SIAPBELAJAR.COM - Amazon
dan Apple mencatat penjualan yang lebih baik dari yang diperkirakan, sehingga
mereka dapat meyakinkan investor bahwa perusahaan raksasa teknologi ini akan
mampu mengatasi perlambatan ekonomi global.
Amazon memperkirakan bahwa
dalam pembaruan perdagangannya, biaya yang lebih tinggi untuk keanggotaan
Prime-nya akan meningkatkan labanya, sementara Apple mengatakan bahwa permintaan
untuk semua iPhone tetap kuat.
Kedua perusahaan
mengatakan bahwa mereka membuat kemajuan dalam mengendalikan biaya operasional
meskipun harga naik dengan cepat.
Pembaruan triwulanan dari Apple dan Amazon diawasi ketat sebagai indikator bagaimana pelanggan akan bereaksi terhadap krisis ekonomi.
Penyusutan Ekonomi Amerika Serikat
Pada hari Kamis, angka
resmi mengungkapkan bahwa ekonomi Amerika Serikat menyusut untuk kuartal kedua secara
berturut-turut. Jika hal ini terjadi di banyak negara, maka hal tersebut akan
dianggap sebagai resesi ekonomi. Namun hal tersebut tidak berlaku di Amerika
Serikat yang menggunakan data tambahan untuk membuat negaranya mengalami resesi
itu.
“Hasil kuartal Juni terus
menunjukkan kemampuan kami untuk mengelola bisnis kami secara efektif meskipun
lingkungan operasi menantang” kata Chief Operating
Officer Apple, Luca Maestri.
Ia juga menambahkan bahwa
perusahaan memperkirakan pertumbuhannya akan meningkat lagi di bulan-bulan
mendatang.
Penurunan Laba Apple dan Amazon
Meski demikian, kedua perusahaan telah melihat pertumbuhan penjualan yang melambat tajam dari tahun lalu dan mengalami penurunan laba.
Laba Apple turun hampir
11% dari tahun lalu menjadi $19,4 miliar atau sekitar Rp 288 triliun karena perusahaan
bergelut dengan lockdown Covid-19 di
China. Sementara Amazon kehilangan $2 miliar karena terpukul oleh perubahan
nilai investasinya di pembuat mobil listrik Rivian
Automotive.
Bos Apple, Tim Cook
mengatakan bahwa perusahaan melihat sinyal ekonomi campuran dengan permintaan
iPhone yang tetap stabil, tetapi area seperti iklan digital telah mengalami
penurunan.
"Jika Anda
memikirkan jumlah tantangan di kuartal ini, kami merasa sangat senang dengan
pertumbuhan yang kami lakukan" kata dia.
Meningkatnya Penjualan dan Pendapatan
Secara keseluruhan,
penjualan produk dan layanan Apple naik 2% year-on-year
antara April dan Juni menjadi $83 miliar atau sekitar Rp 1,2 kuadriliun.
Penjualan iPhone terus memperkuat keuntungan perusahaan.
Bisnis layanannya, yang mencakup Apple Pay dan layanan streaming musik dan televise juga tumbuh sebesar 12%.
Sementara itu, Amazon
mengatakan bahwa pendapatannya naik 7% menjadi $121,2 miliar atau sekitar Rp
1,8 kuadriliun, meskipun bisnis e-commerce
turun dalam beberapa bulan terakhir. Penjualan online menyusut sebesar 4%, pada kuartal kedua, berturut-turut
mengalami penurunan.
Namun perusahaan terus
terlindung oleh kekuatan divisi clouding
computing Amazon Web Service (AWS) yang mencatatkan penjualannya melonjak
sebesar 33%.
Ketakutan Para Investor Amazon
Pada musim semi, para
investor Amazon merasa ketakutan karena penjualan online-nya melunak dan memperingatkan bahwa mereka telah
menghabiskan terlalu banyak uang untuk menyewa serta menambah gudang dengan
taruhan bahwa pola belanja era pandemi akan terus berlanjut.
Tapi kali ini perusahaan
telah memberikan pandangan yang lebih optimis.
“Meskipun tekanan
inflasi berkelanjutan dalam biaya bahan bakar, energi, dan transportasi, kami
membuat kemajuan pada biaya yang lebih terkendali yang kami rujuk pada kuartal
terakhir, terutama meningkatkan produktivitas jaringan pemenuhan kami” kata Kepala
Eksekutif, Andy Jassy.
“Apple dan Amazon
terlalu besar untuk tidak terpengaruh oleh tanda-tanda perlambatan ekonomi
global” kata Scott Kessler selaku Pemimpin Sektor Global di Third Bridge.
Tetapi ukuran perusahaan
memberikan mereka kekuatan yang unik untuk mengontrol tantangan-tantangan itu,
terutama dalam hal menegosiasikan harga.
Ekonomi
Saintek
Trending
Ekonomi
Trending
05 April 2026 - 21:19 wib
05 April 2026 - 18:33 wib
05 April 2026 - 16:22 wib
05 April 2026 - 09:13 wib
05 April 2026 - 09:11 wib