SIAPBELAJAR.COM - Pekerja
bantuan memperingatkan kurangnya air minum bersih menyebabkan peningkatan
penyakit di Pakistan, karena korban tewas akibat banjir melebihi 1.200 orang.
Menurut Medical Charity, Medecins Sans Frontieres,
akses ke air bersih merupakan masalah terbesar bagi mereka yang mencoba mencari
makanan dan tempat tinggal.
Pemerintah setempat melakukan
pertemuan pada Sabtu untuk menilai skala banjir yang telah menenggelamkan
sepertiga wilayah negara itu. Setidaknya satu dari tiga korban banjir adalah
anak-anak.
Menteri Pemerintah,
Ahsan Iqbal mengatakan bahwa negaranya tidak memiliki sumber daya untuk
menangani krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Banjir adalah bencana
yang disebabkan iklim terburuk dalam sejarah dunia baru-baru ini,” katanya.
Sekitar 1,4 juta rumah telah hancur dalam rekor hujan monsun yang telah mempengaruhi lebih dari 33 juta orang.
Pejabat Tinggi Manajemen Bencana Pakistan mengatakan bahwa tahun 2022 telah membawa beberapa kenyataan pahit perubahan iklim bagi Pakistan.
“Tahun ini kami tidak menyaksikan musim semi, kami menghadapi empat gelombang panas yang menyebabkan kebakaran hutan skala besar di seluruh negeri” kata Akhtar Nawaz.
Risiko Anak Meninggal Akibat Kekurangan Air Bersih
Sementara itu, Unicef mengatakan bahwa ada lebih banyak anak yang berisiko meninggal akibat penyakit di Pakistan karena kekurangan air bersih.
“Saat ini ada risiko
tinggi penyakit yang ditularkan melalui air, penyakit mematikan yang menyebar
dengan cepat seperti diare, kolera, demam berdarah, malaria. Oleh karena itu,
ada risiko lebih banyak pada kematian anak” kata Abdullah Fadil dari Unicef.
Perkiraan Kerusakan di Pakistan
Perkiraan menunjukkan bahwa
banjir telah menyebabkan setidaknya $10 miliar atau sekitar Rp 149,1 triliun kerusakan
di Pakistan dan banyak orang menghadapi kekurangan makanan yang serius. Hampir
setengah dari tanaman negara telah hancur. Pakistan juga sudah menderita akibat
adanya krisis ekonomi.
Perubahan Iklim Menjadi Penyebab Utama Banjir
Menurut Reuters, satu provinsi Balochistan telah
menerima 436% lebih banyak hujan daripada rata-rata 30 tahun monsun yang pernah
terjadi.
Pakistan menghasilkan
kurang dari 1% emisi gas rumah kaca global, namun geografinya membuat negara
tersebut sangat rentan terhadap perubahan iklim.
Banyak faktor yang telah
menyebabkan banjir, namun pemanasan atmosfer yang disebabkan oleh perubahan
iklim membuat curah hujan ekstrem lebih mungkin terjadi.
Dunia telah menghangat
sekitar 1,2ºC sejak era industri dimulai dan suhu akan terus meningkat kecuali
pemerintah di seluruh dunia melakukan pemotongan tajam terhadap emisi.
Religi
Ekonomi
Trending
Trending
Saintek
05 April 2026 - 21:19 wib
05 April 2026 - 18:33 wib
05 April 2026 - 16:22 wib
05 April 2026 - 09:13 wib
05 April 2026 - 09:11 wib