Mediana.id - Amerika Serikat (AS) menghadapi ancaman resesi ekonomi di kuartal ke 4 tahun ini, akibat ketidak sinkronan antara kebijakan fiskal dan moneter yang diterapkan oleh pemerintah dan bank sentral. Hal ini menurut para pakar ekonomi dan investasi dari HSBC Asset Management, salah satu bank terbesar di dunia.
Menurut laporan HSBC Asset Management yang dikutip oleh CNBC International, AS akan memasuki resesi pada kuartal IV 2023, diikuti oleh kontraksi dan resesi di Eropa pada 2024. Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut.
Alarm resesi semakin keras, sementara kebijakan fiskal dan moneter tidak sinkron dengan pasar saham dan obligasi. Kebijakan fiskal AS cenderung ekspansif, dengan rencana stimulus senilai triliunan dolar untuk memulihkan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19. Namun, kebijakan moneter AS cenderung kontraktif, dengan rencana kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) sebanyak dua kali tahun ini.
Kepala strategi global di HSBC Asset Management, Joseph Little mengatakan bahwa, sementara beberapa negara tetap tangguh sejauh ini, risiko yang mengarah ke resesi sangat tinggi dengan Eropa tertinggal dari AS. "Kami sudah berada dalam resesi laba ringan, dan gagal bayar perusahaan juga mulai meningkat," tulis Joseph Little dalam sebuah laporan.
"Hal baiknya adalah kami memperkirakan inflasi tinggi akan moderat dengan relatif cepat. Kemajuan itu akan menciptakan peluang bagi pembuat kebijakan untuk memangkas suku bunga," katanya.
Terlepas dari nada hawkish yang diadopsi oleh para gubernur bank sentral terhadap inflasi, terutama di tingkat inti, HSBC Asset Management memperkirakan Federal Reserve AS akan memangkas suku bunga sebelum akhir tahun 2023, dengan Bank Sentral Eropa dan Bank Inggris mengikuti sesuai tahun depan.
Seperti diketahui, The Fed menghentikan siklus pengetatan moneternya pada pertemuan bulan Juni, meninggalkan kisaran target suku bunga dana antara 5% dan 5,25%, tetapi mengisyaratkan bahwa dua kenaikan lebih lanjut tahun ini.
HSBC mengakui bahwa para gubernur bank sentral tidak akan dapat memangkas suku bunga jika inflasi tetap jauh di atas target, seperti di banyak negara ekonomi besar. "Skenario resesi yang akan datang akan lebih seperti resesi awal 1990-an, dengan skenario utama kami adalah penurunan PDB sebesar 1-2 persen," sebut Joseph Little.
Pertumbuhan Ekonomi Dunia Menurun
Ancaman resesi ekonomi AS juga diperkuat oleh proyeksi lembaga-lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank), yang telah merevisi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini.
IMF telah merevisi pertumbuhan ekonomi global untuk 2023 dari 4,4% pada proyeksi di Januari, menjadi 3,6% di April dan terakhir direvisi menjadi 3,2% di Juli. Sementara itu, Bank Dunia juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini dari 4% menjadi 3,8%.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta permintaan dari negara maju sudah terasa sejak kuartal II-2023. Secara teknikal, Amerika Serikat (AS) bahkan sudah memasuki resesi pada April-Juni tahun ini, dengan pertumbuhan ekonomi negatif sebesar 0,2% (kuartal ke kuartal).
Lonjakan inflasi akibat melambungnya harga energi dan pangan membuat ekonomi di negara-negara maju kendur karena permintaan masyarakat melemah. Inflasi AS mencapai 4% pada Mei 2023, tertinggi sejak 2008. Inflasi Eropa juga naik menjadi 2,5% pada Mei 2023, melebihi target Bank Sentral Eropa sebesar 2%.
Dampak Resesi Ekonomi Amerika Bagi Indonesia
Ancaman resesi ekonomi AS tentunya akan berdampak negatif bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. AS adalah mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia, setelah China. Ekspor Indonesia ke AS mencapai US$ 20,9 miliar pada tahun 2022, sementara impor Indonesia dari AS mencapai US$ 13,8 miliar.
Jika permintaan dari AS menurun akibat resesi, maka ekspor Indonesia juga akan terganggu. Hal ini akan mempengaruhi neraca perdagangan dan cadangan devisa Indonesia. Selain itu, resesi AS juga akan memicu arus keluar modal (capital outflow) dari negara-negara berkembang seperti Indonesia, karena investor akan mencari aset yang lebih aman seperti dolar AS.
Hal ini akan menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan meningkatkan biaya utang luar negeri bagi Indonesia. Rupiah sudah melemah sekitar 10% terhadap dolar AS sejak awal tahun ini, dari Rp 13.900 per dolar AS pada Januari menjadi Rp 15.300 per dolar AS pada Juni.
Untuk mengantisipasi ancaman resesi ekonomi AS, pemerintah dan bank sentral Indonesia perlu melakukan koordinasi yang baik dalam mengatur kebijakan fiskal dan moneter. Kebijakan fiskal perlu lebih fokus pada pemulihan ekonomi dan perlindungan sosial bagi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.
Kebijakan moneter perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi, serta mendukung pembiayaan defisit anggaran melalui skema burden sharing dengan pemerintah. Selain itu, pemerintah dan bank sentral juga perlu meningkatkan komunikasi dengan pasar dan masyarakat untuk menjaga kepercayaan dan optimisme. Mediana.id
Ekonomi
Ekonomi
Religi
Ekonomi
Religi
16 April 2026 - 14:13 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
13 April 2026 - 20:43 wib
13 April 2026 - 20:31 wib