SIAPBELAJAR.COM - Dampak Pandemi Covid 19 masih kita rasakan sampai hari ini. Krisis keuangan, harga pangan mahal, sulitnya mencari pekerjaan dan peluang usaha, masyarakat masih kesulitan.
Namun efek positifnya masyarakat kecil mulai kreatif. Korban
PHK dan ibu rumah tangga semakin gigih dalam berwirausaha.
Meskipun tidak sedikit yang mengalami kegagalan karena
minimnya daya tahan dan pengalaman dalam berwirausaha.
Orang Indonesia umumnya, memulai usaha dan menciptakan
lapangan kerja sejak dini bukanlah merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan. Menurut
Agung B. Waluyo, dari Universitas Ciputra Entrepreneurship Center, penyebabnya dipengaruhi
oleh dua hal.
Pertama, selama 350 tahun masa penjajahan sebagian besar
rakyat Indonesia tidak mendapat pendidikan yang seharusnya.
Kedua, pendidikan kita memiliki orientasi membentuk SDM
pencari kerja bukan pencipta kerja. Mind set sebagai pencari kerja semakin
meningkatkan tingginya penggangguran di Indonesia. Lulusan Diploma yang
mengganggur saat ini 305.261 orang, sedangkan lulusan sarjana juga bertambah
menjadi 981.203 orang.
Secara keseluruhan porsi pengangguran kaum terdidik 14,3
persen. Padahal menurut penelitian, setiap pertumbuhan ekonomi, 1 persen hanya
mampu menciptakan sekitar 265.000 lapangan kerja baru.
Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkisar antara 6
persen, maka hanya tersedia sekitar 1.590.000 lapangan kerja baru. Lulusan
sarjana setiap tahunnya lebih dari 300.000 orang.
Minimnya Entrepreneur
Entrepreneur berasal dari bahasa Perancis yang berarti kontraktor. Asal katanya adalah entrepenant yang berarti giat, mau berusaha, berani, dan penuh petualangan.
Di Indonesia, entrepreneur diterjemahkan sebagai
enterprenir, pengusaha dan usahawan. Di lingkungan pemerintahan, digunakan
istilah wirausaha.
Tingginya pengangguran dan rendahnya kesejahteraan di
Indonesia dipengaruhi oleh kecilnya jumlah enterpreneur. Dengan jumlah penduduk
sebesar 275 juta, Indonesia membutuhkan 5,5 juta entrepreneur. Bagaimana
menghasilkan wirausaha sebanyak itu? Menurut alm. Ir. Ciputra, sosok
entrepreneur adalah seorang yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi
emas.
Saat ini generasi muda kita tidak dibesarkan dalam budaya
wirausaha. Untuk menghasilkan wirausaha yang handal paling tidak dibutuhkan 3 L
yang menentukan, yaitu: Lahir, Lingkungan dan Latihan.
Lahir, seseorang yang lahir dari keluarga wirausaha, sehingga
ia mendapat atmosfer entrepreneursip dalam waktu jangka panjang. Ibarat ia
sudah lahir di tengah-tengah tumpukan barang dagangan
Lingkungan, seseorang
berada dalam lingkungan entrepreneurship sehingga jiwa wirausahanya muncul,
misalnya seorang profesional yang bekerja bertahun-tahun dengan seorang
wirausaha. Latihan, atau pendidikan, upaya yang secara sadar dan terstruktur
dilakukan untuk membangun mind set wirausaha.
Pendidikan Entrepreneurship
Pendidikan kewirausahaan seringkali dikaitkan dengan kegiatan
dagang atau jual beli. Sehingga guru dan kalangan pendidikan ragu-ragu
memasukkan unsur wirausaha dalam materi pelajaran.
Hal itu kurang tepat karena enterpreneurship bukan sekadar
berdagang untuk menghasilkan keuntungan, namun tujuan utama mengubah mind set,
sehingga bisa dikondisikan (by design) melalui pendidikan sejak usia dini.
Melalui pendidikan, seseorang didorong untuk mencari dan
menciptakan peluang yang bernilai bagi masyarakat. Ia ditumbuhkan menjadi
seorang inovator yang menemukan solusi bagi masyarakat dan seorang sosok yang
berani mengambil risiko secara terukur.
Entrepreneur yang sukses tidak mulai dengan berdagang untuk
mendapatkan keuntungan finansial, namun mencari inovasi kreatif bagi
masyarakat. Keuntungan finansial adalah produk dari kreativitas.
Dalam pendidikan entrepreneurship siswa tidak sekadar
didorong menjadi Business Entrepreneur, namun juga menjadi Government
Entrepreneur, semacam Lee Kuan Yew, seorang leader yang menumbuhkan Singapura,
atau Sukarno sang Pembebas Indonesia,
Academic Entrepreneur, seperti Nicholas Negroponte penggagas
One Chils One Laptop dari MIT Amerika Serikat, dan Social Entrepreneur, yang
menghimpun dana demi kesejahteraan bersama, semacam Muhamad Yunus, Bunda Teresa
atau Romo Y.B Mangunwijaya.
Bagaimana mengimplementasi Quantum Leap Entrepreneurship? Ciputra
menawarkan tiga gagasan.
Pertama, untuk pendidikan usia dini, dasar dan menengah,
perlu mengintegrasikan nilai-nilai entrepreneurship di dalam kurikulum
nasional.
Kurikulum Merdeka bahkan menentukan tema Kewirausahaan
menjadi salah satu tema dalam Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Kedua, untuk perguruan tinggi melalui Kampus Merdeka
hendaknya menciptakan dan mengembangkan pusat-pusat kewirausahaan
(entrepreneurship center).
Ketiga, untuk masyarakat, menciptakan gerakan nasional pelatihan kewirausahaan baik oleh pemerintah maupun masyarakat untuk menjangkau masyarakat luas yang berada di luar bangku sekolah. Sumber kompasiana.com
Trending
Ekonomi
Saintek
Ekonomi
Trending
16 April 2026 - 14:13 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
13 April 2026 - 20:43 wib
13 April 2026 - 20:31 wib