Mengenal Kota Ende, Kota Lahirnya Pancasila

Ayu Muhafilah

Penulis : Ayu Muhafilah

0

0

Trending
1654090494073_1654090588

Rumah Pengasingan Bung Karno di Kota Ende

SIAPBELAJAR.COM. Kota Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama ini mungkin hanya dikenal sebagai tempat pengasingan Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, saat masa penjajahan Belanda. Namun, jarang orang yang tahu bahwa Kota Ende juga menjadi tempat lahirnya Pancasila yang dirumuskan oleh Bung Karno saat masa pengasingan tersebut.

Pada saat itu, Bung Karno bersama dengan sang istri, Inggit Garnasih, anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika, serta mertuanya yang bernama Ibu Amsi, diasingkan ke Kota Ende oleh Belanda dari tanggal 14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938.

Dikutip dari laman Kabupaten Ende, Ende merupakan nama sebuah kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ende merupakan Ibu Kota dari Kabupaten Ende. Kota Ende adalah kota transit penghubung bagian barat dan timur Flores. Saat ini, Kota Ende sudah dilengkapi dengan sarana transportasi yang sudah cukup memadai.

Tempat Bung Karno Merenung

Berada di Kota Ende yang menjadi tempat pengasingan membuat Bung Karno berpikir lebih jernih mengenai banyak hal. Mulai dari mempelajari agama Islam lebih dalam, belajar tentang pluralisme, hingga melakukan kegiatan melukis maupun menulis drama pementasan.

Selain itu, Soekarno juga senang merenung selama berjam-jam di sebuah taman di Kota Ende, tepatnya di bawah pohon sukun yang rindang. Buah dari renungan di bawah pohon sukun tersebutlah yang melahirkan tiap butir nilai kehidupan dalam Pancasila yang menjadi dasar negara Republik Indonesia. Itulah yang menjadi alasan mengapa Kota Ende kerap disebut juga sebagai “Kota Pancasila”.

Baca Juga : Kota Ende dan Sejarah Hari Lahir Pancasila

Kini, taman yang dikenal dengan Taman Renungan Bung Karno atau Taman Renungan Pancasila menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Kota Ende. Di sebuah taman yang berlokasi di Kelurahan Rukun Lima ini, terdapat patung Bung Karno sedang duduk merenung di bawah pohon sukun sambil memandang ke arah laut.

Akan tetapi, pohon sukun tersebut bukanlah pohon asli yang selalu menemani Soekarno merenung selama masa pengasingan. Pohon yang dikenal sebagai “Pohon Pancasila” tersebut merupakan pohon sukun yang baru ditanam pada 1981. Sebab, pohon yang asli sudah tumbang sejak 1960.

Rumah Pengasingan Bung Karno

Tidak jauh dari Taman Renungan Pancasila, terdapat juga Rumah Pengasingan Bung Karno, tepatnya berada di Jalan Perwira, Kelurahan Kotaraja, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende. Kondisi rumah yang menjadi tempat tinggal Soekarno selama masa pengasingan tersebut masih terawat sangat baik. Saat mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno, terlihat secara langsung ranjang, lemari, biola, lampu minyak, peralatan masak dan makan, hingga lukisan karya Bung Karno yang dipajang di dinding rumah tersebut.

Tempat Wisata yang Menarik

Selain Taman Renungan Pancasila dan Rumah Pengasingan Bung Karno, Kota Pancasila juga memiliki tempat wisata yang tidak kalah menarik. Salah satunya adalah Danau Kelimutu atau yang kerap dikenal sebagai Danau Tiga Warna.

Baca Juga : Pertama Dalam Sejarah, Peringatan Hari Lahir Pancasila Dilaksanakan di Ende NTT

 Berada di Gunung Kelimutu, Danau Kelimutu memiliki tiga buah danau dengan warna air yang dapat berubah seiring berjalannya waktu. Menurut kepercayaan, setiap warna air dari danau tersebut memiliki makna dan kekuatan alam tersendiri. Pertama, danau berwarna biru (Tiwu Nuwa Muri Koo Fai), dipercaya sebagai tempat berkumpul arwah orang yang meninggal di usia muda. Kedua, air berwarna merah (Tiwu Ata Polo) merupakan tempat berkumpul arwah orang yang berbuat jahat selama hidup. Terakhir, air danau berwarna putih (Tiwu Ata Mbupu) sebagai tempat leluhur yang meninggal saat tua.

Selain Danau Kelimutu, terdapat juga pantai yang tidak jauh dari pusat Kota Ende, yaitu Pantai Mbu’u. Daya tarik Pantai Mbu’u berupa pasir pantai hitam lembut dan pemandangan matahari terbit terbaik dengan latar belakang gunung serta lautan yang eksotis.

Untuk mengenal lebih dalam mengenai budaya di Kota Pancasila, terdapat sebuah Kampung yaitu Kampung Adat Wologai. Konon, usia kampung adat ini lebih dari 800 tahun. Daya tarik dari Kampung Adat Wologai ialah keunikan arsitektur bangunan yang berbentuk kerucut dan eksterior bangunan berupa ukiran yang mengisahkan tentang keseharian masyarakat adat setempat. 

Ende bukan hanya daerah yang sangat bersejarah, tetapi juga memiliki keragaman budaya yang akhirnya mengilhami perenungan Bung Karno dalam merumuskan Pancasila. selain itu, Ende juga dianugerahi keindahan alam yang membuat nya semakin lengkap untuk menyandang sebutan sebagai 'kota pancasila'. 

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1665127821101_1665127828

Saintek

Lingkungan Belajar Harus Merdeka dari Diskriminasi

SIAPBELAJAR.COM - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, menyatakan keprihatinannya atas diskriminasi yang dialami oleh pelajar beragama Kristen di SMAN 2 Depok
1660083889890_1660083913

Saintek

SMPN 39 Padang Sumbar Ubah Sampah Jadi Karya

SIAPBELAJAR.COM - SMP Negeri 39 Padang merupakan salah satu Sekolah Penggerak di Provinsi Sumatra Barat yang berlokasi di pinggir pantai, tepatnya di Pantai Purus, Kota Padang. Sekolah ini berhasil me
1660013709691_1660013721

Saintek

Siswa SMPN 39 Padang Olah Langkitang Jadi Tempat Pesil

SIAPBELAJAR.COM – Bagi banyak orang, sampah hanyalah seonggok barang bekas yang tak mempunyai nilai jual. Tapi tidak bagi orang-orang kreatif. Sampah bisa diolah menjadi satu barang, sehingga berm
Red & White Modern Tutorial Youtube Thumbnail (7)_1657152875

Saintek

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di Satuan Pendidikan

SIAPBELAJAR.COM - Proyek penguatan profil pelajar Pancasila merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Kurikulum Merdeka. Hal ini menjadi penting dilaksanakan dengan alokasi waktu khusus guna member
1656041615057_1656041689

Saintek

Modul Kurikulum Pendidikan Antikorupsi

SIAPBELAJAR.COM -  Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat (Jabar), Dedi Supandi menyerahkan secara simbolis modul kurikulum Pendidikan Antikorupsi kepada Kadisdik Kabupaten Bogor, Juanda D