SIAPBELAJAR.COM - Google meluncurkan fitur Play Store baru yang disebut Keamanan Data, yang mengharuskan pengembang antara lain mengungkap apakah mereka mengumpulkan data? Dan apakah data itu dibagikan kepada pihak ketiga?
Di atas kertas, kedengarannya bagus sampai Google memutuskan untuk menghapus daftar izin aplikasi.
Orang-orang dapat menggunakan daftar izin untuk memeriksa fakta klaim pengembang dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang dilakukan pengembang dengan informasi pengguna.
"Tetapi dengan hilangnya daftar, Anda tidak dapat memverifikasi pernyataan pengembang. Alih-alih menciptakan lingkungan yang lebih transparan, Google membuatnya lebih suram," kata pemerhati teknologi.
Ia mengatakan, bahwa Bagian Keamanan Data pada dasarnya berjalan pada sistem kehormatan (Honor System).
Melihat laman Keamanan Data Google di situs web dukungannya, Google menyatakan pengembang bertanggung jawab untuk membuat pernyataan yang lengkap dan akurat dalam mencantuman toko aplikasi mereka di Google Play.
Google menambahkan, bahwa saat Google meninjau aplikasi, Tidak dapat membuat keputusan atas nama pengembang tentang bagaimana mereka menangani data pengguna.
Masalah dengan Honor System, bahwa pengembang tidak berkewajiban untuk jujur dengan pelanggan. Mengapa harus jujur jika mereka tidak harus melakukannya? (collect data dan membagikan kepada pihak ketiga). Pengembang berpotensi memanen semua data sensitif yang mereka inginkan dan pengguna tidak akan lebih bijaksana.
Melansir Techradar, pengaktifan kembali daftar izin ini akan meredakan beberapa kekhawatiran para pengguna aplikasi. Sementara, orang-orang mendapat informasi yang lebih baik, Google terlihat bagus, dan aplikasi lebih tepercaya.
Ketakutan & Kekhawatiran Pengguna Bisa Difahami
Reaksi negatif yang datang dari masyarakat pengguna aplikasi bukannya tidak beralasan. Pengumpulan data adalah konsekuensi dari hidup di dunia yang luber dengan teknologi.
Mengumpulkan informasi adalah hal penting bagi pengembang untuk membuat aplikasi mereka lebih baik, tetapi banyak pengguna juga memiliki rasa takut kehilangan kendali atas data diri mereka.
Sebuah laporan mengatakan di sebuah media mengatakan, pada Maret 2022 terjadi pelanggaran data besar dari serangan terhadap Microsoft. Sementara itu, pelanggaran data pada Aplikasi Tunai juga terjadi di bulan April, tahun yang sama.
Google telah menyerukan peningkatan keamanan di seluruh industri teknologi, tetapi terkadang tindakannya bertentangan dengan aspirasi privasi dan keamanan ini.
"Dan terkadang, dalam upaya untuk menyederhanakan sistemnya, ia melupakan tujuan yang lebih besar," kata techradar.
Bagaimanapun, terdengar sangat menyenangkan untuk melihat apa yang dilakukan Google tersebut,
Sobat Siapbelajar.com. Dan seberapa cepat cara itu bisa mengoreksi apa yang selama ini terjadi, bila kita berbicara tentang keamanan data pengguna.
Berita Terkait
Trending
Mediana.id - Logo Twitter yang identik dengan burung biru ternyata akan segera berubah menjadi huruf “X”. Hal ini diumumkan oleh pemilik Twitter, Elon Musk, melalui akun media sosialnya pada 23 Ju
Saintek
Mediana.id - Aplikasi Threads adalah salah satu aplikasi media sosial terbaru yang dikembangkan oleh Meta, perusahaan induk dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Aplikasi ini menawarkan layanan perc
Saintek
Mediana.id - Threads adalah aplikasi media sosial terbaru dari Meta, perusahaan induk dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Aplikasi ini diluncurkan pada tanggal 6 Juli 2023 dan langsung menjadi tre
Saintek
Mediana.id - YouTube merupakan platform video yang sangat populer dan banyak digunakan oleh orang-orang untuk berbagi konten, informasi, hiburan, dan lain-lain. Banyak orang yang tertarik untuk menjad
Saintek
SIAPBELAJAR.COM - Seorang siswa SMK asal Semarang berhasil menemukan celah keamanan (bug) di sistem Google. Siswa tersebut adalah Abdullah Mudzakir, siswa kelas 12 SMKN 8 Semarang berhasil menemukan b