SIAPBELAJAR.COM - Di Indonesia Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari.
Peringatan Hari Pers Nasional juga bertepatan dengan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Perayaan Hari Pers Nasional 2023 jatuh pada hari Kamis (9/2/2023) dengan tema besarnya "Pers Bebas Demokrasi Bermartabat".
Awal
HPN Diperingati
Pada Kongres PWI ke-16 tahun 1978 di Padang, Sumatra
Barat. Muncul usulan untuk menetapkan 9 Februari sebagai hari lahir PWI
sekaligus peringatan Hari Pers Nasional (HPN).
Awalnya, usulan tersebut tidak disetujui Presiden
Soeharto. Meski begitu, Hari Pers Nasional tetap coba diperingati saat ulang
tahun PWI ke-35 pada 1981.
Perayaan ini terlaksana di Banjarmasin, Kalimantan
Selatan. Dalam sidang ke-21 Dewan Pers di Bandung, Jawa Barat pada 19 Februari
1981, organisasi pers nasional itu menerima usulan penetapan 9 Februari sebagai
Hari Pers Nasional dan akan mengajukannya ke pemerintah.
Memerlukan waktu 7 tahun hingga Presiden Soeharto
menyetujui penetapan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional. Penetapan Hari Pers
Nasional diatur dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 5 Tahun 1985.
Berdasarkan Keppres Nomor 5 Tahun 1985, tujuan Hari Pers Nasional dibuat, yaitu: Mengembangkan kehidupan pers nasional Indonesia sebagai pers yang bebas dan bertanggung jawab berdasarkan Pancasila. Mengingat sejarah dan peranan penting pers di Indonesia dalam melaksanakan pembangunan pengamalan Pancasila.
Sempat
Ada Penolakan
Setelah Hari Pers Nasional ditetapkan, sempat muncul
penolakan dari organisasi pers lainnya. Hal ini terjadi karena hari lahir PWI
yang digunakan sebagai perayaan pers nasional. Aliansi Jurnalis Independen
(AJI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) sempat mengusulkan Hari
Pers Nasional ganti diperingati setiap 23 September.
Tanggal 23 September dipilih untuk mengenang
kebangkitan pers nasional yang terwujud dengan pengesahan UU Nomor 40 tahun
1999 tentang Pers.
Namun, sejumlah perwakilan PWI daerah menolak
perubahan tersebut. Akhirnya, Hari Pers Nasional tetap diperingati setiap 9
Februari.
Perjalanan
Media Massa di Indonesia
Sejarah perkembangan pers nasional Pers di Indonesia
bermula jauh sebelum Hari Pers Nasional ditetapkan.
Riset yang dilakukan Antara (9/2/2019) menunjukkan,
media massa pertama di Hindia Belanda terbit pada 1774 bernama Bataviasche
Nouvelles. Penerbitan ini diprakasai langsung oleh Gubernur Jenderal Van Ishoff
yang memimpin Hindia Belanda.
Setelah itu, koran berbahasa Belanda terbit selama 1980-1860. Diikuti 33 koran berbahasa Melayu yang terbit hingga 1907.
Koran
nasional bernama Medan Prijaji buatan anak bangsa akhirnya terbit 1907. RM
Tirtoadisuryo memimpin redaksi harian ini yang dikerjakan sepenuhnya oleh orang
pribumi. Hingga 1928, terdapat 8 koran Indonesia, 12 berbahasa China, dan 13
koran Belanda di Indonesia.
Pasca 1965 dilakukan pembersihan besar-besaran media massa dan wartawan Indonesia dari Partai Komunis Indonesia. Lebih dari 300 wartawan dipecat dan 46 koran dilarang terbit.
Hari Pers Nasional resmi
ditetapkan pada 1985. Kemudian, sistem penerbitan media massa yang lebih bebas
mulai berlaku 1999 seiring peresmian UU Pers.
Sejarah
PWI
Sejarah terbentuknya PWI Dikutip dari situs PWI (16/7/2019), cikal-bakal lembaga pers nasional dimulai dengan berdirinya Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) secara resmi di Yogyakarta pada 8 Juni 1946.
SPS dan PWI sebenarnya telah beraktivitas di Indonesia sebelum itu. PWI lahir
di Surakarta pada 9 Februari 1946.
Namun, baru ditetapkan pada sidang ke-21 Dewan Pers
di Bandung, Jawa Barat pada 19 Februari 1981. Sumanang Surjowinoto menjadi
ketua PWI yang pertama didampingi Sudarjo Tjokrosisworo sebagai sekretaris.
Selain keduanya, PWI memiliki 8 anggota komisi yang
memimpin media massa di berbagai wilayah Indonesia, yaitu: Sjamsuddin Sutan
Makmur (Harian Rakjat, Jakarta), B.M. Diah (Merdeka, Jakarta), Abdul Rachmat
Nasution (Kantor berita Antara, Jakarta), Ronggodanukusumo (Suara Rakjat,
Modjokerto), Mohammad Kurdie (Suara Merdeka, Tasikmalaya), Bambang Suprapto
(Penghela Rakjat, Magelang), Sudjono (Berdjuang, Malang), dan Suprijo
Djojosupadmo (Kedaulatan Rakjat,Yogyakarta).
PWI terbentuk bertujuan untuk merumuskan hal-ihwal
persuratkabaran nasional waktu itu dan berusaha mengkoordinasikan ke dalam satu
barisan pers nasional yang berisi ratusan penerbit harian dan majalah.
Trending
05 April 2026 - 21:19 wib
05 April 2026 - 18:33 wib
05 April 2026 - 16:22 wib
05 April 2026 - 09:13 wib
05 April 2026 - 09:11 wib