SIAPBELAJAR.COM - Kementrian Kominfo telah mengeluarkan hak labuh satelit
khusus non geostasioner starlink kepada PT Telkom Satelit Indonesia
(Telkomsat).
Hak labuh satelit berlaku untuk layanan back haul, dalam
penyelenggaraan jaringan tetap tertutup PT Telkom Satelit Indonesia, bukan layanan
retail pelanggan akses internetsecara langsung oleh starlink.
Baca Juga : IlmuwanJepang Membuat Kulit Manusia Hidup untuk Robot
Back haul merupakan teknologi yang memfasilitasi perpindahan data dari satu infrastruktur telekomunikasi ke infrastruktur telekomunikasi lainnya.
Biasanya digunakan untuk menghubungkan data yang dikirim dari Base
Transceiver Satelite (BTS) ke Base Station Controller (BSC), dan BSC ke Mobil
switching Center (MSC) melalui jaringan
lain atau link jaringan internet.
Menurut KemenKominfo dikutip dari platform twitter resminya,
Izin hak labuh akan dievaluasi setiap tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan
hasil evaluasi dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Izin hak labuh ini berkaitan dengan kerja sama Indonesia
dengan Amerika Serikat mencakup rencana Indonesia yang memilih 3 satelit
generasi terbaru, yaitu 150 GB Very High Troughput Satelite (VHTS) diberi nama
SATRIA (Ka-Band), 80 GB Very High Througput Satelite (VHST) sebagai Hot Backup
Satelite (Ka-Band), dan 32 GB High throughput Satelite (HTS) yang dimiliki
Telkomsat (C & Ku-Band).
Baca Juga : 7Cara mengamankan Data Pribadi Ketika Berselancar di Internet
“Ketiga satelit ini direncanaka akan menggunakan roket peluncur spaceX – Falcon 9 dan merupakan jenis satelit yang mengorbit di Geostasioner Orbit” Ucap Dedy Permadi selaku Juru Bicara Kementrian Kominfo.
Trending
Saintek
Saintek
Trending
Trending
12 April 2026 - 20:13 wib
05 April 2026 - 21:05 wib
05 April 2026 - 16:34 wib
05 April 2026 - 16:33 wib
05 April 2026 - 16:32 wib