SIAPBELAJAR.COM - Tim
PKM-RE Program Studi Biologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta
melakukan penelitian terhadap mikroplastik. Dari peneletian tersebut mereka menemukan mikroplastik pada air
hujan yang jatuh di jalan raya di pusat kota Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY), pada Kamis lalu (11/8).
Kandungan mikroplastik tertinggi ditemukan pada sampel air hujan yang jatuh di kawasan Monumen Tugu Yogyakarta yaitu sebesar 393 partikel/liter. Disusul sampel yang diamati pada Jalan Raya depan Pasar Bantul yaitu 350 partikel/liter, dan di Jalan Kaliurang Kilometer 14 sekitar 322 partikel/liter.
Mikroplastik adalah potongan plastik yang kurang dari 4,8 milimeter, sifatnya sangat berbahaya karena memiliki bahan kimia seperti PCB yang terakumulasi pada bagian plastik, yang dapat menyebabkan keracunan.
Plastik, seperti diketahui adalah zat yang tak dapat terurai dengan baik, baik itu di daratan maupun di lautan, plastik hanya akan berubah bentuk menjadi ukuran yang lebih kecil, yang disebut Mikroplastik. Dengan ukurannya yang sangat kecil tersebut, mikroplastik dikategorikan polutan sangat berbahaya karena bisa masuk kedalam jaringan tanah dan juga terbawa ke perairan.
Pada penelitian tersebut di atas, kandungan mikroplastik yang tergolong tinggi itu berkorelasi
salah satunya dengan padatnya kendaraan bermotor yang melintasi jalan raya di
pusat kota dan kabupaten di Provinsi DIY.
Menurut riset yang dilakukan peneliti dari University of
Hamburg, Jerman, sumber utama mikroplastik di atmosfer salah satunya berasal
dari abrasi ban kendaraan bermotor.
Temuan tersebut sesuai dengan fakta karakteristik mikroplastik yang banyak ditemukan pada sampel air hujan di Yogyakarta yang berbentuk fiber atau serat, berwarna hitam, dengan ukuran 101 hingga 500 mikrometer dengan jenis polimer polipropilena yang menjadi polimer sintetis untuk pembuatan ban kendaraan.
Selain itu, sumber-sumber mikroplastik fiber di atmosfer dapat berasal dari limbah tekstil yang terhempas melalui udara. Industri tekstil yang kini banyak menggunakan serat sintetis, dapat melepas partikel mikrofiber ke atmosfer bahkan terbang menuju ke kawasan dengan jarak puluhan hingga ratusan kilometer.
Warga dan kelompok masyarakat di sekitar wilayah Yogyakarta khususnya yang menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari diminta lebih waspada. Partikel mikroplastik yang berukuran 1 hingga 5.000 mikrometer harus tersaring dengan filter mikroskopis.
Hingga saat ini, mikroplastik belum menjadi parameter yang perlu diukur dalam baku mutu lingkungan. Padahal, mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan hingga bersifat karsinogenik.
Industri-industri harus makin selektif memilih teknologi
pembuangan limbah dan residu sisa produksi agar tidak mencemari lingkungan.
Sampah plastik yang terus menumpuk di tempat-tempat pembuangan akan menjadi sumber utama pencemaran mikroplastik di kemudian hari.
Share and Care
Trending
Trending
Trending
Trending
05 April 2026 - 21:19 wib
05 April 2026 - 18:33 wib
05 April 2026 - 16:22 wib
05 April 2026 - 09:13 wib
05 April 2026 - 09:11 wib