3 Mahasiswa UMM Lulus Kuliah Tanpa Skripsi

Ayu Muhafilah

Penulis : Ayu Muhafilah

0

0

Saintek
1656911159018_1656911248

Film Dokumenter Karya Mahasiswa UMM

SIAPBELAJAR.COM - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melahirkan lulusan dan mahasiswa penuh karya, mulai dari tingkat regional hingga tingkat internasional.

Kali ini giliran tiga mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi yaitu Devano Ramadhan Pratama, Ahmad Ali Mahfud dan Muhammad Sofwan.

Film yang mereka garap berhasil tayang di Wathcdoc Documentary pada pertengahan Juni lalu. Karya tersebut juga sekaligus membuat mereka bisa lulus tanpa skripsi.

Bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir, skripsi mungkin bisa menjadi pemicu stres dan overthinking, namun tidak berlaku bagi 3 mahasiswa tersebut. 

Baca juga: Pendaftaran PPG Prajabatan 2022 Diperpanjang

Ide Pembuatan Film

Devano mengatakan bahwa ide film tersebut muncul sejak awal semester 2 ketika mereka diajak untuk membuat film yang berlokasi di Gili Ketapang.

Setibanya di sana, mereka melihat permasalahan lingkungan yang memprihatinkan. Mulai dari sampah yang menumpuk, pengerukan pasir, dan pengambilan terumbu karang untuk pembangunan rumah. 

“Jika kebiasaan itu berlanjut, tentu akan memberikan dampak buruk bagi pulau ini ke depannya. Apalagi mengingat Gili Ketapang adalah salah satu objek wisata bahari unggulan Jawa Timur” kata Devano.

Mengangkat Isu Lingkungan

Kemudian anggota lainnya, Mahfud mengatakan bahwa film ‘Menyisir Pesisir Gili Ketapang’ mengangkat isu lingkungan yang kompleks termasuk kebiasaan masyarakat yang ternyata memberikan dampak buruk bagi lingkungan.

Sementara di sisi lain, pemerintah menjalankan program pariwisata tanpa memperhatikan kondisi lingkungan di Gili Ketapang. 

Kondisi pemukiman yang bertambah menjadi 10.000 jiwa pun memiliki dampak pada semakin kurangnya ruang lapang di pulau tersebut. Populasi kambing liar yang ada juga semakin meningkat, padahal lahan terus berkurang. 

Akhirnya, sampah tersebut menjadi makanan bagi para kambing-kambing. Tidak jarang, beberapa kambing mati di pinggir pantai dan dibiarkan hanyut terbawa oleh arus laut.

“Kondisi pemukiman yang semakin padat, sampah menumpuk, kebiasaan masyarakat yang susah diubah dan solusi yang tak kunjung datang akan berujung pada hilangnya pulau ini” ujar Mahfud.

Kurangnya Perawatan Lingkungan

Lalu, Sofwan menyebutkan bahwa pariwisata Gili Ketapang mulai dikenal banyak orang sejak tahun 2012-2013 dan puncaknya pada 2016-2017.

“Banyak orang di sana merasakan hal positif dari datangnya pariwisata, sehingga mulai dipandang pemerintah dengan pembangunan dermaga selatan. Sayangnya, pertumbuhan pariwisata yang tinggi tidak dibarengi dengan perawatan lingkungan yang mumpuni,” tegas Sofwan. 

Harapan

Ketiganya berharap bahwa film ini bisa menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

Begitupun dengan pemerintah yang harus segera bergerak dan memberikan solusi kepada warga Gili Ketapang.

“Jadi, program tidak hanya menjadi program saja, tapi benar-benar dilaksanakan agar memberikan dampak positif. Semoga film ini dapat mengedukasi masyarkat agar kebiasaannya berubah dan ketahanan pulau terjaga,” ungkap ketiganya.

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1656911159018_1656911248

Saintek

3 Mahasiswa UMM Lulus Kuliah Tanpa Skripsi

SIAPBELAJAR.COM - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melahirkan lulusan dan mahasiswa penuh karya, mulai dari tingkat regional hingga tingkat internasional. Kali ini giliran tiga mahasiswa