Pengamat pendidikan Ina Liem menyambut baik keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nad
SIAPBELAJAR.COM - Pengamat pendidikan Ina Liem menyambut baik keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim yang menghapus tes mata pelajaran dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
Sebagai gantinya, tes SBMPTN nantinya akan berisi tes skolastik yang mengukur kemampuan bernalar siswa.
Menurut Ina, kebijakan ini selaras dengan kurikulum prototipe atau Kurikulum Merdeka pada tahun ajaran 2022 yang tidak ada lagi pengelompokan siswa SMA berdasarkan jurusan IPA, IPS, dan Bahasa.
"(Keputusan ini) sesuai harapan saya karena ini nyambung dengan kurikulum prototipe," jelas Ina, "Kalo IPA IPS dihapus tapi tes masih mata pelajaran kan percuma, siswa harus bimbel lagi," tambah dia.
Selain itu, Ina juga mengatakan bahwa kebijakan baru Nadiem ini membuka potensi bagi siswa untuk mengambil lintas jurusan saat menempuh pendidikan sarjana di perguruan tinggi.
Terkait soal tes skolastik yang akan digunakan sebagai tes SBMPTN ini, Ina menyampaikan bahwa hal tersebut justru menjawab kebutuhan pendidikan di tengah industri saat ini.
"Sudah seharusnya PTN tidak mengevaluasi hal yang bisa di-googling, tapi kemampuan bernalar siswa. Ini sejalan dengan kebutuhan industri 4.0," ujar Ina.
Namun, Ina menggarisbawahi peran PTN dalam menindaklanjuti dan menyukseskan kebijakan baru ini.
"Hanya saja PTN masih harus bikin aturan turunan untuk per jurusan, yaitu subject pre requisite yang diminta untuk jurusan tertentu," tandasnya.
Penghapusan tes mata pelajaran SBMPTN
bahwa penghapusan tes mata pelajaran SBMPTN ini buka tanpa alasan.
Menurutnya, selama ini tes mata pelajaran dalam SBMPTN dinilai memberikan tekanan pada guru untuk mengejar penuntasan materi pembelajaran.
Nyatanya, hal terpenting bagi seorang guru adalah menekankan pemahaman kepada para siswa.
Di sisi lain, tes mata pelajaran pada seleksi SBMPTN juga memberikan tekanan tersendiri bagi para siswa.
Sebab, siswa dituntut mengikuti berbagai bimbingan belajar agar bisa lulus tes SBMPTN. Akibatnya, tuntutan ini memberikan beban finansial maupun mental bagi murid dan orang tua.
Lebih jauh, dampak dari keikutsertaan bimbingan belajar ini menimbulkan diskriminatif, terutama bagi siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu.
"Seleksi masuk PTN ini harusnya tak menurunkan kualitas pembelajaran pendidikan menengah dan tidak diskriminatif bagi mereka yang tak mampu dan tak mampu mem-bibel-kan," ungkap Nadiem.
Nadiem berharap, adanya perubahan ini dapat membuat para siswa tidak lagi tergantung pada bimbel untuk persiapan tes SBMPTN.
Diganti Tes Skolastik
Nadiem menambahkan, tes mata pelajaran dalam SBMPTN ini akan diganti dengan tes skolastik. Dengan kata lain, siswa tidak perlu menghafal materi saat mengikuti ujian masuk PTN.
"Tak perlu lagi khawatir dengan harus hafal begitu banyak konten untuk ikut tes seleksi," kata Nadiem.
Sebaliknya, tes skolastik ini akan berhubungan dengan kemampuan bernalar, problem solving, dan potensi kognitif siswa.
Adapun, tes literasi Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dalam tes SBMPTN yang baru ini nantinya tidak menyoal teknik gramatika, tetapi tes kemampuan mengerti logika dari teks.
Menurutnya, skema seleksi ini jauh lebih adil dan memberi kesempatan secara menyeluruh bagi siswa yang akan ikut SBMPTN.
Saintek
Saintek
Trending
Saintek
Saintek
05 April 2026 - 21:19 wib
05 April 2026 - 18:33 wib
05 April 2026 - 16:22 wib
05 April 2026 - 09:13 wib
05 April 2026 - 09:11 wib