberi pengajian ke kampung-kampung sekitar, seperti Desa Sukarapih maupun di luar desa. K.H. Zainal Muhsin Wafat pada 1938.
Karena putra pertama beliau, yaitu K.H. A. Wahab Muhsin masih berusia 17 tahun, maka kepengurusan Pesantren dipimpin oleh salah seorang menantu K.H. Zenal Muhsin, yaitu K.H. Yahya Bahtiar Afandi sampai dengan 1945.
Dari 1945 sampai dengan 2000 pesantren dipimpin oleh K.H. A. Wahab Muhsin. Mulai dari 1989 KH. M.A. Wahab Muhsin sakit dan kepemimpinannya dilimpahkan kepada adiknya yang keenam K.H. Moh. Syihabuddin Muhsin.
Pada Januari 2007 K.H. Moh. Syihabuddin Muhsin wafat, maka kepemimpinan Pondok Pesantren Sukahideng diteruskan oleh putra sulung K.H. Wahab Mushsin, yaitu Prof. Dr. KH. T. Fuad Wahab sampai sekarang.
Di pesantren ini, ada dua pendidikan, yakni formal dan non-formal. Untuk pendidikan formal di antaranya Madrasah Ibtidaiyah, MTs, SMK, dan Diniyah Takmiliah.
Sedangkan untuk pendidikan non-formalnya, yakni Madrasah Diniyah, Tahfidzil Qur’an dan Tahassus Pendalaman Kitab Kuning.
Saat ini, sedikitnya 2.000-an santri dari berbagai kota/kabupaten di Jawa Barat dan luar Jawa tengah menimba ilmu di pesantren ini.
4. Pesantren Cintawana
Pesantren Cintawana yang berada di Desa Cikunten, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya disebut-sebut sebagai salah satu pesantren tertua di Tasikmalaya yang didirikan oleh KH Muhammad Toha pada 12 April 1917.
Jauh sebelum mendirikan pesantren Cintawana, KH Muhammad Toha mendirikan Pesantren Cipansor di Desa Buniasih, Kecamatan Ciawi pada 1812. Namun karena intervensi Belanda kala itu, pesantren terpaksa dipindah domisili ke Singaparna.
Dengan berbagai halangan dan rintangan pada masa kolonial, KH Muhammad Toha mampu mendirikan dan mengembangkan Pesantren Cintawana.
Hingga pada 1945, KH Muhammad Toha wafat dan kepengurusan pesantren dilanjutkan oleh putra sulungnya yakni KH Ali.
Pada masa kepemimpinan KH Ali atau periode 1948 hingga 1958, Pesantren Cintawana menetapkan sistem pengajaran yang berbeda dengan pesantren lainnya dengan kegiatan majelis taklim.
Hal ini lantaran, santri maupun pengasuh pesantren ikut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan tergabung dalam barisan Sabilillah dan Hizbullah. Pada periode itu pula, Pesantren Cintawana sempat dijadikan markas perjuangan TNI.
KH Ishak Farid wafat pada 1987 di usia 63 tahun. Perjuangan mengembangkan Pesantren Cintawana diteruskan oleh adik kandungnya KH Onang Zaenal Muttaqin, dibantu oleh keluarga di antaranya KH Adang Sofyan, KH Aep Saepulloh, KH A Rosidin, dan KH Asep Sujai.
5. Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah
Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah yang berlokasi di Kampung Condong RT 01 RW 04 Kelurahan Setianegara, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya merupakan salah satu pondok pesantren tertua yang ada di Tasikmalaya.
Pesanten itu, didirikan sekitar 1864 oleh K.H. Nawawi yang berasal dari kampung Sukaruas Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya.
Awal mula pendirian pesantren ini, memberlakukan sistem pendidikan klasikal yang mengkhususkan diri pada pengajian kitab-kitab klasik ulama-ulama terdahulu.
Pesantren ini berdiri diatas area 4 hektare tanah dengan fasilitas asrama putra, asrama putri, gedung sekolah , mesjid, mushola , fasilitas lab, fasilitas olahraga, lahan perkebunan, lahan perikanan, MCK.
Pada awalnya pesantren ini hanya mengajarkan kitab kuning, hingga sudah banyak alumninya yang menjadi pejuang penyebar agama di berbagai daerah yang datang dari pelosok nusantara dan luar negeri.
Sejak 1985 pondok pesantren ini sudah mulai memadukan kurikulum pondok pesantren dengan kurikulum gontor, dan sejak 2001 sudah memadukan dengan kurikulum pendidikan nasional, yaitu SMP Terpadu. Mulai 2003-2004 dibuka SMA Terpadu dengan program lanjutan dari SMA Terpadu dan Program Intensif (SMP dari luar).
Sama seperti halnya SMP Terpadu, SMA Terpadu juga paduan dari kurikulum Pendidikan Nasional, Kurikulum Pondok Pesantren dan kurikulum Gontor. Pada 2017 didirikan Sekolah Tinggi Imu Adab dan Budaya Islam (STIABI) Riyadlul Ulum dengan dua prodi, Bahasa Dan Sastra Arab dan Sejarah Peradaban Islam.
Seniraga
Saintek
Saintek
Saintek
06 February 2024 - 20:07 wib
14 August 2023 - 07:35 wib
14 August 2023 - 07:27 wib
10 August 2023 - 13:09 wib
09 August 2023 - 11:28 wib