Produksi jagung nasional saat ini di atas 18 juta ton, melebihi kebutuhan dalam negeri yang hanya 14,7 juta ton
SIAPBELAJAR.COM – Beragam upaya dilakukan Pemerintah dalam
meningkatkan produksi jagung di Indonesia. Selain membuka lahan baru,
intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, hingga peningkatan pemasaran, juga ada
suntikan dana usaha.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto,
mengatakan, Pemerintah akan meningkatkan produksi jagung nasional di daerah
yang dimintakan baru, yaitu Papua, Papua Barat, NTT (Nusa Tenggara Timur),
Maluku, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara dengan total luas lahan 141 ribu
hektare dan 86 ribu hektare merupakan lahan baru.
Menurutnya, dengan harga jagung yang mencapai Rp5.000 per kilogram, perlu upaya meningkatkan produksi, termasuk dengan ekstensifikasi lahan yang ada. Salah satu upaya yang dilakukan dalam ekstensifikasi adalah dengan mendorong bibit GMO (hasil rekayasa genetik) ataupun hibrida.
Airlangga menyampaikan, pemerintah mendorong bibit unggul
hibrida jagung yang bisa memproduksi antara 10,6 sampai 13,7 juta ton per
hektare. “Ada 14 varietas, antara lain; Pertiwi 3F1, Bisi, kemudian ada NK
Perkasa, ada Singa, ada Bima, ada Dahsyat, ada P36, dan yang lain. Artinya,
hibrida ini berbasis hibrida nasional dan nanti Pak Mentan akan melakukan
perubahan terhadap regulasi terkait dengan GMO,” ujarnya usai mengikuti rapat
terbatas bersama Presiden, di Istana Merdeka, Senin (1/8).
Selain mendorong untuk pengembangan alat mesin pertanian yang
dapat dilakukan dengan menggunakan kredit perbankan, Airlangga mengatakan, Menteri
Pertanian akan menyiapkan kelompok tani-kelompok tani untuk bisa mendapatkan
kredit untuk usaha kecil dan menengah dari perbankan.
“KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang kemarin Rp373 triliun untuk
tahun depan juga kita naikkan menjadi sekitar Rp460 triliun. Jadi, ruangnya
cukup besar untuk mendorong ekstensifikasi daripada petani jagung,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, menyampaikan,
saat ini Pemerintah sudah tidak mengimpor jagung, kecuali untuk kebutuhan
industri. Ia menjelaskan, produksi jagung nasional saat ini berada di atas 18
juta ton, melebihi kebutuhan dalam negeri yang hanya 14,7 juta ton.
“Kita sebenarnya overstock-nya cukup. Tetapi tadi Bapak Menko memberikan penggarisan kebutuhan nasional menjadi sangat penting. Nanti sesudah kita lihat apa-apa yang memang harus dilakukan barulah kita berpikir untuk meningkatkan ke langkah-langkah berikutnya, baik ekspor maupun peningkatan kebutuhan industri dalam negeri,” papar Syahrul. ***
Ekonomi
Ekonomi
Religi
Ekonomi
Religi
16 April 2026 - 14:13 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
13 April 2026 - 20:43 wib
13 April 2026 - 20:31 wib