Dorong Produksi Jagung, Pemerintah Naikkan KUR Rp460 Triliun

Ayu Muhafilah

Penulis : Ayu Muhafilah

0

0

Ekonomi
1659412179348_1659412188

Produksi jagung nasional saat ini di atas 18 juta ton, melebihi kebutuhan dalam negeri yang hanya 14,7 juta ton

SIAPBELAJAR.COM – Beragam upaya dilakukan Pemerintah dalam meningkatkan produksi jagung di Indonesia. Selain membuka lahan baru, intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, hingga peningkatan pemasaran, juga ada suntikan dana usaha.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan, Pemerintah akan meningkatkan produksi jagung nasional di daerah yang dimintakan baru, yaitu Papua, Papua Barat, NTT (Nusa Tenggara Timur), Maluku, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara dengan total luas lahan 141 ribu hektare dan 86 ribu hektare merupakan lahan baru.

Menurutnya, dengan harga jagung yang mencapai Rp5.000 per kilogram, perlu upaya meningkatkan produksi, termasuk dengan ekstensifikasi lahan yang ada. Salah satu upaya yang dilakukan dalam ekstensifikasi adalah dengan mendorong bibit GMO (hasil rekayasa genetik) ataupun hibrida.

Airlangga menyampaikan, pemerintah mendorong bibit unggul hibrida jagung yang bisa memproduksi antara 10,6 sampai 13,7 juta ton per hektare. “Ada 14 varietas, antara lain; Pertiwi 3F1, Bisi, kemudian ada NK Perkasa, ada Singa, ada Bima, ada Dahsyat, ada P36, dan yang lain. Artinya, hibrida ini berbasis hibrida nasional dan nanti Pak Mentan akan melakukan perubahan terhadap regulasi terkait dengan GMO,” ujarnya usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden, di Istana Merdeka, Senin (1/8).

Selain mendorong untuk pengembangan alat mesin pertanian yang dapat dilakukan dengan menggunakan kredit perbankan, Airlangga mengatakan, Menteri Pertanian akan menyiapkan kelompok tani-kelompok tani untuk bisa mendapatkan kredit untuk usaha kecil dan menengah dari perbankan.

“KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang kemarin Rp373 triliun untuk tahun depan juga kita naikkan menjadi sekitar Rp460 triliun. Jadi, ruangnya cukup besar untuk mendorong ekstensifikasi daripada petani jagung,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, menyampaikan, saat ini Pemerintah sudah tidak mengimpor jagung, kecuali untuk kebutuhan industri. Ia menjelaskan, produksi jagung nasional saat ini berada di atas 18 juta ton, melebihi kebutuhan dalam negeri yang hanya 14,7 juta ton.

“Kita sebenarnya overstock-nya cukup. Tetapi tadi Bapak Menko memberikan penggarisan kebutuhan nasional menjadi sangat penting. Nanti sesudah kita lihat apa-apa yang memang harus dilakukan barulah kita berpikir untuk meningkatkan ke langkah-langkah berikutnya, baik ekspor maupun peningkatan kebutuhan industri dalam negeri,” papar Syahrul. ***

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1776007153684_1776007167

Ekonomi

PHK Capai 8.389 Orang hingga Maret 2026, Jawa Barat Tertinggi

Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan melalui Kementerian Ketenagakerjaan merilis data terbaru terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) nasional hingga Maret 2026. Tercatat sebanyak 8.389 tenaga kerja t
1776006027224_1776006042

Ekonomi

SIL Festival 2026 Serap 1.200 Tenaga Kerja

Surabaya — Kegiatan Surabaya Industrial and Labour (SIL) Festival 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya berhasil menunjukkan dampak signifikan terhadap penguatan ekonomi daerah dan peny
5 Ide Ternak (4)_1707220418

Religi

Serikat Ekonomi Pesantren Monitoring Program Ponpes di Bogor

Mediana.id - Serikat Ekonomi Pesantren (SEP) melakukan kegiatan monitoring program pembangunan sarana prasarana sanitasi dan air bersih di beberapa pondok pesantren (ponpes) di Bogor sejak Senin (5/2)
5 Ide Ternak (1)_1707145133

Ekonomi

5 Ide Ternak yang Bisa Dilakukan di Rumah dengan Cuan Menggiurkan

Mediana.id- Beternak merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan, terutama bagi Anda yang memiliki lahan sempit di rumah. Ada banyak hewan ternak yang bisa Anda pilih, mulai dari unggas, ikan, h
1690427974333_1690428093

Religi

Nazava dan Serikat Ekonomi Pesantren Jalin Kerjasama untuk Kembangkan Usaha Pesantren

Mediana.id - Nazava, sebuah perusahaan sosial yang memproduksi filter air bersertifikat WHO, menjalin kerjasama dengan Serikat Ekonomi Pesantren (SEP), sebuah organisasi yang bertujuan untuk meningkat