Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan melalui Kementerian Ketenagakerjaan merilis data terbaru terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) nasional hingga Maret 2026. Tercatat sebanyak 8.389 tenaga kerja terdampak PHK, berdasarkan data peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) dari BPJS Ketenagakerjaan.
Namun, di balik angka tersebut, tersirat dinamika yang lebih dalam: pergeseran struktur pasar kerja nasional yang menuntut adaptasi cepat dari tenaga kerja maupun pelaku industri.
Berdasarkan laporan resmi, Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah PHK tertinggi, mencapai 1.721 orang atau sekitar 20,51 persen dari total nasional. Angka ini menempatkan Jawa Barat sebagai episentrum tekanan ketenagakerjaan, seiring tingginya konsentrasi sektor industri manufaktur di wilayah tersebut.
Di posisi berikutnya, Kalimantan Selatan mencatat 1.071 tenaga kerja terdampak PHK, disusul Kalimantan Timur sebanyak 915 orang, Banten sebanyak 707 orang, serta Jawa Timur dengan 649 orang.
Dominasi wilayah industri seperti Jawa Barat dalam angka PHK mengindikasikan bahwa sektor padat karya tengah menghadapi tantangan serius, baik dari sisi daya saing maupun transformasi menuju industri yang lebih modern dan berbasis teknologi.
Diperlukan langkah strategis berupa peningkatan keterampilan (reskilling dan upskilling), penguatan pelatihan vokasi, serta penciptaan ekosistem industri baru yang mampu menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan.
Dorong Kolaborasi untuk Solusi Jangka Panjang
Pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam menghadapi dinamika ini. Transformasi pasar kerja menuntut sinergi lintas sektor agar tenaga kerja Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing di tengah perubahan global.
Dengan demikian, data PHK hingga Maret 2026 ini bukan sekadar catatan statistik, melainkan alarm sekaligus momentum untuk mempercepat transformasi ketenagakerjaan nasional menuju sistem yang lebih adaptif, inklusif, dan berdaya saing tinggi.
Ekonomi
Ekonomi
Ekonomi
Ekonomi
Ekonomi
16 April 2026 - 14:13 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
13 April 2026 - 20:43 wib
13 April 2026 - 20:31 wib