SIAPBELAJAR.COM - Pulau Jawa memiliki luasan hanya 6% saja dari luas wilayah Indonesia, namun 60% dari jumlah penduduk Indonesia tinggal di pulau Jawa. Dengan populasi dan pemukiman yang lebih padat,kondisi ini bisa saja menjadi tidak seimbang jika kita melihat sedikitnya Ruang Terbuka Hijau (RTH), terlebih di perkotaan.
Sementara itu, Undang-Undang menyampaikan bahwa sebuah kawasan harus memiliki RTH sebesar 30% atau lebih. UU Penataan Ruang juga menegaskan bahwa kawasan harus memiliki minimal 20% RTH.
Perum Perhutani, BUMN
yang diberi amanat untuk mengelola hutan negara yang merupakan ruang terbuka hijau, dituntut
untuk memberikan perhatian yang besar terkait masalah sosial ekonomi
masyarakat, terutama kepada masyarakat pedesaan yang tinggal di sekitar hutan.
Interaksi antara
masyarakat dengan hutan tidak akan dapat dipisahkan sampai kapan pun. Oleh
karena itu, para Rimbawan di RPH Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat ini melakukan Komunikasi Sosial
(Komsos) secara intens, di mana pendekatan yang dilakukan dalam pengelolaan
hutan, wajib memperhatikan keberlanjutan ekosistem hutan dan kelestariannya
namun tetap memperhatikan pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar hutan,
terutama bagi golongan masyarakat yang status ekonominya rendah.
Manfaat PHBM yang Dirasakan Masyarakat
Dian (20), seorang Warga
Ciherang yang bermata pencaharian sebagai seorang petani dan pengangkut getah
pinus mengatakan kepada siapbelajar.com bahwa dirinya yang hanyalah seorang lulusan
dari sekolah menengah pertama, namun ia bisa mengantongi Rp 100 ribu atau lebih
per harinya jika sedang musim angkut getah pinus dari hutan untuk dibawa ke Tempat Penampungan Getah
(TPG).
"Kebetulan saya adalah ketua paguyuban penyadap yang namanya Squad Cisayong, saya sangat terbantu selama bertahun-tahun dengan adanya PHBM ini, saya juga sekarang sedang membangun rumah,” ungkap Dian. Hal serupa juga dikatakan beberapa warga Ciherang lainnya yang rata-rata berprofesi sebagai Petani.
Hal tersebut diamini Anggun Bachtiar, KRPH Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Menurutnya, seorang pengangkut getah pinus bisa mendapatkan honor 5-7juta per bulannya.
"Karena memang sebagian ada yang fokus bekerja di bidang ini, nggak cuma sampingan," ungkap Anggun saat bertemu dengan jurnalis siapbelajar.com di Kawasan Hutan Pinus Ciherang (28/7).
"Kalau palawija dan sayuran ada yang nampung, tapi kalau untuk beras saya tidak jual hasil panen padi, itu untuk kebutuhan logistik kami, income lainnya ya ini, kami dapat dari honor ngangkut getah" tambah Dian.
Wisata Mendorong Perekonomian Warga
Hutan pinus Ciherang sering kali dijadikan tempat wisata, karena secara geografis, dataran tinggi di Kecamatan Cisayong ini menyuguhkan kesegaran oksigen murni hasil vegetasi hutan.
Pemandangan pohon pinus yang berjajar rapi dan keramahan warganya membuat Ciherang sering dikunjungi wisatawan domestik untuk sekedar menghabiskan akhir pekan dengan wisata keluarga, bersepeda, hiking, atau juga melakukan kegiatan camping singkat di kawasan Ciherang.
Adanya objek wisata Air Terjun di sekitarnya juga menjadi daya
tarik wisata yang memukau dengan keindahan alamnya. Hal ini turut mendorong kegiatan
ekonomi dan perputaran rupiah di daerah tersebut dengan adanya pengelolaan kawasan wisata bersama Perhutani.
Harapan Bagi Kelestarian Hutan
Hutan merupakan daerah resapan air dan sumber mata air yang harus dijaga, dirawat dan dilestarikan. Karena, tanpa hutan bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi?
“Harapannya,
kita bisa mewariskan hutan ini kepada anak-anak dan cucu kita di kemudian hari,
jangan sampai hutan itu nantinya hanya ada di lukisan saja,” ungkap Awan, Polisi Hutan.
Anggun Bachtiar, Kepala RPH Cisayong juga berharap bahwa vegetasi yang telah ada tidak terganggu oleh hal lainnya yang berorientasi bisnis yang cenderung merusak alam. Menurut pemaparannya, memanfaatkan hutan masih bisa dilakukan dengan cara-cara yang lebih baik dan menjaga ekosistem demi kelestariannya.
"Hutan itu kan memiliki banyak fungsi dan jenisnya, diantaranya ada hutan produksi, ada hutan konservasi. Dan, yang kita inginkan hutan dilestarikan bukan dieksploitasi habis-habisan. Harusnya kita banyak menanam lagi. Kata orang bijak menanamlah sekalipun esok terjadi kiamat." papar Anggun.
Saintek
Saintek
Saintek
Trending
Saintek
05 April 2026 - 21:19 wib
05 April 2026 - 18:33 wib
05 April 2026 - 16:22 wib
05 April 2026 - 09:13 wib
05 April 2026 - 09:11 wib