SIAPBELAJAR.COM - Akhirnya, setelah bertahun-tahun, sekelompok ilmuwan dapat memecahkan misteri evolusi makhluk mikroskopis berduri yang memiliki mulut tapi tidak punya anus berusia 500 juta tahun. Fosil kecil dari bintang laut yang tampak seperti karung ini ditemukan pada tahun 2017.
Saat ditemukan, diperkirakan kemungkinan adalah nenek moyang
manusia paling awal yang sejauh ini diketahui.
Dikutip dari BBC Indonesia, Jumat (19/8/2022), hewan purba
tersebut dikenal dengan nama Saccorhytus coronarius dan sempat ditempatkan ke
dalam kelompok yang disebut deuterostom. Binatang ini diyakini adalah nenek
moyang paling primitif dari kelompok vertebrata, termasuk manusia.
Namun, dalam sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa Saccorhytus seharusnya termasuk dalam kelompok hewan yang sama sekali berbeda.
Kesimpulan Awal
Studi gabungan untuk mengungkap misteri makhluk
mikroskopis tak punya anus ini juga dilakukan peneliti asal China dan Inggris.
Mereka melakukan analisis sinar-X yang sangat rinci terhadap
makhluk tersebut. Para peneliti ini menyimpulkan bahwa makhluk ini termasuk
kelompok yang disebut ecdysozoans, yang diyakini merupakan nenek moyang
laba-laba dan serangga.
Kendati demikian, sumber kebingungan perihal sejarah evolusi
ini adalah tidak adanya anus pada hewan misterius tersebut. "Agak
membingungkan. Kebanyakan binatang dalam kelompok ecdysozoans memiliki anus,
jadi mengapa yang ini tidak?" kata Emily Carlisle, seorang peneliti yang
mempelajari Saccorhytus secara rinci, kepada BBC Radio 4's Inside Science.
Jawaban yang kemudian memancing rasa ingin tahu selanjutnya,
kata Carlisle, adalah bahwa nenek moyang yang lebih awal dari kelompok binatang
ini tidak memiliki anus. Selanjutnya, menurut dia, Saccorhytus berevolusi
setelah itu.
"Bisa jadi dia kehilangan anus selama evolusinya sendiri. Mungkin dia tidak membutuhkannya karena dia hanya bisa duduk di satu tempat dengan satu celah untuk semuanya," ujar Carlisle menjelaskan misteri evolusi makhluk mikroskopis misterius ini.
Belum Terpecahkan
Alasan utama bentuk evolusi makhluk itu, termasuk
reposisi Saccorhytus pada pohon kehidupan Kambrium, agar lubang yang
mengelilingi mulutnya ditafsirkan sebagai pori-pori untuk insang ini merupakan
salah satu keunggulan deuterostom.
Ketika para ilmuwan menggunakan sinar-X yang kuat untuk
memeriksa lebih detail makhluk berukuran 1 Milimeter ini, mereka menyadari
bahwa lubang tersebut sebenarnya adalah pangkal duri yang patah. Para ilmuwan
yang mempelajari fosil-fosil ini mencoba untuk menempatkan setiap hewan di
pohon kehidupan
Cara tersebut memungkinkan mereka membangun gambaran untuk memahami dari mana Saccorhytus berasal dan bagaimana mereka berevolusi.
"Saccorhytus akan hidup di lautan dan sedimen. Duri menahan mereka tetap berada di tempatnya," kata Carlisle, periset yang berbasis di University of Bristol
"Binatang purba
ini, menurut kami, hanya duduk di lokasi itu, di lingkungan yang sangat aneh
dengan banyak hewan yang akan terlihat seperti beberapa makhluk hidup hari ini,
tapi banyak yang tampak benar-benar asing," imbuh Carlisle.
Hingga saat ini, batuan yang mengandung fosil Kambrium ini
masih dipelajari. "Ada begitu banyak yang masih bisa dipelajari tentang
lingkungannya.
Semakin saya mempelajari paleontologi, semakin saya menyadari betapa banyak yang hilang. Dalam hal konteks Saccorhytus dan tempat tinggalnya, kita benar-benar baru melihat puncak gunung esnya," jelas Carlisle.
Saintek
Trending
Keluarga
Share and Care
Saintek
12 April 2026 - 20:13 wib
05 April 2026 - 21:05 wib
05 April 2026 - 16:34 wib
05 April 2026 - 16:33 wib
05 April 2026 - 16:32 wib