Ilustrasi - Bulan Baru Stroberi terjadi setiap sembilan tahun sekali, sehingga akan terjadi kembali pada 2031 dan 2040
SIAPBELAJAR.COM – Pertengahan Bulan Juli hingga Juni nanti
kita bakal disuguhkan pemandangan indah di langit malam hari. Ada tiga fenomena
antariksa yang terbilang langka, sehingga sayang jika dilewatkan. Kejadiannya di
rentang waktu antara 14 Juni hingga 14 Juli 2022.
Ketiga fenomena itu adalah Purnama Stroberi Super atau Full
Strawberry Supermoon, Bulan Baru Stroberi Mikro (New Strawberry Supermoon), dan
Purnama Rusa Super (Full Buck Supermoon). Namun, untuk yang Purnama Stroberi
Super sudah terjadi pada 14 Juni kemarin.
Tapi jangan khawatir, karena masih ada dua fenomena lagi yang belum muncul, yakni Bulan Baru Stroberi Mikro dan Purnama Rusa Super. Diprediksi, Bulan Baru Stroberi Mikro akan terjadi pada 29 Juni 2022, pukul 09.52 WIB, dan Purnama Rusa Super akan terjadi pada 14 Juli 2022, pukul 01.57 WIB pada jarak 357.418 km.
Baca juga: Ukraina akan Melarang Buku dan Musik Rusia di Media dan Ruang Publik
Lantas, kenapa diberi nama stroberi? Sebenarnya, itu
merupakan definisi yang dipakai untuk fase bulan baru. Hal itu berpijak pada
Almanak Petani Tua (The Old Farmer's Almanac), sebuah buku astronomi yang
diterbitkan setiap tahunnya oleh Old Farmer's Almanac sejak 1792 silam.
Lembaga tersebut mempunyai istilah tersendiri untuk menamai
purnama yang terjadi tiap bulannya sebagai penanda musim dan perilaku hewan
yang timbul pada musim-musim tertentu bagi penduduk di Amerika Serikat. Misalnya,
tiap Juni merupakan awal bagi musim buah stroberi dan memasuki Juli, tanduk
rusa jantan muda mulai tumbuh.
Peneliti Pusat Riset Antariksa, Badan Riset dan Inovasi
Nasional (BRIN), Andi Pangerang, menjelaskan, penyebab sebenarnya purnama kali
ini menjadi istimewa, karena bertepatan dengan Bulan Purnama Super (Full
Supermoon) atau yang secara teknis disebut Purnama Perige (Perigeal Full Moon).
Sedangkan untuk Bulan Baru Stroberi bertepatan dengan Bulan
Baru Mikro (New Micromoon) atau Bulan Baru Apoge (Apogeal New Moon). “Bulan
Baru Mikro kali ini diapit oleh dua Bulan Purnama Super yang terjadi pada dua
bulan berturut-turut. Fenomena ini terakhir kali terjadi pada 2004 dan 2013. Bisa
dikatakan fenomena ini terjadi setiap sembilan tahun sekali. Fenomena ini akan
terjadi kembali pada 2031 dan 2040,” papar Andi.
Bisa Diamati Tanpa Alat Optik
Andi menerangkan, Bulan Baru Stroberi Mikro tidak dapat
disaksikan sebelum matahari terbit. Ini dikarenakan terbitnya yang lebih lambat
dibandingkan matahari dan permukaan bulan yang menghadap bumi tidak terkena
cahaya matahari sehingga tampak gelap.
“Untuk menyaksikan fenomena ini, masyarakat cukup
mengarahkan pandangan sesuai arah terbit hingga terbenamnya bulan pada waktu
yang telah ditentukan sebelumnya. Fenomena ini bisa diamati tanpa perlu bantuan
alat optik apapun, kecuali jika ingin mengabadikannya dalam bentuk foto ataupun
video,” jelasnya.
Seperti pada fase bulan baru pada umumnya, Purnama Stroberi
Super, Bulan Baru Stroberi Mikro, maupun Purnama Rusa Super dapat menimbulkan
pasang laut yang lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Karenanya,
nelayan disarankan tidak melaut di dua hari sebelum dan dua hari sesudah puncak
fenomena tersebut. ***
Saintek
Saintek
Saintek
12 April 2026 - 20:13 wib
05 April 2026 - 21:05 wib
05 April 2026 - 16:34 wib
05 April 2026 - 16:33 wib
05 April 2026 - 16:32 wib