8 dari 10 Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Lulusan Siap Pakai

Ayu Muhafilah

Penulis : Ayu Muhafilah

0

0

Saintek
1654745657489_1654745685

Ilustrasi - Paktisi Mengajar akan membawa pembaharuan pada sistem pembelajaran di kelas

SIAPBELAJAR.COM – Indonesia bakal mendapatkan bonus demografi pada lima atau sepuluh tahun ke depan. Saat itu jumlah penduduk Indonesia akan didominasi oleh usia produktif. Di satu sisi akan menjadi berkah, namun di sisi lain bisa berubah jadi musibah.

Dikatakan musibah lantaran ada data yang dirilis Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards. Berdasarkan hasil survei 2014 s.d. 2016 diketahui delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia sulit mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap kerja.

Padahal, dari tahun ke tahun jumlah lulusan semakin bertambah banyak. Semestinya, dengan banyaknya calon-calon tenaga kerja yang baru lulus kuliah, perusahaan-perusahaan akan mudah mendapatkan karyawan. Tapi faktanya tidak begitu.

Baca juga: Seleksi Mandiri UGM dibuka!

Hal itu dikarenakan oleh minimnya keahlian lulusan perguruan tinggi. Mereka tidak mempunyai skill yang dibutuhkan industri. Dan itu salah satu sebabnya adalah kurikulum di perguruan tinggi banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri.

CEO PT Paragon Technology and Innovation, Salman Subakat, mengamini persoalan tersebut. Ia menilai, ketika mahasiswa belajar di kampus, apa yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan konteks kebutuhan industri.

Praktisi Mengajar

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, mengakui, masih ada tantangan yang cukup besar dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya berkaitan dengan tingkat kesiapan lulusan perguruan tinggi untuk terjun di dunia kerja.

Untuk itu, ia menyerukan perguruan tinggi Indonesia untuk bertransformasi, bergerak lebih cepat agar bisa melompat ke masa depan. Saat ini sudah bukan lagi waktunya mengejar ketertinggalan, tetapi Indonesia harus berada di garis depan dan memimpin kemajuan dunia.

Salah satu program yang digulirkan adalah Praktisi Mengajar. Jika pada program Kampus Merdeka mahasiswa dikirim ke luar kampus untuk memperoleh pengalaman kerja, maka pada program Praktisi Mengajar, para ahli di dunia industri yang justru datang ke dalam kampus untuk membagikan pengalaman praktisnya.

“Kita ingin para praktisi yang hebat-hebat di dunia industri mau datang ke kampus dan membagikan pengetahuannya pada para mahasiswa dan dosen. Melalui kolaborasi antara praktisi dan dosen, kita juga ingin menghadirkan ruang pembelajaran yang lebih kolaboratif dan partisipatif,” papar Nadiem.

Kehadiran program Paktisi Mengajar, sebut Menteri Nadiem, akan membawa pembaharuan pada sistem pembelajaran di kelas, sehingga mahasiswa bisa belajar dengan metode studi kasus masalah terkini, ilmu dan teori yang diperoleh mahasiswa bisa diterapkan pada model pemecahan masalah, dan mahasiswa juga bisa mengembangkan soft skills-nya dengan bekerja berkelompok. *** 

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1654745657489_1654745685

Saintek

8 dari 10 Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Lulusan Siap Pakai

SIAPBELAJAR.COM – Indonesia bakal mendapatkan bonus demografi pada lima atau sepuluh tahun ke depan. Saat itu jumlah penduduk Indonesia akan didominasi oleh usia produktif. Di satu sisi akan menjadi