SIAPBELAJAR.COM - Negara berpenduduk 22 juta orang itu berada dalam cengkeraman krisis ekonomi terburuknya setelah kehabisan devisa untuk membiayai impor yang paling penting sekalipun termasuk makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.
Menutup Sekolah dan Layanan Pemerintah
Sri Lanka menutup sekolah dan menghentikan layanan
pemerintah yang tidak penting pada hari Senin,
Baca juga: Praktek Tidak Terpuji SPBU Sangat Merugikan Konsumen
Upaya Protes yang Dilakukan
Sri Lanka menghadapi rekor inflasi tinggi dan pemadaman listrik yang berkepanjangan membuat negara tersebut mendapati protes berbulan-bulan, yang terkadang disertai dengan kekerasan yang meminta Presiden Gotabaya Rajapaksa untuk mundur.
Ribuan mahasiswa berbaris di jalan-jalan Kolombo pada hari
Senin seraya meneriakkan "harus pulang" mengacu pada presiden yang
mereka tuduh melakukan korupsi dan salah urus.
"Waktu bagi Gotabaya untuk bersujud dengan bermartabat
sudah lama berlalu" kata pemimpin mahasiswa Wasantha Mudalige kepada
wartawan. "Sekarang kita harus mengusirnya" tambahnya
Polisi menangkap sebanyak 21 aktivis mahasiswa yang memblokir semua gerbang ke gedung sekretariat presiden saat menyatakan Senin, ulang tahun ke-73 Rajapaksa sebagai "hari berkabung" bagi bangsa.
Sri Lanka gagal membayar utangnya pada bulan April lalu dan pergi ke IMF yang telah meminta Kolombo untuk menaikkan pajak dan merestrukturisasi perusahaan negara yang merugi.
Pertemuan dengan Menteri Dalam Negeri Australia
Kantor Wickremesinghe mengatakan dia bertemu dengan Menteri
Dalam Negeri Australia Clare O'Neil untuk memperdalam kerja sama dan membantu
Sri Lanka karena negara itu sedang menghadapi masa ekonomi yang sangat sulit.
"Kami tidak hanya ingin membantu rakyat Sri Lanka pada saat dibutuhkan, ada juga konsekuensi yang lebih dalam bagi kawasan jika krisis ini berlanjut," kata menteri luar negeri Australia Penny Wong dalam sebuah pernyataan.
Upaya Tanggap Darurat dari PBB
Pada pekan lalu, PBB meluncurkan upaya tanggap darurat untuk
memberi makan ribuan wanita hamil yang menghadapi kekurangan makanan di Sri
Lanka.
“Empat dari lima orang di negara itu mulai melewatkan makan
karena mereka tidak mampu membayar harga makanan yang tinggi” kata PBB. Hal tersebut
memperingatkan krisis kemanusiaan mengerikan yang menjulang dengan jutaan orang
yang membutuhkan bantuan.
Trending
Trending
Trending
Trending
Ekonomi
05 April 2026 - 21:19 wib
05 April 2026 - 18:33 wib
05 April 2026 - 16:22 wib
05 April 2026 - 09:13 wib
05 April 2026 - 09:11 wib