A. A. Navis, Satiris Ulung Sarat Penghargaan

Ayu Muhafilah

Penulis : Ayu Muhafilah

0

0

Seniraga
1654930428620_1654930450

Ada banyak penghargaan yang ia dapat. Satu di antaranya Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia pada 2000.

SIAPBELAJAR.COM - Ali Akbar Navis atau lebih dikenal dengan nama A. A. Navis adalah sastrawan asal Padang Panjang, Sumatera Barat, yang telah membuat banyak karya. Satu di antaranya adalah cerpen "Robohnya Surau Kami" yang terbit dalam majalah Kisah tahun 1955.

Dalam cerpen itu ia mengejutkan pembaca sastra Indonesia dengan sindiran yang amat tajam terhadap pelaksanaan kehidupan beragama. Ada juga novel “Kemarau” (1967) yang menggambarkan bagaimana konyolnya manusia dalam menghadapi kemarau panjang.

Baca juga: Festival Loksando 2022 di Kalsel

Karya-karya A. A. Navis membuat berbagai cemoohan terhadap tradisi, takhyul, rendahnya kedudukan perempuan, serta gaya hidup hedonis dengan menghamburkan uang untuk perhelatan sebagai "keharusan sosial". Lantaran itulah ia dijuluki sastrawan satiris ulung.

Membaca Karya Hamka

Sejak usia SD, Navis sudah gemar membaca, sehingga sudah berkenalan dengan filsafat, sejarah Islam, dan cerita-cerita pendek. Namun, waktu itu ia belum mempunyai keinginan untuk menjadi penulis. Dalam benaknya saat itu ingin menjadi pelukis atau pematung.

Tapi setelah membaca cerpen karya Hamka, minat menulisnya muncul. Orang lain bisa, kenapa saya tidak? Begitu yang ada dalam benaknya waktu itu, sehingga ia termotivasi untuk menulis. "Robohnya Surau Kami" adalah cerpen pertamanya yang dipublikasikan dalam majalah Kisah tahun 1955. Karyanya tersebut mendapat respons positif dari pembaca.

Minat pokok Navis yang menjadi tema-tema karya-karyanya berkisar di seputar masalah manusia dan kemanusiaan, seperti penderitaan, kegetiran, kebahagiaan, dan harapan. Setelah “Robohnya Surau Kami”, karya Navis lainnya bermunculan, seperti Bianglala (kumpulan cerpen – 1963), Hujan Panas (kumpulan cerpen – 1964), Kemarau (novel – 1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi (novel – 1970), Dermaga Empat Sekoci (kumpulan sajak – 1975) dan banyak lagi.

Sejumlah penghargaan diraih A.A. Navis. "Robohnya Surau Kami" dinobatkan sebagai cerpen terbaik majalah Kisah tahun 1955. Selain itu, "Saraswati, si Gadis dalam Sunyi" ditetapkan sebagai cerpen remaja terbaik oleh Unesco/Ikapi tahun 1988.

Pada 1970, Navis juga memperoleh penghargaan dari Radio Nederland pada acara sayembara menulis cerpen Kincir Emas atas cerpennya yang berjudul "Jodoh". Lalu pada 1992 ia memperoleh Hadiah Sastra South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand.

Penghargaan lainnya adalah mendapatkan Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2000. Tiga tahun setelah mendapatkan penghargaan itu, A.A. Navis meninggal dunia. Ia menghembuskan napas terakhirnya pada 22 Maret 2003 di Padang. ***

Komentar (0)

komentar terkini

Berita Terkait

1655176688808_1655176711

Seniraga

Gundah Ajip Rosidi Ketika Sastrawan Sunda Kurang Diapresiasi

SIAPBELAJAR.COM - Rabu, 29 Juli 2020, sekitar pukul 22.30 WIB, dunia sastra berduka. Seorang sastrawan kelahiran Cirebon, 31 Januari 1938, meninggal dunia. Dialah Ajip Rosidi, pengarang dan sastrawa
1654930428620_1654930450

Seniraga

A. A. Navis, Satiris Ulung Sarat Penghargaan

SIAPBELAJAR.COM - Ali Akbar Navis atau lebih dikenal dengan nama A. A. Navis adalah sastrawan asal Padang Panjang, Sumatera Barat, yang telah membuat banyak karya. Satu di antaranya adalah cerpen "R