Untuk menghadapi LKS nasional, ia akan meningkatkan pengetahuan seputar keperawatan kesehatan dan bahasa Inggrisnya
SIAPBELAJAR.COM – Sadam Muhamad Fauzi, siswa SMKN 15 Bandung,
tak menyangka akan menjadi juara dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Tingkat
Provinsi Bidang Health and Social Care. Ia menjadi satu-satunya peserta yang
berpartisipasi dari kompetensi keahlian Pekerjaan Sosial (Peksos), bukan keperawatan
kesehatan.
“Pas awal seleksi LKS ngerasa kurang pede. Lawan
saya dari keperawatan kesehatan, lombanya tentang keperatawan, tapi saya dari
jurusan pekerjaan sosial," ujarnya saat ditemui di sekolah, Jln.
Gatot Subroto No.4, Kota Bandung, Kamis (28/7).
Meski bidang lombanya health and social care (keperawatan kesehatan dan sosial), kisi-kisi perlombaan yang diikuti lebih condong pada kesehatan keperawatan. Sehingga menurut pengakuannya, ini menjadi tantangan tersendiri bagi siswa yang baru naik kelas XII itu untuk bersaing dengan siswa yang memang sudah belajar tentang keperawatan kesehatan sejak kelas X.
"Tapi Alhamdulillah, berkat bimbingan Bu Resna dan guru-guru peksos lainnya, saya bisa," ucapnya lega.
Berkat Peran Guru Pembimbing
Ada empat tugas yang Sadam laksanakan saat berkompetisi di
ajang LKS tingkat provinsi. Pertama, melakukan penangan kasus pada pasien,
membuat analisis lengkap, membuat karya tulis ilmiah, dan mempresentasikannya
dalam bahasa Inggris. Keempat tugas tersebut berhasil ia jalankan dengan
baik.
Menurutnya, hasil tersebut tak lepas dari peran guru
pembimbing, kepala sekolah, seluruh guru peksos SMKN 15 Bandung serta kerabat
dan adik kelas. Capaiannya itu tak lepas dari pengorbanan kolektif semua
pihak.
"Pengorbanan saya enggak terlalu besar, paling hanya waktu libur dan jam tidur yang berkurang. Sedangkan pembimbing saya (Bu Resna) harus berkorban lebih besar karena harus jauh dari keluarganya (di Kuningan) demi membimbing saya," cerita siswa kelas XII keperawatan sosial 3 ini.
Untuk menghadapi LKS nasional, putra sulung dari Hari
Priyatno dan Rina itu akan meningkatkan pengetahuan seputar keperawatan
kesehatan dan skill berbahasa Inggrisnya. "Sebab, di nasional
nanti full bahasa Inggris. Praktik dan presentasinya menggunakan
bahasa Inggris," terang siswa kelahiran Bandung, 18 Mei 2004 itu.
Meski awalnya merasa 'salah jurusan', namun Sadam mengkhidmati banyak sekali manfaat yang ia rasakan ketika menjadi seorang perawat sosial di kompetensi keahlian peksos.
"Keperawatan sosial membuat saya lebih peduli dan open minded. Sebab, peksos harus menerima setiap klien dengan keadaannya masing-masing. Jadi, saya bisa belajar menerima orang lain dengan cara pikirnya masing-masing karena semua manusia itu unik," tuturnya.
Saintek
Saintek
Saintek
Share and Care
Saintek
12 April 2026 - 20:13 wib
05 April 2026 - 21:05 wib
05 April 2026 - 16:34 wib
05 April 2026 - 16:33 wib
05 April 2026 - 16:32 wib