Ancaman Resesi Ekonomi Amerika dan Dampaknya Bagi Indonesia

A. Fateeh

Penulis : A. Fateeh
Editor : A. Fateeh

0

0

Ekonomi
1688012548712_1688012557

Ancaman Resesi Ekonomi Amerika

Mediana.id - Amerika Serikat (AS) menghadapi ancaman resesi ekonomi di kuartal ke 4 tahun ini, akibat ketidak sinkronan antara kebijakan fiskal dan moneter yang diterapkan oleh pemerintah dan bank sentral. Hal ini menurut para pakar ekonomi dan investasi dari HSBC Asset Management, salah satu bank terbesar di dunia.

Menurut laporan HSBC Asset Management yang dikutip oleh CNBC International, AS akan memasuki resesi pada kuartal IV 2023, diikuti oleh kontraksi dan resesi di Eropa pada 2024. Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Alarm resesi semakin keras, sementara kebijakan fiskal dan moneter tidak sinkron dengan pasar saham dan obligasi. Kebijakan fiskal AS cenderung ekspansif, dengan rencana stimulus senilai triliunan dolar untuk memulihkan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19. Namun, kebijakan moneter AS cenderung kontraktif, dengan rencana kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) sebanyak dua kali tahun ini.

Kepala strategi global di HSBC Asset Management, Joseph Little mengatakan bahwa, sementara beberapa negara tetap tangguh sejauh ini, risiko yang mengarah ke resesi sangat tinggi dengan Eropa tertinggal dari AS. "Kami sudah berada dalam resesi laba ringan, dan gagal bayar perusahaan juga mulai meningkat," tulis Joseph Little dalam sebuah laporan.

"Hal baiknya adalah kami memperkirakan inflasi tinggi akan moderat dengan relatif cepat. Kemajuan itu akan menciptakan peluang bagi pembuat kebijakan untuk memangkas suku bunga," katanya.

Terlepas dari nada hawkish yang diadopsi oleh para gubernur bank sentral terhadap inflasi, terutama di tingkat inti, HSBC Asset Management memperkirakan Federal Reserve AS akan memangkas suku bunga sebelum akhir tahun 2023, dengan Bank Sentral Eropa dan Bank Inggris mengikuti sesuai tahun depan.

Seperti diketahui, The Fed menghentikan siklus pengetatan moneternya pada pertemuan bulan Juni, meninggalkan kisaran target suku bunga dana antara 5% dan 5,25%, tetapi mengisyaratkan bahwa dua kenaikan lebih lanjut tahun ini.

HSBC mengakui bahwa para gubernur bank sentral tidak akan dapat memangkas suku bunga jika inflasi tetap jauh di atas target, seperti di banyak negara ekonomi besar. "Skenario resesi yang akan datang akan lebih seperti resesi awal 1990-an, dengan skenario utama kami adalah penurunan PDB sebesar 1-2 persen," sebut Joseph Little.

Pertumbuhan Ekonomi Dunia Menurun

Ancaman resesi ekonomi AS juga diperkuat oleh proyeksi lembaga-lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank), yang telah merevisi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini.

IMF telah merevisi pertumbuhan ekonomi global untuk 2023 dari 4,4% pada proyeksi di Januari, menjadi 3,6% di April dan terakhir direvisi menjadi 3,2% di Juli. Sementara itu, Bank Dunia juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini dari 4% menjadi 3,8%.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta permintaan dari negara maju sudah terasa sejak kuartal II-2023. Secara teknikal, Amerika Serikat (AS) bahkan sudah memasuki resesi pada April-Juni tahun ini, dengan pertumbuhan ekonomi negatif sebesar 0,2% (kuartal ke kuartal).

Lonjakan inflasi akibat melambungnya harga energi dan pangan membuat ekonomi di negara-negara maju kendur karena permintaan masyarakat melemah. Inflasi AS mencapai 4% pada Mei 2023, tertinggi sejak 2008. Inflasi Eropa juga naik menjadi 2,5% pada Mei 2023, melebihi target Bank Sentral Eropa sebesar 2%.

Dampak Resesi Ekonomi Amerika Bagi Indonesia

Ancaman resesi ekonomi AS tentunya akan berdampak negatif bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. AS adalah mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia, setelah China. Ekspor Indonesia ke AS mencapai US$ 20,9 miliar pada tahun 2022, sementara impor Indonesia dari AS mencapai US$ 13,8 miliar.

Jika permintaan dari AS menurun akibat resesi, maka ekspor Indonesia juga akan terganggu. Hal ini akan mempengaruhi neraca perdagangan dan cadangan devisa Indonesia. Selain itu, resesi AS juga akan memicu arus keluar modal (capital outflow) dari negara-negara berkembang seperti Indonesia, karena investor akan mencari aset yang lebih aman seperti dolar AS.

Hal ini akan menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan meningkatkan biaya utang luar negeri bagi Indonesia. Rupiah sudah melemah sekitar 10% terhadap dolar AS sejak awal tahun ini, dari Rp 13.900 per dolar AS pada Januari menjadi Rp 15.300 per dolar AS pada Juni.

Untuk mengantisipasi ancaman resesi ekonomi AS, pemerintah dan bank sentral Indonesia perlu melakukan koordinasi yang baik dalam mengatur kebijakan fiskal dan moneter. Kebijakan fiskal perlu lebih fokus pada pemulihan ekonomi dan perlindungan sosial bagi masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

Kebijakan moneter perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi, serta mendukung pembiayaan defisit anggaran melalui skema burden sharing dengan pemerintah. Selain itu, pemerintah dan bank sentral juga perlu meningkatkan komunikasi dengan pasar dan masyarakat untuk menjaga kepercayaan dan optimisme. Mediana.id

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1776007153684_1776007167

Ekonomi

PHK Capai 8.389 Orang hingga Maret 2026, Jawa Barat Tertinggi

Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan melalui Kementerian Ketenagakerjaan merilis data terbaru terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) nasional hingga Maret 2026. Tercatat sebanyak 8.389 tenaga kerja t
1776006027224_1776006042

Ekonomi

SIL Festival 2026 Serap 1.200 Tenaga Kerja

Surabaya — Kegiatan Surabaya Industrial and Labour (SIL) Festival 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya berhasil menunjukkan dampak signifikan terhadap penguatan ekonomi daerah dan peny
5 Ide Ternak (4)_1707220418

Religi

Serikat Ekonomi Pesantren Monitoring Program Ponpes di Bogor

Mediana.id - Serikat Ekonomi Pesantren (SEP) melakukan kegiatan monitoring program pembangunan sarana prasarana sanitasi dan air bersih di beberapa pondok pesantren (ponpes) di Bogor sejak Senin (5/2)
5 Ide Ternak (1)_1707145133

Ekonomi

5 Ide Ternak yang Bisa Dilakukan di Rumah dengan Cuan Menggiurkan

Mediana.id- Beternak merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan, terutama bagi Anda yang memiliki lahan sempit di rumah. Ada banyak hewan ternak yang bisa Anda pilih, mulai dari unggas, ikan, h
1690427974333_1690428093

Religi

Nazava dan Serikat Ekonomi Pesantren Jalin Kerjasama untuk Kembangkan Usaha Pesantren

Mediana.id - Nazava, sebuah perusahaan sosial yang memproduksi filter air bersertifikat WHO, menjalin kerjasama dengan Serikat Ekonomi Pesantren (SEP), sebuah organisasi yang bertujuan untuk meningkat