Unik,sejumah Guru Honorer menggelar aksi Fashion Show ala Citayam,Aksi tersebut memperlihatkan kekecewaannya terhadap Gubernur
SIAPBELAJAR.COM - Puluhan guru dari berbagai daerah di Jawa Barat menggeruduk Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, pada Senin 25 Juli 2022, di Kantor Pemmerintah Provinsi Jawa Barat.
Para guru honorer menuntut kejelasan pengangkatan mereka sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Guru honorer tersebut datang dari berbagai SMA sederajat di daerah Jawa Barat yang berupaya memperjelas nasib dan kesejahteraannya.
Mereka resah karena setelah bertahun-tahun mengabdi, menjalani uji kompetensi dan mendapatkan nilai passing grade sesuai standard tak kunjung mendapatkan kejelasan jam mengajar.
Tampak dalam video yang diterima Siapbelajar.com, sejumah guru itu melakukan aksi Catwalk dengan tampilan outfit hitam putih polos, melenggang menyeberangi jalan melalui zebra cross layaknya muda-mudi di Citayam Fashion Week, bedanya sesekali para guru ini membentangkan poster yang menyuarakan keresahan mereka.
“Cukup hubungan yang di-PHP, kuota formasi jangan," bunyi salah satu poster.
Poster linnya tertulis; “Kami mencerdaskan anak bangsa, tapi bagaimana nasib kami dan berikan kami hak untuk mendapatkan SK ASN PPPK”.
Aksi catwalk para guru ini seolah menyindir Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang sempat catwalk di kawasan SCBD di Dukuh Atas, Jakarta Selatan. Namun ia belum menyempatkan diri menemui para pejuang kejelasan nasib itu.
Para guru menyatakan kecewa terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang sudah mereka surati berkali-kali, dengan harapan bisa beraudiensi dengan Gubernur, tetapi tidak juga diberi kepastian dan para guru honorer itu pun memilih menggeruduk Gedung Sate.
Aksi unjuk Rasa
Aksi diawali dengan orasi di gerbang Gedung Sate dan sebagian guru diterimam untuk melakukan audiensi dengan sejumlah perwakilan Pemprov Jawa Barat dari Dinas Pendidikan.
Ketua Guru Lulus Passing Grade (GLPG) P3K Pusat, Iswadi menyampaikan bahwa audiensi hanya diwakilkan, Gubernur tidak bisa hadir, padahal mereka ingin bertemu dan telah menunggu sejak lama.
Aksi diikuti sekitar 72 guru honorer yang tergabung dalam Guru Lulus Passing Grade (GLPG) P3K. Mereka datang dari berbagai kota seperti Bandung, Cimahi, Subang, Kuningan, Garut, Tasikmalaya, Bogor, Majalengka, Sukabumi, Bekasi, Ciamis, dan lain-lain.
Dari 10.397 guru honorer di Jabar, hanya 6.525 yang sudah mendapatkan jatah jam mengajar tersebut. Sedangkan 3.972 guru honorer masih belum dapat kejelasan meski sudah menjalani uji kopetensi.
Koordinator guru honorer Jabar Hendri Lesmana mengatakan, jumlah guru honorer di Jabar yang belum diangkat menjadi PPPK, terbesar di Indonesia. Dari total guru honorer di Indonesia yang belum di angkat PPK, Jabar menyumbang 20 persen.
"Jawa Barat menjadi penyumbang terbesar jumlah guru honorer yang dikeranjangkan (belum diangkat PPPK) secara nasional, sebesar 20 persen. Selain itu, banyak guru juga yang berhenti dan keluar dikarenakan status mereka belum jelas," kata koordinator guru honorer Jabar.
Melalui aksi unjuk rasa ini, ujar Hendri Lesmana, para guru meminta Pemprov Jabar tidak memangkas kuota PPPK bagi guru honorer. Para guru honorer juga meminta agar diberi payung hukum yang sudah tergeser dari sekolah induknya.
Mereka menuntut Pemprov Jawa Barat untuk menempatkan dan memberikan SK ASN P3K.
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2022 menjadi landasan mereka melakkukan penuntutan. Peraturan tersebut berbunyi bahwa guru yang lulus passing grade P3K, baik tes tahap satu atau dua, harus diprioritaskan.
Berdasarkan hasil audiensi, Pemprov Jawa Barat memberikan alasan bahwa guru honorer yang belum terakomodasi disebabkan oleh kendala anggaran.
Guru honorer ada yang telah bekerja selama 30 tahun namun belum mendapatkan kejelasan status. Sedangkan penempatan formasi dan pemberian SK ASN dianggap penting untuk kejelasan kerja dan peningkatan kesejahteraan guru.
Penempatan formasi dan pemberian SK ASN itu dianggap penting untuk kejelasan kerja dan peningkatan kesejahteraan guru. Disampaikan, banyak guru honorer yang sudah berpuluh tahun belum mendapatkan kejelasan status. Di antara yang turut aksi, ada guru honorer yang bekerja selama 30 tahun.
Trending
Trending
Trending
Keluarga
Trending
05 April 2026 - 21:19 wib
05 April 2026 - 18:33 wib
05 April 2026 - 16:22 wib
05 April 2026 - 09:13 wib
05 April 2026 - 09:11 wib