Sagu punya karakter mirip terigu, tapi bebas gluten, sehingga lebih sehat dan bergizi karena kaya serat
SIAPBELAJAR.COM - World Instant Noodles Association pada
2020 menempatkan Indonesia sebagai negara kedua terbanyak di dunia dalam hal
konsumsi mie. Tak kurang 12,64 miliar bungkus dalam setahun dikonsumsi masyarakatnya. Walau demikian, masih lebih banyak tingkat konsumsi mie pada masyarakat Tiongkok dan Hong Kong yang menyentuh 46,35
miliar bungkus.
Namun, sampai hari ini bahan baku pembuatan mie, yaitu gandum, masih diimpor.
Optimalisasi Riset Bahan Pangan
Data Kementerian Perdagangan menyebutkan, impor gandum baik
dalam bentuk bulir atau tepung (meslin) sepanjang 2019 saja sebesar 11,3 juta
ton.
Untuk itu, Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP)
Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) mengoptimalkan riset pengembangan bahan
lokal untuk kebutuhan ketahanan pangan. Penelitian ini juga mencakup
diversifikasi produk pangan dan teknologi pengolahannya.
"Hal ini untuk meningkatkan nilai gizi dan keekonomisan
pangan serta sebagai upaya untuk mengurangi impor gandum," kata Kepala
Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, seperti dikutip dari laman
kominfo, Senin (11/7).
Salah satu yang ingin dikembangkan adalah produk mi instan
berbahan baku pangan lokal seperti jagung, sagu, dan singkong modifikasi atau
mocaf. Mie sagu pada 2018 pernah dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi bersama Perum Bulog.
Memakai merek dagang Sagoo Mee, produk ini merupakan mi sagu pertama di Indonesia yang didistribusikan melalui Pasar Mitra Tani dan mendapat sambutan baik di pasaran.
Baca juga: Krisis Pangan Mengintai, Bagaimana Antisipasi Pemerintah?
Lahan sagu terluas di dunia
Pemilihan bahan baku sagu dikarenakan Indonesia mempunyai
5,43 juta hektare lahan sagu, terluas di dunia. Selain itu nilai plus sagu
karena punya karakter mirip terigu, tapi bebas gluten sehingga lebih sehat dan
bergizi karena kaya serat.
Menurut peneliti teknologi pangan fungsional nabati PRTPP
BRIN R Cecep Erwan, mi dari gandum punya kandungan gluten tinggi dan membuat
teksturnya elastis sehingga dapat diterima oleh pasar.
Hal ini yang menjadi tantangan pihaknya untuk menciptakan
produk sejenis dari bahan lokal dan diterima pasar. Apalagi jika menilik Sagoo
Mee, diklaim bebas gluten, rendah Glycemic Index (GI), non-Genetyc Modified
Organism (GMO), tinggi serat dan rasanya tidak berbeda jauh dengan mi instan
berbahan gandum.
Cecep menyebutkan, telah mengembangkan bahan baku mi dari
umbi suweg (Amorphophallus campanulatus) yang diolah menjadi pati suweg dengan
teknik modifikasi Heat Moisture Treatment (HMT). Lewat metode modifikasi pati
secara fisik dengan cara memberikan perlakuan panas di atas suhu gelatinisasi
yaitu 80--120 derajat Celcius dengan kondisi kadar air terbatas atau di bawah
35 persen.
“Pati suweg diolah dengan teknik modifikasi HMT agar dapat mengubah sifat psikokimia, sifat fungsional, dan karakteristik pasta pati suweg sebagai bahan baku pembuatan mi,” ungkap Cecep.
Seniraga
Saintek
Trending
Trending
Keluarga
16 April 2026 - 14:13 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
16 April 2026 - 14:12 wib
13 April 2026 - 20:43 wib
13 April 2026 - 20:31 wib