Mengenal ADHD: Cara Mendeteksi Hingga Menangani

Ayu Muhafilah

Penulis : Ayu Muhafilah

0

0

Share and Care
1662106417129_1662106630

Cara Mendeteksi Hingga Menangani ADHD

SIAPBELAJAR.COM - ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder adalah istilah medis untuk gangguan mental yang menyebabkan anak sulit memusatkan perhatian, serta memiliki perilaku impulsif dan hiperaktif.

 Kondisi ini memang menyerang anak-anak, tetapi gejala yang ditimbulkan bisa bertahan hingga remaja bahkan dewas dan kondisi ini dapat berdampak pada prestasi anak di sekolah.

ADHD dikelompokan menjadi 3 subtipe.

Dominan Hiperaktif-impulsif

Anak-anak yang mengidap ADHD tipe ini umumnya memiliki masalah hiperaktivitas yang dibarengi dengan perilaku impulsif.

Dominan Inatentif

Pengidap gangguan ADHD tipe ini memiliki ciri sulit untuk menaruh perhatian penuh pada satu hal dalam satu waktu. Anak-anak dengan kondisi ini cenderung tidak bisa memperhatikan dengan baik.

Kombinasi Hiperaktif-impulsif dan Inatentif

Tipe ketiga ini merupakan kombinasi dari semua gejala. Pada tipe ini, anak menunjukkan ciri hiperaktif, impulsif, dan tidak dapat memperhatikan dengan baik.

Gejala ADHD

Jika kita memerhatikan dengan seksama tanda-tanda anak ADHD dapat dilihat dari perilakunya. Mengalami kesulitan fokus dan berperilaku tenang pada satu waktu tertentu merupakan hal yang wajar bagi anak-anak. Namun, anak-anak dengan ADHD mengalami hal ini jauh lebih sering dan cukup berat, hingga mengganggu proses belajar di sekolah, bahkan pertemanan dengan teman.

Ciri-ciri anak mengidap ADHD

Ciri-ciri anak ADHD yang biasa terjadi, seperti hiperaktif, perilaku impulsif, kesulitan fokus. Anak-anak dengan ADHD mungkin mengalami kesulitan untuk duduk diam, mengikuti petunjuk, dan menyelesaikan tugas di rumah atau sekolah. Gejala ADHD pada anak biasanya dimulai sebelum usia anak 12 tahun. Bahkan pada beberapa anak sudah terlihat sejak usia 3 tahun. Adapun gejala ADHD pada anak yang mungkin terjadi sebagai berikut.

 

Anak banyak melamun

Anak pelupa

Anak gelisah

Terlalu banyak bicara

Anak membuat kesalahan yang ceroboh

Anak sulit menahan godaan

Anak mengalami kesulitan bergaul dengan orang lain

Anak mengalami kesulitan bergiliran atau bergantian

Penyebab ADHD

Jika berbicara penyebab ADHD, sebenarnya para ilmuan sedang mempelajari penyebab dan faktor risiko dalam upaya mengurangi kemungkinan seseorang menderita ADHD. Dihimpun dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penelitian saat ini menunjukkan bahwa genetika memainkan peran penting. Studi terbaru tentang gen kembar menghubungkan ADHD. Selain genetika, para ilmuan juga mempelajari kemungkinan penyebab dan faktor risiko lainnya termasuk:

Riwayat kerusakan otak

Paparan kimia tertentu dari lingkungan selama kehamilan

Kelahiran prematur

Berat badan lahir rendah

Dilihat dari data penelitian menemukan tidak adanya hubungan ADHD dengan kebiasaan terlalu banyak makan gula, terlalu sering menonton televisi, pola asuh anak atau faktor sosial dan lingkungan, seperti kemiskinan atau keluarga yang kurang harmonis. Akan tetapi, bukti yang ada memang belum cukup kuat untuk menyimpulkan apa penyebab utama ADHD.

Cara Menangani ADHD

Diagnosis dan pengobatan dini dapat membantu mengelola gejala. Terdapat beberapa pendekatan untuk mengobati ADHD. Pengobatan ADHD sendiri melibatkan beberapa pihak yang perlu bekerja sama; peran terapis, dokter, guru, dan orang tua sangat penting.

1. Obat-Obatan

Metilfenidat merupakan obat yang paling sering diresepkan untuk mengobati ADHD. Obat ini dapat membantu mengendalikan perilaku hiperaktif dan impulsif, serta meningkatkan konsentasi. Sebagian besar efek sampingnya kecil dan akan membaik seiring waktu. Dokter juga dapat menurunkan dosis perlahan lahan bila kondisi ADHD sudah mulai terkontrol lewat terapi pada beberapa kasus.

Penting untuk dipahami, bahwa pengobatan merupakan penanganan suportif, yang digunakan dengan tujuan supaya terapi ADHD dapat berjalan dengan efektif. Pada kasus yang jarang terjadi, stimulan memiliki efek samping yang dapat memperburuk kondisi penyakit kejiwaan tertentu, seperti depresi, atau kecemasan atau rekasi psikosistik.

2. Terapi

Terapi merupakan penanganan utama bagi penderita ADHD. Biasanya perawatan terapi fokus pada perubahan perilaku dan pembentukan kebiasaan baru. Biasanya untuk anak ADHD di bawah 6 tahun, American Academy of Pediatrics (AAP), merekomendasikan teapi perilaku termasuk pelatihan orang tua dalam manajemen perilaku sebagai pengobatan pertama, sebelum melakukan pengobatan lain. Lain halnya untuk usia anak 6 tahun ke atas biasanya bisa melakukan pengobatan dan terapi perilaku bersama orang tua.

Terapi ini berlangsung hingga usia 12 tahun dan jenis terapi pelatihan perilaku lainnya untuk remaja. Pada kasus tertentu, jalur pendidikan khusus dapat membantu anak belajar di sekolah. Memiliki jadwal sehari hari yang terstruktur dan rutinitas sangat membantu anak-anak dengan ADHD. Selain itu, konseling juga dapat membantu seseorang dengan ADHD mempelajari cara yang lebih baik untuk menangani emosi dan frustasi mereka. Bahkan konseling dapat membantu anggota keluarga lebih memahami anak dengan ADHD.

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1662106417129_1662106630

Share and Care

Mengenal ADHD: Cara Mendeteksi Hingga Menangani

SIAPBELAJAR.COM - ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder adalah istilah medis untuk gangguan mental yang menyebabkan anak sulit memusatkan perhatian, serta memiliki perilaku impulsif dan